Menuju konten utama

Jika di Jakarta Ada Ahok, di Sarajevo Ada Ivo Komsic

Jika di Jakarta ada Ahok, Sarajevo juga punya sosok pemimpin yang tak kalah menarik. Inilah Ivo Komsic, orang non-muslim pertama yang menjadi Walikota Sarajevo setelah kemerdekaan Bosnia.

Jika di Jakarta Ada Ahok, di Sarajevo Ada Ivo Komsic
Ivo Komsic, Walikota Sarajevo. FOTO/http://gradonacelniksarajeva.ba

tirto.id - Sarajevo menorehkan sejarah baru sejak 27 Maret 2013 seiring terpilihnya Ivo Komsic sebagai walikota di ibukota sekaligus kota terbesar di Bosnia-Herzegovina itu. Menariknya, orang ini muncul dari kalangan minoritas di Sarajevo yang didominasi oleh warga muslim. Komsic adalah penganut Katolik Roma.

Tak hanya seorang Nasrani. Komsic juga pernah lekat dengan aroma kiri. Ia mengawali karier politiknya pada 1991 bersama League of Communists, partai politik beraliran merah terbesar di Bosnia-Herzegovina yang sebelumnya menginduk pada wadah bernama serupa di Yugoslavia sebelum terjadi perang saudara.

Menjadi hal yang cukup menarik perhatian manakala ada seorang non-muslim, yang memiliki jejak rekam ideologi komunis, menjadi orang nomor satu di Sarajevo. Kota ini pernah bersimbah darah karena konflik antar-etnis yang juga melibatkan perbedaan keyakinan antara dua agama yang sejatinya masih serumpun.

Jejak Berdarah di Jantung Balkan

Suasana Sarajevo mencekam pada 5 April 1992. Salah satu jantung peradaban Balkan tersebut dikepung oleh pasukan rakyat dari etnis Serbia. Kala itu, Republik Federal-Sosialis Yugoslavia masih berdiri, negara besar di Eropa Tenggara yang membawahi Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Slovenia, Kroasia, Makedonia, Albania, serta Kosovo dan Vojvodina.

Pemetaan Yugoslavia paling mudah didasarkan pada identifikasi suku bangsa yang juga merujuk pada agama mayoritas masing-masing etnis tersebut. Bosnia dan Albania, misalnya, dilekatkan dengan Islam yang didapat dari pengaruh Turki Usmani. Adapun etnis Serbia, Montenegro, dan Makedonia, adalah penganut Katolik Ortodoks, sedangkan Katolik Roma menjadi agama orang Kroasia dan Slovenia. Ajaran Nasrani di Balkan datang dari Kekaisaran Romawi.

Dikepungnya Sarajevo sejak 5 April 1992 yang berlangsung 1.470 hari merupakan aksi pengepungan terlama setelah peristiwa sejenis di Leningrad, Uni Soviet, pada Perang Dunia II. Tak hanya Serbia dan Bosnia, perang saudara ini juga melibatkan etnis lain di Yugoslavia, yakni Kroasia.

Umat Islam dari berbagai negara, termasuk jutaan muslim di Indonesia, mengecam aksi agresif orang-orang Serbia terhadap etnis Bosnia kala itu. Pemerintah Indonesia pun menyikapi konflik Serbia-Bosnia dengan sangat serius. Presiden Soeharto saat itu bahkan datang langsung ke Sarajevo. Kedatangan Soeharto yang sarat risiko pada 1995 tersebut disambut langsung oleh Presiden Bosnia-Herzegovina, Alija Izetbegovic.

Setahun sebelum pecahnya perang saudara pada 1992, sensus pemerintah Yugoslavia pada 1991 menyebutkan bahwa negara bagian Bosnia-Herzegovina oleh 4.377.000 orang. Selama terjadinya konflik berdarah hingga 1995, tercatat puluhan ribu warga Sarajevo tewas, termasuk 1.621 bayi dan anak-anak di bawah usia 14 tahun.

Setelah perang resmi dinyatakan usai pada 29 Februari 1996, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa populasi penduduk Bosnia-Herzegovina mengalami penurunan menjadi 3.920.000 jiwa.

Infografik Komsic

Bangkitnya Pluralisme di Sarajevo

Bukan tanpa alasan Sarajevo disebut sebagai Yerusalem-nya Eropa. Kota ini merupakan satu-satunya tempat di Eropa yang menyajikan keindahan kemajemukan dalam beragama. Setidaknya sampai abad ke-20, di Sarajevo dapat ditemukan masjid, gereja, dan sinagog, yang didirikan secara berdampingan.

Ivo Komsic sebenarnya bukan satu-satunya walikota non-muslim pertama yang pernah memimpin Sarajevo. Sebelum terjadinya perang saudara Serbia-Bosnia pada 1992, kota sudah eksis sejak pertengahan abad ke-17 ini pernah dipimpin oleh orang-orang yang berasal dari etnis atau agama minoritas.

Walikota pertama Sarajevo adalah Mustafa Fadilpasic, seorang Islam-Sunni yang memerintah pada 22 Agustus 1878 hingga 1 April 1892. Tokoh dari kalangan muslim masih memimpin kota ini sampai walikota ke-5, yakni Fehim Curcic (1910-1915). Baru setelah itu, Sarajevo memiliki pemimpin non-muslim pertama bernama Aristotel Petrovic untuk periode Desember 1918 hingga November 1920. Ia beragama Katolik Ortodoks.

Sarajevo juga pernah dipimpin oleh orang ateis, bahkan dua periode berturut-turut, yaitu Ljubomir Kojo (1955-1962) yang dilanjutkan oleh Vasilije Radic (1963-1965). Awal era 1980-an, giliran orang Yahudi yang terpilih sebagai Walikota Sarajevo ke-27 yang berkuasa pada 1981 hingga 1983.

Lahirnya bibit-bibit polemik sejak awal abad ke-20 yang memunculkan Bosnia-Herzegovina sebagai negara merdeka, juga berujung pada musnahnya Yugoslavia akibat terpecah-belah, kehidupan majemuk di Sarajevo yang kala itu memang menjadi representasi kemenangan etnis muslim Bosnia seakan-akan turut meredup.

Dari 1990 sampai 23 warsa berikutnya, Sarajevo selalu dipimpin oleh walikota dari kalangan Islam meskipun mengusung idealisme politik yang berbeda, dari Muhamed Kresevljakovic, Tarik Kupusovic, Rasim Gacanovic, Muhidin Hamamdzic, Semiha Borovac, hingga Alija Behmen.

Aksi Komsic Mengubur Konflik

Sejak 27 Maret 2013, Ivo Komsic mulai menjalankan tugasnya sebagai Walikota Sarajevo. Ia adalah orang non-muslim pertama yang dipercaya untuk memimpin Sarajevo setelah dideklarasikannya Bosnia-Herzegovina sebagai negara yang berdiri sendiri dan berdaulat penuh pada 1992 kendati masih didera konflik hingga akhir 1995.

Sebenarnya bukan pekerjaan mudah bagi Komsic untuk tampil sebagai pemimpin di tengah-tengah komunitas muslim yang sangat besar di Sarajevo. Data terbaru per Juli 2016 menyebutkan bahwa lebih dari setengah penduduk Bosnia-Herzegovina dengan jumlah 3.861.912 jiwa memeluk agama Islam yang hampir seluruhnya berasal dari etnis Bosnia.

Komsic berasal dari etnis Kroasia yang memeluk Katolik Roma, agama yang hanya menempati peringkat ketiga terbesar di Bosnia-Herzegovina yakni 15,43 persen. Jumlah penganut ajaran yang dibawa oleh Kekaisaran Romawi Timur ini bahkan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan umat Katolik Ortodoks di Bosnia-Herzegovina yang berada di posisi kedua setelah Islam dengan 30,78 persen.

Terpilihnya Komsic sebagai Walikota Sarajevo juga menjadi kejutan tersendiri. Tak hanya berasal dari agama minoritas, etnisnya pun merupakan suku bangsa kecil di Bosnia-Herzegovina jika dibandingkan dengan etnis Bosnia dan Serbia. Dalam hal ini, Komsic persis Ahok, kristiani peranakan Cina yang memimpin 10.075.310 rakyat Jakarta dengan 85,36 persen di antaranya adalah muslim.

Sejak masa perang saudara di Yugoslavia pada awal abad ke-20, Komsic sudah dikenal sebagai pejuang kemanusiaan sekaligus seorang politisi moderat. Ia adalah salah satu tokoh kunci Perjanjian Dalton pada November 1995 yang merumuskan kesepakatan damai antara Serbia, Bosnia-Herzegovina, dan Kroasia, demi mengakhiri perang.

Setelah menjabat sebagai walikota, Komsic berupaya keras mengubur dalam-dalam ingatan tentang perang saudara yang pernah membuat Sarajevo terpuruk dan berusaha agar konflik antar-etnis maupun agama tidak pernah lagi terjadi meskipun ia datang dari kalangan minoritas.

Salah satu cara yang dilakukannya tentu saja dengan mendekatkan diri dan memberikan dukungan kepada umat muslim, tidak hanya di Sarajevo tetapi juga bagi orang-orang Islam di berbagai negara yang masih tertindas dan berjuang untuk mendapatkan keadilan.

Pada November 2014, misalnya, Komsic mempelopori dukungan untuk rakyat Palestina yang menjadi korban pengeboman Israel. Di bawah komandonya, Sarajevo memberikan bantuan penyediaan aliran listrik untuk warga Palestina di Jalur Gaza yang kala itu luluh-lantak akibat serangan Israel. Tak hanya itu, Komsic bersama 3 walikota di Bosnia-Herzegovina lainnya juga menyumbangkan uang sebesar 25.000 US dollar.

“Bantuan ini ditujukan untuk keluarga yang menderita kerusakan parah karena pemboman Israel di Gaza. Rakyat Sarajevo sangat mengerti apa itu solidaritas. Kami pernah mengalami pemboman selama lebih dari 1.470 hari di masa perang dulu sehingga kami tahu artinya hidup di dalam kegelapan,” sebut Komsic saat itu.

Yang terbaru, Komsic menyatakan rasa tidak puasnya atas vonis hukuman penjara selama 40 tahun yang dijatuhkan kepada Radovan Karadzic, aktor utama aksi genosida yang menewaskan 12.000 lebih warga muslim semasa perang saudara Serbia-Bosnia. Menurut Komsic, apa yang dilakukan Karadzic di Sarajevo saja sudah pantas diganjar dengan hukuman seumur hidup, apalagi aksi kejamnya di seluruh wilayah Yugoslavia ketika itu.

Tampilnya Ivo Komsic sebagai walikota ke-38 sekaligus pemimpin non-muslim Sarajevo pertama sejak berdirinya negara Bosnia-Herzegovina boleh dibilang menjadi indikasi kebangkitan pluralisme di kota berpenduduk lebih dari setengah juta jiwa itu. Bersama Komsic, Sarajevo kembali beranjak ke arah khittah-nya sebagai Yerusalem-nya Eropa yang memang seharusnya menaungi keberagaman termasuk dalam kehidupan beragama.

Baca juga artikel terkait IVO KOMSIC atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS