Jejak Ananda Badudu: dari Banda Neira dan Terjun di Gerakan Sosial

Penulis: Alexander Haryanto, tirto.id - 27 Sep 2019 19:11 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Ananda Badudu diperksa di Polda Metro Jaya sebagai saksi penggalangan dana untuk demonstrasi mahasiswa.
tirto.id - Kabar penangkapan musisi sekaligus jurnalis Ananda Badudu hari ini menjadi viral di berbagai tempat, isu ini bahkan menjadi trending di mesin pencari Google dan Twiiter.

Melalui akun Twitternya, Ananda mengatakan: "Saya dijemput polda karena mentransfer sejumlah dana pada mahasiswa," kata Ananda, pada pukul 04.34 WIB. Setelah itu dia mencuit kembali. "Saya dijemput polda," lanjutnya.

Ananda mengatakan, ia diperksa di Polda Metro Jaya dalam kapasitasnya sebagai saksi penggalangan dana untuk demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil lain di depan Gedung DPR-RI beberapa hari lalu.

Ananda adalah orang kesekian yang dimintai keterangan oleh polisi terkait aksi. Sebelum Ananda, polisi sudah menangkapi nyaris 100 mahasiswa. Beberapa di antaranya sudah dipulangkan, tapi ada pula yang masih ditahan. Saat dimintai keterangan, Ananda melihat para mahasiswa yang masih ditahan itu dan dia sedih.

"Saya salah satu orang yang beruntung punya privilege untuk bisa segera dibebaskan. Tapi di dalam saya lihat banyak sekali mahasiswa yang diproses tanpa pendampingan; diproses dengan cara-cara tidak etis. Mereka butuh pertolongan lebih dari saya," kata Ananda.

Sejarah Banda Neira

Ananda Badudu mulanya dikenal sebagai salah satu personel Banda Neira, kelompok musik yang ia dirikan bersama Rara Sekar, sebelum akhirnya memilih bubar. Dikutip dari blog Banda Neira, Ananda dan Rara bilang bahwa Banda Neira adalah proyek iseng mereka.

Sebelum Rara yang awalnya di Jakarta pindah ke Bali, Ananda dan sahabatnya itu merekam empat lagu di sela-sela pulang kerja, seperti lagu Di Atas Kapal Kertas, Ke Entah Berantah, Kau Keluhkan, dan Rindu (musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo).

Ternyata, lagu yang mereka unggah di Soundcloud itu menemukan pendengarnya dan mendapat respons baik. "Ekspektasi yang rendah-atau malah tidak ada ekspektasi sama sekali-justru jadi keberuntungan bagi Banda Neira," tulis mereka.

Karena respons yang baik itu, Ananda dan Rara memutuskan untuk melanjutkan proyek iseng itu pada 2012. Kala itu, Ananda adalah wartawan di koran harian Tempo, ia adalah alumni Universitas Katolik Parahyangan jurusan Hubungan Internasional. Sewaktu kuliah, Ananda juga aktif di UKM Media Parahyangan (MP) dan sempat menjadi Pemimpin Umumnya.

Media Parahyangan, kata Rara, "punya citra yang cukup unik karena sering dicap gerakan ‘kiri’, aktivis garis keras, pemikir-pemikir berat, juga manusia-manusia yang kalau galau bacanya Marxisme atau Marheinisme." Semasa kuliah, Ananda juga tidak lepas dari cap-cap tersebut.

Di Media Parahyangan ini pula, Ananda bertemu dengan Rara Sekar yang tak lain adalah adik kelasnya, sebab Rara ikut mendaftar sebagai anggota Media Parahyangan. Ananda dan Rara sama-sama penggemar buku The Little Prince.


Menurut Rara, Ananda adalah penulis yang baik dan pandai merangkai kata-kata, "Ananda sepertinya cuma butuh beberapa menit untuk bengong dan merangkai paragraf, sedangkan aku (atau orang biasa pada umumnya) bisa butuh seminggu."

Sementara Rara Sekar pernah menjadi tenaga magang di Kontras, LSM pembela korban penghilangan paksa dan korban kekerasan bentukan almarhum Munir. Rara juga pernah menjadi peserta pelatihan Sekolah Hak Azasi Manusia (Sehama) yang diinisiasi Kontras dan pernah bekerja di Kopernik.

Nama Banda Neira sendiri diambil dari nama pulau yang berada di Maluku, bagian Timur Indonesia. Tempat ini pernah menjadi tempat Belanda membuang beberapa pejuang seperti Sjahrir dan Hatta.

Semasa di sana, Sjahrir banyak menulis cerita menarik dari Banda Neira, terutama tentang keindahan pulau dan masyarakatnya yang menarik. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulis Sjahrir di awal Juni 1936. Dari pulau dan cerita inilah nama Banda Neira diambil.

Sepanjang berkarir selama empat tahun dan bubar di tahun 2016, Banda Neira telah menelurkan dua album: Di Paruh Waktu (2013) dan pada 2016 merilis album Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti.

Turun ke Gerakan Sosial


Sebelum demo besar-besar mahasiswa digelar di DPR, Ananda sudah berinisiatif menggalang dana publik untuk aksi pada 23 dan 24 September 2019. Ia membuat donasi di platform crowdfunding kitabisa.com dengan target donasi Rp50juta.

Sumbangan donasi melonjak melebihi target menjadi Rp175 juta selama empat hari terakhir. Uang itu lantas digunakan untuk menyewa 20 ambulans serta tenaga medis, pembelian air dan konsumsi untuk para mahasiswa.

“Aku memang bikin donasi di kitabisa.com untuk membantu aksi mahasiswa. Ini untuk kebutuhan sewa ambulans, konsumsi. Enggak kepikiran juga jadi banyak sekali yang mau ikut menyumbang,” kata Ananda kepada Tirto.

Ananda mengunggah laporan penggunaan dana via akun Twitter dia. Bukti pembayaran berupa nota atau kuitansi tulis tangan dilampirkan. Sampai Rabu kemarin, 25 September, sisa uang tinggal sekitar Rp40 jutaan.

Penggalangan dana ini hanya satu bagian dari banyak hal yang dikerjakan oleh Ananda. Ia bersama teman-temannya menggunakan Twitter untuk berbagi informasi terkait aksi mahasiswa.

Dari lokasi aman, titik jemput ambulans, pengiriman air dan obat-obatan, hingga informasi orang hilang. Sayangnya, aksi kemanusiaan yang digalang oleh Ananda ini seperti dihalang-halangi.


Ia pun diperiksa oleh Polda Metro Jaya sebagai saksi penggalangan dana untuk demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil lain di depan Gedung DPR-RI beberapa hari lalu.

Setelah kabar penangkapanya tersiar, meskipun Ananda tidak ditahan. Kawan lamanya, Rara Sekar langsung bergerak dan membuat petisi Bebaskan Ananda Badudu di change.org.

Hingga berita ini ditulis, jumlah penandatangan di situs itu telah ditandangani oleh 89.354 orang. Dalam keterangan di situs itu, Rara Sekar, yang tak lain adalah kakak penyanyi Isyana Sarasvati itu menulis:

Nama saya Rara Sekar. Mungkin teman-teman pernah mendengar suara saya sebelumnya, dalam lagu ataupun sebuah pertunjukkan. Namun kali ini saya ingin teman-teman mendengarkan suara saya yang lain, yang saya rasa lebih penting dari apapun untuk saat ini. Saya mohon sekali perhatian teman-teman sebab pagi ini saya dibangunkan berita yang mengagetkan.

Teman dekat saya, Ananda Badudu, pagi ini ditangkap oleh pihak kepolisian. Salah satu alasannya karena membantu mengumpulkan dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk mendukung aksi demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil pada 23-24 September 2019 lalu. Berikut kronologi singkat penangkapan teman saya, Ananda, pada Jumat 27 September 2019 jam 04.28 WIB.


Baca juga artikel terkait ANANDA BADUDU atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH

DarkLight