Misbar

Bisakah Mengejar Cinta yang Paripurna, seperti di Film-Film?

Kontributor: Jonathan Manullang, tirto.id - 8 Des 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Cukup aman untuk menobatkan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Mengusung teknik dan estetika yang bernas.
tirto.id - Menurut sesepuh sinefil, film yang bagus adalah film yang membuatmu terus berpikir tentangnya hingga jauh sesudah kamu selesai menontonnya. Pesan itu banyak benarnya. Lalu, menurut sekelompok film buff yang lain, sineas yang jarang menelurkan sebuah karya biasanya berpotensi lebih tinggi untuk menghasilkan film istimewa yang bakal diingat lama oleh penontonnya. Lagi-lagi, ini cukup tepat.

Saya menemukan perpaduan apik dari kedua faktor tersebut dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Pembesutnya, Yandy Laurens, hampir sama jarangnya membuat film seperti Ravi Bharwani, sutradara kontemporer misterius yang dianggap legendaris oleh sebagian kalangan.

Premis kisahnya sederhana: apa jadinya bila situasi jatuh cinta menerpa sepasang individu paruh baya yang sedang single? Yandy menjawabnya dengan permainan audio-visual-tekstual yang tampil secara eksplisit di layar dalam beberapa lapisan.

Sistematika filmnya terdiri atas delapan sekuens mengikuti pakem normatif yang menjadi standar umum bagi penulisan skenario di kelas-kelas produksi film. Tak mau kalah, saya memutuskan menulis resensi berikut menggunakan struktur tiga babak yang sangat populer.


Babak I: META

Meta di sini merujuk pada lapisan luar dari konstruksi utama narasi film. Sejujurnya, seluruh bangunan film ini bahkan bersifat meta mulai dari adegan pembuka hingga shot penutup.

Sifat meta pertama terletak pada metode penyajiannya. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film pada dasarnya merupakan sebuah film komedi romantis tentang rancangan cerita film drama romantis yang kemudian difilmkan tapi tanpa sisi romantis sama sekali.


Semua karakter dalam film bukan fiktif sebab manusianya eksis di dunia nyata. Sekelumit episode kehidupan mereka dijiplak sedemikian rupa sebelum dituangkan ke format skenario.

Para protagonisnya, Bagus dan Hana, adalah bentuk referensi mikro nan kocak dari kehidupan nyata para aktor yang memerankan tokoh tersebut. Bagus Rahmat (Ringgo Agus Rahman) dipanggil “Gus”, sementara Hana (Nirina Zubir) dipanggil “Na”.

Interaksi pasangan suami istri yang menjadi sohib Bagus, Cheline (Sheila Dara Aisha) dan Dion (Dion Wiyoko), adalah gag yang sukses membuat terpingkal-pingkal setiap kali mereka berdua memperkenalkan diri.

Perihal formula delapan sekuens yang dijabarkan oleh Bagus kepada Hana yang ingin belajar menulis skenario layar lebar juga merupakan rujukan subtil mengenai komposisi cerita filmnya sendiri.


Yang lebih menarik, delapan sekuens yang disusun Bagus belumlah rampung. Dia menuntaskan skenarionya sembari durasi film berjalan. Dengan kata lain, progresi filmlah yang mendorongnya menyelesaikan kisah orisinil tersebut.

Lapisan luar ini tampaknya bertujuan untuk membuktikan dua hal. Pertama, apakah Bagus terjebak dalam keyakinan pribadinya bahwa medium film dapat membantu seseorang merasakan pengalaman atau menjadi orang lain sepenuhnya. Guna menjelajahi teritori psikologis tersebut, Bagus sampai “memperbantukan” aktor profesional (Dion Wiyoko memerankan Bagus Rahmat serta Julie Estelle menghidupkan Hana).

Ternyata ada beberapa umpan balik yang muncul dari aktor-aktor tersebut sehingga premis yang saya sebut sebelumnya terbukti—walaupun baru secara parsial. Sialnya, seluruh umpan balik terhadap kepribadian karakter Bagus sungguh amat negatif.

Sifat meta kedua terletak pada keputusan Bagus sang penulis untuk mengeksploitasi karakter Bagus dalam tulisannya secara gamblang yang memicu konsekuensi lumayan besar.

Tanpa sadar, Bagus sang penulis mulai mendasarkan segala keputusan menyangkut problematika kehidupan riilnya pada persepsi orang lain atas tindakan-tindakan karakter Bagus dalam skenarionya.

Kedirian empirik Bagus sang penulis tak pelak mengalami transisi menjadi kepribadian karakter Bagus di atas kertas. Andai kata Bagus di kertas bunuh diri, besar kemungkinan Bagus yang menulisnya pun akan melakukan tindakan serupa.

Saya lantas teringat dengan maha karya Ingmar Bergman bertajuk Persona (1960). Seorang individu menghabiskan waktu konfrontatif yang cukup lama secara intim dengan seorang yang lain hingga pada satu titik mereka berdua bertukar jiwa.

Yandy menampilkan ide pertukaran yang mirip. Hanya saja, dia memindahkan versi pertama seseorang yang stuck ke versi kedua dirinya sendiri yang masih bisa berlanjut dalam bentuk “sekuel”.

Maka sah-sah saja bila penonton kemudian memandang Bagus sebagai sosok hipokrit. Dia menyembunyikan ketidakmampuannya menyatakan cinta di balik pretensi “kejutan romantis” tatkala film yang berbasis pada skenarionya tayang kelak.

Lebih lanjut, Bagus menolak mengakui kelemahannya dengan bersikap apologetik. “Romansa ini hanya terjadi di kepala gue,” katanya sebelum membalikkan peluru yang serupa-tapi-tak-sama ke muka Hana.

Mengingat Yandy yang menulis skenario Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, bisa juga timbul pertanyaan iseng nan provokatif: apakah Bagus adalah versi lain dari Yandy? Dan sebagaimana Bagus hiding in plain sight melalui skenarionya, apakah Yandy sedang curhat secara estetik juga lewat filmnya?



Babak II: SINEMA

Demi membedakan semesta film utama dengan kerangka film-dalam-film seturut skenario Bagus yang dipaparkan di hadapan Pak Yoram (Alex Abbad) selaku produser, Yandy mengimplementasikan sebuah pendekatan sederhana.

Sang sutradara menandai lanskap film utama dengan bingkai berwarna dan kerangka film-dalam-film dengan bingkai hitam putih. Kesadaran atas pembedaan tersebut akan membantu penonton mengikuti alur plotnya tanpa merasa tertipu.

Pilihan estetik semacam ini membawa memori saya kembali pada film Panduan Mempersiapkan Perpisahan karya Adriyanto Dewo yang lebih dulu rilis pada kuartal pertama tahun ini di kanal pengalir Bioskop Online.

Dalam filmnya, Dewo memakai dikotomi masa lalu dan masa kini dalam struktur naratifnya yang nonlinear. Namun, dia membalik penanda warna terhadap sepasang periode tersebut. Dia mengimplementasikan desain hitam putih guna merujuk masa kini, serta bingkai berwarna demi menunjukkan peristiwa di masa lalu.

Yandy membawa ihwal pewarnaan ini ke dimensi yang lebih kompleks. Dia menyelipkan kritik atas kegusaran calon investor yang takut bila film yang hendak mereka sponsori ternyata kembali ke era jadul film bisu.

Padahal, esensi dari keputusan membuat film dalam format hitam putih atau berwarna sejatinya jauh lebih dalam dari sekadar urusan komersial. Ada unsur psikologis, alasan politis, hingga sensasi dramatis yang berkelindan di situ.

Sekitar 80 persen durasi Jatuh Cinta Seperti di Film-Film berada dalam bingkai hitam putih. Menurut saya, itu merupakan sebuah pernyataan sinematik sekaligus keputusan kreatif yang amat bernas. Yandy seakan ingin menyatakan bahwa pengalaman romansa orang-orang di usia akhir 30-an sampai awal 40-an bukan lagi pengalaman yang berbunga-bunga serta penuh warna.

Tak sekadar terkait romansa, itu sekaligus dilambari banyak pertimbangan terkait kemapanan, persiapan hari tua, resolusi pragmatis, hingga kesehatan mental yang menjadi prioritas. Jatuh cinta di rentang umur tersebut amat sangat berbeda dibandingkan episode cinta-cintaan ala masa remaja atau dewasa muda.

Kalaupun mereka (kembali) mengalami jatuh cinta, perjalanan romansa orang-orang paruh baya itu kemungkinan besar akan dipenuhi faktor rasionalitas, alih-alih letupan perasaan yang menggebu-gebu.

Dengan demikian, warna hitam putih sangat tepat merepresentasikan fakta empirik mengenai romansa paruh baya. Atas dasar itu pula, skenario Bagus menjadi buntu sebab dia gagal memahami tendensi rasionalitas tersebut.

Di sisi lain, sindiran terhadap gimmick dan/atau set-up sebagai strategi promosi film tersebar di berbagai sekuens. Begitu pula dengan kritik tajam atas kondisi lingkungan kerja di set produksi maupun ekosistem industri film nasional yang tak jarang toxic.

Maka tak berlebihan bila film ini merupakan kado tutup tahun yang manis. Yandy mungkin ingin mengajak kita semua untuk kembali mengalami perasaan seperti ketika jatuh cinta pertama kali dengan seni film.

Menyesap kondisi dan proses pembuatannya, mengapresiasi elemen-elemen inovatif yang terkandung di dalamnya, merayakan produk akhirnya, hingga merasakan kepenuhan batin olehnya.

Lapisan sinematik ini membungkus sifat meta yang telah dibahas pada bagian terdahulu. Hasilnya berupa kemasan audio-visual yang luar biasa sekaligus terasa dekat dengan keseharian kita.



Babak III: PARIPURNA

Jika kita mengimajinasikan jatuh cinta seperti di film-film, apapun genrenya, substansi pengalaman jatuh cinta itu kerap kali bergeser cukup jauh dari realitas. Cita-cita Bagus Rahmat adalah menyatakan cinta kepada pujaan hatinya sejak masa SMA lantas menjalani petualangan super seru bersama sang pujaan hati. Sekali lagi, seperti yang terjadi di film-film.

Namun, akibat ketakutan dan keminderannya, Bagus sampai harus meminjam mulut karakter Hana di atas kertas untuk mengucapkan impian tersebut. Dia mustahil mengharapkan pernyataan verbal meluncur dari Hana di semestanya sebab teman lamanya itu masih berada dalam kondisi berduka pascamenjanda.

Lalu timbul pertanyaan: apakah Bagus memperoleh ending yang dia idam-idamkan persis seperti imajinasinya dalam skenario? Sekuens kedelapan bertajuk “RESOLUSI” menjawab rasa penasaran itu dengan langkah yang tidak terduga.

Bagus yang tadinya penakut dan pengecut dalam perkara cinta kini bertransformasi menjadi pria yang berani bertanggung jawab atas segala keputusan yang tertuang dalam skenarionya di hadapan Hana secara riil.

Setelah Hana tuntas membaca skenario tersebut, kita melihat Bagus terhenyak. Kemarahan Hana tidak seperti yang dia bayangkan. Hal itu lantas membuat Bagus mempertanyakan ulang apakah dia benar-benar memahami kepribadian teman lamanya secara utuh.

Pengembangan karakter dua arah ini sungguh krusial. Bagus akhirnya mengalami proses katarsis, sementara Hana memutarbalikkan persepsi audiens. Tiba saatnya menuntaskan resolusi pamungkas.

Adegan penutup film adalah repetisi dari adegan pembuka film-dalam-film dengan revisi seperlunya. Bila adegan pembuka di atas kertas bernuansa ceria, maka adegan penutup di realitas Bagus bersama Hana merupakan simbol penerimaan yang sangat menyentuh.

Adegan tersebut, hemat saya, akan menjadi salah satu adegan yang terpatri sangat lama dalam khasanah film Indonesia kontemporer. Terutama, bagi segenap insan yang menontonnya.

Di pengujung resensi ini pun, saya belum juga berhenti berpikir tentang Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Ah, gara-gara itu, jadi pengen jatuh cinta melampaui yang ada di film-film.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Jonathan Manullang
(tirto.id - Film)

Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight