Misbar

Pernikahan Dini yang Amat Berjarak dari Realitas

Kontributor: Jonathan Manullang, tirto.id - 2 Des 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Serial web Pernikahan Dini merupakan remake dari film yang rilis pertama kali pada 1987. Gagal mengungkap masalah dan berjarak dari realitas.
tirto.id - Salah satu karya sinematik yang membekas kuat dalam benak penonton Tanah Air adalah Pernikahan Dini (1987). Memori tentangnya terekam jelas selama tiga setengah dekade terakhir.

Setelah kesuksesannya yang pertama, setidaknya terdapat dua remake dari film tersebut. Adaptasi pertama berupa sinetron berjudul serupa yang dibintangi oleh Agnez Mo, Sahrul Gunawan, serta Atalarik Syach.

Rilis sekitar 3 tahun Pascareformasi 1998, sinetron tersebut memotret gaya hidup remaja urban dalam peralihan milenia. Seperti pendahulunya, sinetron ini cukup populer pada masanya. Sinetron ini menyudahi masa tayangnya pada 7 Desember 2002 dalam 78 episode.

Memasuki dekade kedua milenium ketiga ini, kisah Pernikahan Dini kembali menyapa khalayak dalam wajah baru. Dalam medium serial web, adaptasi teranyar ini mengikuti dinamika remaja kontemporer di zaman yang serba digital.

Tiga karya dengan satu judul mengeksplorasi satu topik dari tiga generasi berbeda. Lantas, adakah perbedaan yang menonjol dari Pernikahan Dini yang terkini bila dibandingkan dengan para pendahulunya?


Berjarak dari Realita

Pernikahan di bawah umur merupakan salah satu masalah sosial yang telah cukup lama mendera kehidupan masyarakat kita, khususnya mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah.


Tingkat pendidikan rendah yang berpadu dengan norma religius tradisional tak pelak menghasilkan generasi yang kehilangan kesempatan mengasah daya pikir kritis secara kolektif hingga turun temurun.

Adagium “pernikahan adalah jalan terbaik menuju kebahagiaan hakiki” serta “banyak anak banyak rezeki” masih bercokol begitu kuat di dalam pikiran kelompok masyarakat ini. Bagi mereka, ajaran agama yang menganjurkan pernikahan sesegera mungkin adalah prioritas utama.

Indonesia sebenarnya telah menetapkan batas usia pernikahan. Perubahan terhadap UU Perkawinan Nomor 1/1974 menyatakan syarat minimal usia perkawinan adalah 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan.

Walakin, Pemerintah tetap memberi dispensasi bagi yang ingin menikah sebelum berusia 19 tahun. Syaratnya, mereka wajib memiliki penetapan dispensasi kawin dari pengadilan. Sialnya, masih banyak masyarakat khususnya yang tinggal di area pedesaan keberatan akan syarat dispensasi itu. Maka tidak jarang kita mendapati kasus pernikahan siri remaja.


Data yang dihimpun Fakultas Hukum Universitas Padjajaran menunjukkan bahwa secara nasional 11,2 persen anak perempuan menikah sebelum mencapai 18 tahun pada 2022. 0,5 persen di antaranya bahkan menikah saat berumur 15 tahun.

Data UNICEF memberi gambaran yang lebih miris pada tataran global. Indonesia menduduki peringkat kedua di ASEAN dalam jumlah kasus pernikahan di bawah umur. Indonesia pun menempati urutan kedelapan tertinggi di dunia dengan angka absolut pengantin anak mencapai 1.459.000 kasus.

Pernikahan Dini dengan tema utama yang diusung sejak kemunculan pertamanya pada 1980-an sebenarnya punya kans untuk mengangkat masalah ini. Pembaruan konteks dan pendalaman narasi untuk penonton zaman kini tentunya amat bisa dilakukan.


Sayangnya, serial web Pernikahan Dini justru gagal menangkap peluang untuk menjadi lebih relevan dan berdampak. Para kreatornya gagal mengungkap fakta-fakta empirik terkait pernikahan di bawah umur yang meresahkan itu. Ekosistem ceritanya pun sedari awal telah terjebak pada kehidupan segelintir kaum ekonomi kelas atas.

Dikisahkan bahwa Andini “Dini” Farra Yasmine (Megan Domani) adalah siswi berprestasi dan aktif di sekolahnya. Di luar akademik, dia bergiat sebagai wakil ketua OSIS. Dia sekaligus diceritakan sebagai putri bungsu dari eks preman terpandang di lingkungannya.

Di lain pihak, ada Vincent Chandradinata (Randy Martin) yang seorang anak tunggal dari konglomerat muda ibu kota.

Singkat cerita, Vincent menghamili Dini dan masalah itu lantas menyeret sang ketua OSIS, Rayinda “Rayi” Sapta Anggara (Giulio Parengkuan), anak seorang insinyur terkemuka, ke dalam pusaran kisruh mereka. Drama cinta segitiga pun dimulai.

Karakter-karakter remaja dalam serial ini menempuh pendidikan di sebuah SMA swasta bertaraf internasional. Di sepanjang serial, penonton dapat melihat siswa-siswi yang ke mana-mana menenteng laptop, tablet, hingga ponsel pintar keluaran terbaru.

Mudah saja menebak bahwa mereka pun umumnya datang dari keluarga kaya dan terpandang. SMA bonafide serta rumah dan lingkungan mewah yang dihadirkan serial ini terang amat berjarak dari realitas kebanyakan penontonnya.

Dalam kesehariannya, mereka praktis hidup dalam bubble, tak ubahnya sekumpulan katak dalam tempurung. Gaya hidup nan bebas otomatis menghiasi rutinitas sehingga tatkala terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pendekatan berpikir guna mencari solusi pun kerap bergantung pada faktor kemapanan.

Itu semua bakal membuat penonton sulit percaya pada pergulatan dan kesulitan Vincent dan Dini dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang dibangun dari keterpaksaan. Soalnya terang belaka, kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan keresahan masyarakat—juga anak-anak muda—dari kalangan underprivilege di Indonesia.

Ketika pasangan remaja itu bertekad hidup mandiri, Vincent dengan gampangnya menyewa hunian mewah di perumahan eksklusif. Tatkala Vincent terancam kehabisan tabungan pun, dia lagi-lagi tinggal meminjam 15 juta rupiah ke teman dekatnya yang sehari-hari menyetir mobil sport ke sekolah.


Keputusan untuk menampilkan latar yang kelewat high class macam itu tentu membuatnya makin tidak terkoneksi dengan realitas. Pernikahan prematur Vincent dan Dini pada akhirnya hanya berkutat di seputar urusan psikologis: bagaimana proses Dini menerima Vincent? Ke arah mana hubungan mereka berkembang dari waktu ke waktu? Bagaimana respons Rayi dan teman-teman di sekolah terhadap status dua teman mereka? Hingga, bagaimana mereka berurusan dengan letupan-letupan emosional yang lazim dijumpai pada remaja?

Saya tidak menemukan isu krisis finansial yang serius, atau masalah hunian yang mengganggu, atau isu keterbatasan lapangan pekerjaan bagi seorang pemuda yang hanya bermodalkan ijazah SMP.

Dalam latar yang amat berjarak dari realitas itu, serial ini jelas gagal memaparkan masalah pernikahan usia dini yang sesungguhnya. Kegawatannya pun jadi kabur atau malah hilang. Ia bakal makin kehilangan relevansi jika memperhitungkan bahwa mayoritas remaja di negara ini tak punya privilese seperti Vincent dan Dini.

Ketidakmampuan tim produksi untuk mengontekstualisasikan semesta Pernikahan Dini dengan kenyataan sosial membuatnya nyaris tidak punya poin yang berkesan.

Segala konflik yang tersaji dalam Pernikahan Dini terbaru ini pun hampir tidak mengandung koherensi dengan karya-karya terdahulu. Pasalnya, serial ini tidak berfokus pada kelas menengah biasa dan kelompok ekonomi bawah yang merupakan bagian terbesar dari komposisi masyarakat kita.

Alih-alih, serial web Pernikahan Dini malah rawan memberi “sinyal” yang salah akan fenomena yang diangkatnya. Pasalnya, tatkala karakter-karakternya yang tumbuh dalam bubble ekonomi kelas atas diterpa masalah yang lumayan pelik, serial ini malah menampilkan pilihan solusi yang kesannya malah menggampangkan dengan bersandar pada kemapanan ekonomi keluarga.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Jonathan Manullang
(tirto.id - Film)

Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight