Menuju konten utama

Jalan Terjal Seni Ukir Bali Bertahan di Tengah Gempuran Furnitur

Di tengah gempuran furnitur bergaya minimalis, seni ukir Bali masih tetap eksis dan dilirik masyarakat hingga saat ini.

Jalan Terjal Seni Ukir Bali Bertahan di Tengah Gempuran Furnitur
Pemilik kerajinan bingkai kayu berseni pahat di Desa Kokokan. FOTO/Wayan Sudarsana

tirto.id - Suara bising mesin menggelitik telinga saya usai mendaratkan kaki di Desa Kokokan, Petulu, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di balik bangunan sederhana beratapkan spandek, dua orang pemuda terlihat sibuk menyerut potongan kayu berbentuk persegi.

Kayu-kayu itu dihaluskan dan akan diproses menjadi sebuah kerajinan frame atau bingkai kaca. Di tambah dengan sentuhan ukiran setiap sudut dari tangan-tangan terampil mereka, membuatnya menjadi karya bernilai tinggi.

Di depan bangunan itu, pria bertubuh gempal dengan tas selempang kecil disangkutkan dipundak kirinya, menyambut kedatangan saya dan kawan-kawan. Ia adalah Wayan Sudarsana, selaku pemilik kerajinan bingkai kayu berseni pahat.

"Ini sudah tiga generasi turun menurun. [Saya] generasi ketiga bekerja di sini," ujar Wayan dengan logat Indonesia khas Bali-nya, kepada saya dan kawan-kawan, Jumat (22/2/2024).

Ukiran kayu ini, telah menjadi warisan budaya adat Bali yang kerap diturunkan dari nenek moyang. Hampir kebanyakan masyarakat di Desa Kokokan, telah menggantungkan hidupnya menjadi pengrajin seni.

“Mayoritas orang sini kan pekerjaannya ini juga,” kata dia menambahkan.

Sepanjang mata memandang, tumpukan-tumpukan frame dengan jenis motif yang berbeda menyejukkan mata saya. Barang-barang setengah jadi atau belum melalui proses pengecatan itu, merupakan pesanan dari berbagai wilayah.

Di tengah gempuran furnitur bergaya minimalis, seni ukir Bali masih tetap eksis dan dilirik masyarakat hingga saat ini. Produknya, bahkan telah dinikmati hingga pasar mancanegara.

"[Kami] pengiriman baru Bali, Eropa, dan Amerika," kata pria berusia 43 tahun itu.

kerajinan bingkai kayu

Pemilik kerajinan bingkai kayu berseni pahat di Desa Kokokan. FOTO/Wayan Sudarsana

Seluruh bahan baku frame di tempat Wayan, menggunakan pohon durian yang didatangkan dari Kabupaten Bangli. Jenis pohon ini, selain mengandung serat tinggi juga ukurannya yang terbilang ringan jika dibandingkan kayu jati dan sejenisnya.

Namun, belakangan ia mengaku kesulitan untuk mendapatkan bahan baku tersebut. Selain harus menunggu proses tebang memakan waktu, harga jual per lembar kayu durian sudah mencapai di atas Rp50.000.

“Bahan baku satu batang itu sudah mahal. Satu batang itu Rp55.000. Dari dua batang [misalnya bisa] jadi satu frame. Untuk ukuran size sedang," kata Wayan.

Untuk satu frame sendiri harganya bervariasi. Tergantung dari motif yang diinginkan dan ukuran frame yang di pesan. Untuk ukuran kecil, biasanya dibandrol Rp180.000 belum termasuk kaca dan hanya bentuk frame saja. Sedangkan size sedang dihargai Rp300.000.

"Untuk motif biasanya dia [konsumen] bawa sampel. Kita coba bikin satu. Dia oke, baru kita kerjain," ucap dia.

Dalam sebulan, saat ini Wayan bisa mengantongi Rp40 juta dengan margin keuntungan bersih 25 persen. Dari total pendapatan itu, biaya terbesar ada di bahan baku kayu pohon durian. Sementara sisanya untuk pekerja dan pribadinya. "Tenaga kerja kita ada 10 [di sini]," imbuh dia.

Keluar dari Hantaman Pandemi Covid-19

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya memelototi langit Bali. Keringat Wayan membasahi dahinya. Sesekali ia mengelap dengan tangan kanannya. Posisinya terjaga berdiri tegak melayani pertanyaan-pertanyaan kami.

Rasa penasaran saya muncul, bagaimana Wayan sebagai pemegang generasi ketiga seni ukir di Desa Kokokan bisa bertahan melawan Pandemi Covid-19. Rasa penasaran itu, kemudian saya ajukan.

Wayan agak sedikit menghela napas ketika menjawab penasaran saya dan kawan-kawan. Pandemi, diakuinya membuat usaha dan permintaan produknya jalan di tempat. Hampir bisa dibilang, saat itu usahanya sempat goyang. Ia bahkan terpaksa memangkas 20 orang karyawannya.

“Dulu pegawai saya ada 30, sekarang ada 10," kata dia.

Meski diombang-ambing badai pandemi, Wayan perlahan mulai bangkit. Persoalan modal saat itu menjadi terpenting. Syukurlah ia bisa mengakses pinjaman kepada salah satu entitas BUMN, Bank BRI yang memang sejak 2010 kerap memberikannya pinjaman modal.

"Awal diberi kredit Rp25 juta, seiring tahun pelan-pelan naik ke Rp500 juta, tapi saat pandemi turun jadi Rp200 juta karena modal sudah hampir habis, omzet menurun," cerita Wayan.

Saat ini, ia merasa tenang karena upaya untuk memulihkan usaha bingkainya terbantu oleh entitas BUMN lainnya, yakni Askrindo. Berkat penjaminan pinjaman dari Askrindo, langkah bisnisnya yang meminjam modal uang ratusan juta ke bank, bisa dijalani dengan lebih aman.

“Pinjaman untuk UMKM saya sebenarnya sudah sejak 2018 dijamin oleh Askrindo, jadi saat pinjam modal ke bank ketika pandemi tak punya modal, saya lebih tenang," ujar dia.

kerajinan bingkai kayu

Pemilik kerajinan bingkai kayu berseni pahat di Desa Kokokan. FOTO/Wayan Sudarsana

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Askrindo, Fankar Umran, mengatakan UMKM merupakan salah satu pilar perekonomian bangsa. Askrindo sendiri berkomitmen untuk membantu UMKM.

“Dukungan ini jadi bagian dari ikhtiar kami dalam mendorong dan memberdayakan UMKM supaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fankar.

Ke depannya, kata dia, Askrindo akan terus berkomitmen mendampingi dan membantu UMKM dalam akses permodalan.

“Pada akhirnya, diharapkan UMKM yang telah dibina oleh Askrindo mampu menjadi usaha yang mandiri, kuat, bergengsi, dan stabil dalam mendorong profitabilitas UMKM Indonesia,” ujar dia.

Askrindo sendiri merupakan Anggota Holding Asuransi dan Penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG) juga mendukung pemulihan ekonomi melalui program Penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Penjaminan Kredit Modal Kerja (KMK) dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Askrindo berperan dalam membantu akses permodalan UMKM ke perbankan untuk mendapatkan fasilitas KUR dan fasilitas KMK PEN serta menjamin risiko gagal bayar atas kredit yang akan disalurkan perbankan ke UMKM.

Baca juga artikel terkait UMKM atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz