Menuju konten utama

Israel Mulai Menghancurkan Rumah dan Jembatan Litani di Lebanon

Israel hancurkan jembatan Sungai Litani & ratakan desa Lebanon. Pola penghancuran yang dilakukan di Lebanon serupa dengan yang dilakukan Israel di Gaza.

Israel Mulai Menghancurkan Rumah dan Jembatan Litani di Lebanon
Puing-puing berserakan di jalan saat asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan lingkungan Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut pada 10 Maret 2026. FOTO/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Militer Israel (IDF) secara signifikan meningkatkan intensitas serangannya di Lebanon dengan menargetkan infrastruktur sipil vital. Pada Minggu (22/3/2026), serangan udara menghancurkan jembatan utama di atas Sungai Litani yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah tengah, bersamaan dengan perintah untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah di sepanjang desa perbatasan.

Penghancuran Jembatan dan Isolasi Wilayah Selatan

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa militer telah diinstruksikan untuk menghancurkan seluruh penyeberangan di Sungai Litani. Langkah ini diklaim bertujuan untuk memutus jalur logistik dan pergerakan senjata kelompok Hizbullah ke arah selatan.

"Kami telah menginstruksikan IDF untuk segera menghancurkan semua jembatan di atas Sungai Litani guna mencegah pejuang dan senjata Hizbullah bergerak ke selatan," ujar Katz seperti dikutip dari Reuters.

Serangan pada hari Minggu tersebut menghantam jalur tol pesisir yang melintasi lahan pertanian, rute utama bagi warga sipil dan bantuan kemanusiaan. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras tindakan ini dan menyebutnya sebagai "kebijakan hukuman kolektif" serta persiapan untuk invasi darat secara penuh.

Cara Penghancuran di Gaza Diterapkan juga di Lebanon

Selain infrastruktur jalan, Israel juga mempercepat penghancuran rumah-rumah di "desa-desa garis depan". Katz menjelaskan bahwa pendekatan ini serupa dengan model yang diterapkan di Beit Hanoun dan Rafah, Jalur Gaza, di mana bangunan diratakan untuk menciptakan zona penyangga (buffer zone).

Namun, kebijakan ini memicu peringatan keras dari aktivis kemanusiaan. Ramzi Kaiss, peneliti Lebanon di Human Rights Watch, menyatakan bahwa penghancuran jembatan dan rumah secara massal dapat memicu bencana kemanusiaan.

"Jika wilayah selatan Litani terisolasi, warga sipil tidak akan bisa mengakses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Penghancuran rumah secara grosir adalah kejahatan perang," tegas Kaiss.

Dampak Kemanusiaan yang Terus Meningkat

Eskalasi yang bermula sejak awal Maret ini telah menelan korban jiwa yang besar. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 1.000 orang tewas, termasuk ratusan wanita dan anak-anak, serta puluhan personel medis.

Lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat perintah evakuasi massal dari militer Israel. Sementara itu, pemerintah Lebanon menyatakan telah melarang aktivitas militer Hizbullah dan menyatakan keinginan untuk melakukan pembicaraan langsung demi menghentikan kekerasan, meskipun serangan lintas batas terus berlanjut.

Baca juga artikel terkait AGRESI ISRAEL atau tulisan lainnya dari Rina Nurjanah

tirto.id - Flash News
Reporter: reuters
Penulis: Rina Nurjanah
Editor: Rina Nurjanah