Menuju konten utama
Konflik AS vs Iran

Iran Ungkap Draf Memorandum dengan AS, Ini Isinya

Rancangan kesepakatan tersebut memuat komitmen kedua pihak untuk tidak memulai perang serta tidak mengancam menggunakan kekuatan militer.

Iran Ungkap Draf Memorandum dengan AS, Ini Isinya
Ilustrasi Perang Iran. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan memorandum of understanding (MoU) yang tengah dinegosiasikan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) akan menjadi dasar berakhirnya konflik di seluruh front, termasuk Lebanon, sekaligus membuka jalan bagi pembahasan pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan pengaturan keamanan kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB, pada Jumat (13/6/2026). Menurut dia, dokumen yang dikenal sebagai Islamabad Memorandum of Understanding—mengacu pada ibu kota Pakistan yang berperan sebagai mediator, akan menandai berakhirnya perang yang pecah sejak 28 Februari 2026.

“Berakhirnya perang akan diumumkan di seluruh front, termasuk Lebanon,” kata Araghchi sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan rancangan kesepakatan tersebut memuat komitmen kedua pihak untuk tidak memulai perang, tidak mengancam menggunakan kekuatan militer, serta tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara. Araghchi juga mengatakan kesepakatan itu akan mencakup komitmen timbal balik untuk menghormati kedaulatan masing-masing pihak.

“Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” ujarnya.

Menurut Araghchi, Israel juga harus menarik pasukannya dari wilayah yang didudukinya di Lebanon selatan sebagai bagian dari berakhirnya perang. Posisi tersebut, kata dia, telah disampaikan secara jelas oleh Teheran dalam proses negosiasi.

Ia menegaskan Iran tidak melupakan Lebanon selama konflik berlangsung. Menurutnya, Lebanon dan kelompok Hizbullah yang berbasis di negara itu telah berdiri bersama Iran dan tidak akan ditinggalkan.

Negosiasi Dua Tahap

Araghchi menjelaskan proses perundingan akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penandatanganan memorandum of understanding, sementara tahap kedua berupa negosiasi menuju kesepakatan final. Ia mengatakan isu pencabutan sanksi, pengayaan uranium, cadangan uranium yang telah diperkaya, serta pembentukan dana rekonstruksi bagi Iran akan dibahas dalam tahap kedua.

Menurut dia, isu nuklir dipindahkan ke tahap kedua karena tuntutan yang diajukan pihak lawan pada tahap pertama “tidak dapat diterima”.

Araghchi memperkirakan negosiasi tahap kedua berlangsung selama 60 hari. Namun, periode itu dapat diperpanjang apabila kedua pihak menilai kemajuan yang dicapai cukup memuaskan.

Ia menambahkan, jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan final, masing-masing pihak dapat kembali ke posisi semula.

“Jika komitmen dalam memorandum tidak dilaksanakan, Iran tidak akan melanjutkan ke tahap kedua negosiasi,” katanya.

Selat Hormuz dan Aset yang Dibekukan Araghchi juga menyinggung masa depan pengelolaan Selat Hormuz yang menurutnya tidak akan sama seperti sebelumnya.

“Selat Hormuz berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman,” kata dia.

Ia mengatakan kedua negara dalam waktu dekat akan mengeluarkan pernyataan bersama mengenai pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurut Araghchi, Iran saat ini berkonsultasi dengan sejumlah mitra, termasuk Cina dan Oman, terkait pengaturan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Ia menyebut sekitar 40 persen lalu lintas kapal di kawasan itu berkaitan dengan Cina sehingga konsultasi dengan Beijing memiliki nilai ekonomi yang penting.

“Pedang kami akan selalu berada di atas Selat Hormuz,” ujar Araghchi.

Meski demikian, ia menegaskan Iran tidak akan mengenakan tarif transit bagi kapal yang melintas, tetapi akan menerapkan biaya layanan tertentu. Araghchi juga menyatakan blokade maritim terhadap Iran harus dicabut sepenuhnya sebagai bagian dari memorandum yang tengah dirundingkan.

Ia menambahkan seluruh aset Iran yang selama ini dibekukan akan dibebaskan dan tidak dapat diblokir kembali berdasarkan kesepakatan tersebut.

Selain itu, memorandum juga memuat rencana rekonstruksi untuk memulihkan kerusakan yang dialami Iran selama konflik. Namun, mekanisme rinci terkait program tersebut akan dibahas pada tahap negosiasi berikutnya.

Sikap Iran soal Uranium Diperkaya

Saat ditanya mengenai kemungkinan pemindahan uranium yang telah diperkaya, Araghchi menegaskan posisi Iran tidak berubah. “Posisi kami selalu bahwa jika uranium yang diperkaya tingkat tinggi, khususnya material dengan tingkat pengayaan 60 persen, akan ditangani, maka satu-satunya metode yang dapat diterima adalah pengenceran di dalam wilayah Iran,” kata dia.

Araghchi mengatakan Teheran sedang berupaya memasukkan rumusan yang mencerminkan pendekatan tersebut ke dalam teks negosiasi. Ia menegaskan belum ada keputusan final terkait tingkat pengayaan uranium maupun jumlah cadangan uranium Iran.

Menurut dia, isu pengayaan uranium, stok uranium yang telah diperkaya, dan pencabutan sanksi ditunda pembahasannya ke tahap kedua dan akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir.

Penandatanganan Bisa Dilakukan dalam Hitungan Hari

Araghchi mengungkapkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran terus mengawasi seluruh proses negosiasi dan telah meninjau semua ketentuan dalam rancangan memorandum.

Ia mengakui terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat Iran mengenai isi dokumen tersebut. Namun, keputusan akhir akan diambil secara kolektif.

Menurut dia, memorandum itu terdiri dari kurang dari dua halaman dan dirundingkan kata demi kata. Dokumen tersebut memuat 14 klausul yang harus dipandang sebagai satu paket utuh, bukan sebagai konsesi terpisah dari salah satu pihak.

Araghchi mengatakan kesepakatan dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan setelah tahap akhir negosiasi selesai.

“Penandatanganan akan dilakukan secara digital dan jarak jauh,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan Iran tidak akan melanjutkan ke tahap kedua apabila pihak lain gagal melaksanakan komitmen yang tertuang dalam memorandum.

Araghchi juga mengingatkan agar laporan media mengenai berbagai versi memorandum tidak dianggap sebagai dokumen resmi karena spekulasi dapat mempersulit penyelesaian perundingan.

Ia menambahkan ancaman yang belakangan diarahkan kepada Iran memang menimbulkan tekanan politik dan psikologis. Namun, menurutnya, ancaman semacam itu justru akan memperlambat peluang tercapainya kesepakatan.

Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah Araghchi menulis di platform X bahwa Islamabad Memorandum of Understanding antara Iran dan Amerika Serikat “belum pernah sedekat ini” untuk diwujudkan. Ia juga meminta media tidak berspekulasi hingga proses negosiasi benar-benar selesai.

Perundingan yang dimediasi Pakistan itu berfokus pada penghentian permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat, pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional, serta pencapaian kesepakatan terkait program nuklir Iran.

Sejumlah pejabat Iran sebelumnya menyatakan sebagian besar isi dokumen telah disepakati. Namun, Teheran menuduh Washington memperlambat kemajuan negosiasi melalui perubahan posisi dan pernyataan yang dinilai saling bertentangan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama