Menuju konten utama

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Kesepakatan Hampir Jadi

Trump membatalkan serangan besar AS ke Iran dan mengklaim kesepakatan damai hampir tercapai. Namun, Teheran menegaskan negosiasi belum final.

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Kesepakatan Hampir Jadi
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/ANNABELLE GORDON
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Donald Trump mengumumkan jika ia telah memerintahkan militer AS untuk membatalkan serangan besar ke Iran. Hal ini dikarenakan AS dan Iran telah menuju kesepakatan damai.

Dalam unggahan terbarunya di akun Truth Social @realDonaldTrump, Presiden AS tersebut mengatakan jika keputusan untuk membatalkan serangan besar ke Iran yang awalnya dijadwalkan hari ini, karena kemajuan perundingan damai.

“Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, telah membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini.” tulis Trump.

“Diskusi dan poin-poin akhir telah disetujui, baik secara konsep maupun detail, oleh semua pihak yang terlibat, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, UEA, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lainnya. Blokade Angkatan Laut akan tetap berlaku sepenuhnya hingga Transaksi ini diselesaikan — Waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan,” tambahnya.

Berbeda dengan apa yang diungkapkan Trump, Iran justru menilai pendekatan Amerika Serikat masih mengandung tuntutan berlebihan dan perubahan sikap yang membuat proses negosiasi sulit mencapai titik temu.

Ketegangan ini juga diperparah dengan eskalasi militer yang terjadi di lapangan, termasuk serangan terhadap fasilitas strategis, pergerakan kapal-kapal di Teluk, serta insiden yang melibatkan korban sipil di beberapa negara sekitar kawasan konflik.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap potensi gangguan stabilitas energi dunia, termasuk fluktuasi harga minyak yang sempat turun tajam setelah pernyataan Trump mengenai kemungkinan kesepakatan.

Meskipun terdapat klaim optimistis dari pihak Amerika Serikat mengenai kemajuan menuju kesepakatan, Iran tetap menegaskan bahwa belum ada hasil akhir yang disepakati dan proses negosiasi masih jauh dari kata selesai.

“(Laporan tentang kesepakatan itu) bersifat spekulatif,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei dikutip BBC (12/6/2026).

“Belum ada yang difinalisasi," tambah Baghaei.

Update Konflik AS-Iran

Sejak beberapa hari terakhir, Iran dan AS kembali terlibat aksi saling serang. Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan telah melancarkan “self-defense strikes” atau serangan pertahanan diri terhadap Iran.

Menurut laporan yang dikutip media pemerintah Iran, serangan AS pada dini hari 10 Juni menargetkan beberapa lokasi di wilayah selatan Iran, termasuk kawasan Jask, Sirik, dan Qeshm.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan menyebut Amerika Serikat sebagai rezim yang gemar berperang dan menuduh Washington terus memperluas konflik melalui aksi militernya.

Menurut klaim Iran, serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada sebuah menara telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua tangki penyimpanan air di Distrik Bamani.

Sebagai respons atas serangan tersebut, IRGC mengklaim telah melancarkan operasi balasan melalui unit angkatan lautnya. Menurut pernyataan Iran, sejumlah drone dikerahkan untuk menyerang posisi United States Fifth Fleet yang bermarkas di Bahrain pada Senin (11/6/2026) dini hari.

Menurut laporan dari kantor berita pemerintah Iran IRNA, persoalan pencabutan sanksi akan dibahas setelah penandatanganan nota kesepahaman dan selama periode 60 hari yang direncanakan sebagai masa pelaksanaan serta negosiasi lanjutan menuju perdamaian yang lebih permanen.

Dengan kata lain, nota kesepahaman yang sedang dibahas tidak secara langsung menyelesaikan seluruh perbedaan antara kedua negara, melainkan berfungsi sebagai kerangka awal untuk mengurangi ketegangan dan membuka jalan bagi perundingan yang lebih rinci di kemudian hari.

IRNA juga menyebut bahwa dalam rancangan nota kesepahaman tersebut, Iran tidak memberikan komitmen baru terkait program nuklirnya.

“Iran tidak menawarkan komitmen apa pun dalam nota kesepahaman mengenai masalah nuklir, dan pihak lain tidak berkomitmen untuk mencabut sanksi,” kata IRNA dikutip Al Jazeera (12/6/2026)

“Jika Teheran memutuskan untuk menandatangani nota kesepahaman, sebagian dana yang dibekukan akan segera dilepaskan, dan sisanya secara bertahap,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra