tirto.id - Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tengah diputar di berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri. Salah satu acara nonton bareng (nobar) film ini di Ternate sempat dibubarkan aparat TNI. Film Pesta Babi bercerita tentang apa dan bagaimana cara nonton filmnya?
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibuat oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film ini pertama kali diputar dalam gala premiere di Taman Ismail Marzuki pada 12 April 2026. Setelah itu, film diputar di Wolf Kino pada 14 April 2026 dan dilanjutkan di Columbia University pada 25 April 2026.
Diproduksi bersama WatchDoc, Greenpeace Indonesia, Jubi.id, Yayasan Bentala Pusaka, dan Ekspedisi Indonesia Baru, film ini hadir sebagai dokumentasi kritis mengenai situasi Papua saat ini.
Sinopsis Film Pesta Babi
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan karya investigatif yang menggambarkan pergulatan masyarakat adat Papua dalam menghadapi gelombang pembangunan besar-besaran yang berlangsung atas nama proyek strategis nasional (PSN), ketahanan pangan, dan transisi energi.
Film ini membawa penonton menyusuri wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi untuk melihat langsung perubahan bentang alam Papua yang perlahan berubah dari hutan adat menjadi kawasan industri, perkebunan tebu, sawit, dan proyek pangan skala besar.
Selama sekitar 95 menit, penonton ditunjukkan bagaimana masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu hidup di tengah tekanan pembangunan yang dianggap mengancam tanah leluhur, sumber pangan, serta identitas budaya mereka.
Melalui pengambilan gambar yang menampilkan hutan Papua, ritual adat, kehidupan kampung, hingga aktivitas perusahaan dan aparat keamanan, “Pesta Babi” menyoroti benturan antara agenda pembangunan negara dengan hak hidup masyarakat adat.
Film ini memperlihatkan bagaimana pembukaan lahan dalam skala besar memengaruhi kehidupan warga yang selama turun-temurun bergantung pada hutan untuk berburu, mencari obat-obatan tradisional, dan menjaga hubungan spiritual dengan alam.
Penonton diajak melihat keresahan warga yang mulai kehilangan akses terhadap tanah adat mereka, menyaksikan hewan buruan semakin menjauh, sumber air berubah, serta hutan yang selama ini menjadi penopang kehidupan perlahan rusak akibat ekspansi industri.
Judul “Pesta Babi” sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua, di mana babi memiliki makna penting dalam kehidupan sosial, perdamaian, dan ritual adat.
Cara Nonton Film Pesta Babi
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita saat ini belum tayang di bioskop umum atau platform streaming resmi.
Penonton hanya bisa menyaksikannya melalui program nobar resmi yang diadakan komunitas, kampus, organisasi, atau kelompok masyarakat bekerja sama dengan Ekspedisi Indonesia Baru dan jaringan kolaborator film seperti WatchDoc, Greenpeace Indonesia, dan Jubi.id.
Berikut cara menonton film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”:
1. Cari Jadwal Nobar Resmi
Pantau informasi pemutaran melalui:- Instagram WatchDoc: @watchdoc_insta
- Instagram Greenpeace Indonesia: @greenpeaceid
- Instagram Jubi.id: @newsjubi
2. Membuat Nobar Sendiri
Jika ingin mengadakan pemutaran mandiri, berikut langkah-langkahnya:- Daftarkan kegiatan melalui formulir resmi “Musim Nobar”: https://bit.ly/musimnobar_pestababi
- Penyelenggara minimal menyiapkan 10 peserta
- Panitia akan mengirim tautan pemutaran H-2 sebelum acara
- Syarat umum penyelenggara:
- Minimal 10 penonton
- Wajib publikasi di media sosial
- Menandai akun resmi penyelenggara
- Menggunakan tagar #PestaBabi dan #PapuaBukanTanahKosong
- Tidak boleh menyebarkan file film secara ilegal
- Wajib mengirim dokumentasi kegiatan kepada panitia
3. Hubungi Kontak Resmi Panitia
Beberapa penyelenggara menyediakan nomor narahubung resmi untuk koordinasi nobar.Berikut info nobar film “Pesta Babi” hari ini, Senin, 11 Mei 2026:
1. Bondowoso, Jawa Timur
Pukul 19:00 WIB
PWI Bondowoso
2. Bombana, Sulawesi Tenggara
Pukul 20:00 WITA
Bulpep
3. Indragili Hulu, Riau
Pukul 20:30 WIB
Masyarakat sipil
4. Jayapura, Papua
Pukul 16:00 WIT
Masyarakat sipil
5. Batam, Riau
Pukul 21:00 WIB
Aliansi Mahasiswa Universitas Riau Kepulauan Kota Batam
6. Kota Yogyakarta
Pukul 17:00 WIB
Teknik Lingkungan AKPRIND
7. Padang, Sumatera Barat
Pukul 13:30 WIB
LAM & PK FH Universitas Andalas
8. Brebes, Jawa Tengah
Pukul 18:30 WIB
GMNI Saintek Univ. Peradaban
9. Metro, Lampung
Pukul 20:00 WIB
Komunitas Literasi Pustakaloka Cendekia Kota Metro
10. Jakarta Selatan
Pukul 19:00 WIB
Kolektif Merpati
11. Majalengka, Jawa Barat
Pukul 19:00 WIB
Urbrain Creative
12. Sleman, Yogyakarta
Pukul 14:00 WIB
Mahasiswa Magister IAT UIN SUKA
13. Bekasi Timur, Jawa Barat
Pukul 16:00 WIB
GMNI Komisariat Institut STIAMI
14. Magelang, Jawa Tengah
Pukul 12:00 WIB
MTs Nurul Ali
15. Palu, Sulawesi Tengah
Pukul 18:00 WITA
BEM UNISA Palu
16. Trenggalek, Jawa Timur
Pukul 21:00 WIB
Pondok Pesantren Al Falah
17. Probolinggo, Jawa Timur
Pukul 18:00 WIB
DPC Sarbumusi Kota Probolinggo
18. Lombok Tengah, NTB
Pukul 20:30 WITA
Persatuan Pergerakan Mahasiswa Desa Mekar Damai
19. Keerom, Papua
Pukul 21:00 WIT
Jemaat GKl Sion Yamara
20. Majene, Sulawesi Barat
Pukul 20:00 WITA
Kehutanan Unsulbar 2024 G
21. Jakarta Selatan
Pukul 20:00 WIB
Pesantren Luhur Ciganjur
22. Pematang Siantar, Sumatera Utara
Pukul 18:00 WIB
Masyarakat sipil
23. Sukabumi, Jawa Barat
Pukul 15:40 WIB
Masyarakat sipil
24. Tegal, Jawa Tengah
Pukul 19:30 WIB
Perjal_brass
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































