Menuju konten utama
Emiten Rokok

Industri Rokok: Gudang Garam Melesat, Sampoerna Stagnan

Gudang Garam menjadi emiten dengan pertumbuhan penjualan paling positif sepanjang 2018 ketimbang emiten rokok lainnya.

Industri Rokok: Gudang Garam Melesat, Sampoerna Stagnan
Etalase lemari rokok yang berada di tengah pusat perbelanjaan. tirto.id/ Rizky Ramadhan

tirto.id - “Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai untuk 2019 ini. Industri rokok ini sedang decline. Kalau tarif cukai naik lagi, maka industri akan decline lebih cepat lagi.”

Begitulah kata sambutan dari salah satu manajemen saat PT Bentoel Internasional Investama Tbk. memberikan informasi terbaru mengenai industri rokok nasional di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan pada Selasa sore (14/05/2019).

Dalam acara tersebut, Bentoel mengawalinya dengan memaparkan sejumlah kontribusi dari industri rokok terhadap perekonomian negara. Mulai dari sumbangan cukai rokok terhadap penerimaan negara hingga menciptakan lapangan kerja.

Kontribusi industri rokok memang tidak kecil. Dari sisi penerimaan negara, cukai rokok pada 2018 menyumbang sebesar Rp153 triliun. Sementara dari sisi ketenagakerjaan, industri rokok menyerap lebih dari 7 juta tenaga kerja.

Meski sumbangan industri rokok cukup berarti bagi negara,akan tetapi kondisi industri rokok saat ini dinilai memprihatinkan. Menurut Bentoel, tarif cukai yang naik setiap tahunnya memberatkan para pelaku usaha rokok atau tembakau.

Untuk itu, produsen rokok mengapresiasi keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai rokok pada 2019. Untuk diketahui, rata-rata tarif cukai rokok selama kepemimpinan Presiden Jokowi naik 10,5 persen/tahun.

Keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai rokok juga mendapatkan apresiasi dari sejumlah asosiasi industri hasil tembakau di antaranya adalah Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI).

“Selain tidak menaikkan tarif cukai, kami juga sangat mengapresiasi penindakan rokok ilegal yang sempat pesat pada 2014. Selama ini, rokok ilegal turut mengisi pasar anggota GAPPRI,” jelas Ketua GAPPRI Henry Najoan dikutip dari Kompas.

Kondisi industri rokok yang sedang lesu memang benar demikian. Dalam lima tahun terakhir ini, tren penjualan rokok terus menurun. Dari 352 miliar batang pada 2014, lalu menjadi 332 miliar batang pada 2018. Rata-rata turun 2 persen/tahun.

Di lain pihak, penjualan ritel rokok dan pasar rokok ilegal terus meningkat. Menurut kajian Ernst & Young berjudul "Kajian Singkat Dampak Ekonomi Industri Rokok di Indonesia 2018" (hlm 20), rokok ilegal pada 2013 mencapai 10,1 persen dari total industri. Pada 2017, pasar rokok ilegal naik menjadi 12,3 persen.

Dengan semua kondisi di atas, bagaimana dengan emiten rokok yang melantai di bursa saham, seperti apa kinerjanya ?

Saat ini, ada empat emiten rokok yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni PT Gudang Garam Tbk., PT HM Sampoerna Tbk., PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Sementara Djarum sampai saat ini belum mencatatkan sahamnya di BEI, sehingga keterbukaan laporan keuangannya tidak bisa diketahui oleh publik.

Bagi emiten rokok, industri rokok yang melesu tidak sepenuhnya berdampak terhadap kinerja mereka. Ada emiten yang penjualan masih tumbuh di atas pertumbuhan PDB. Namun, ada juga yang terpuruk sejalan dengan kondisi industri rokok saat ini.

PT Gudang Garam Tbk. adalah salah satu emiten rokok yang kinerjanya cukup positif. Tahun lalu, pabrikan rokok yang berlokasi di Kediri dan Gempol, Jawa timur ini membukukan nilai penjualan Rp95,7 triliun naik 15 persen dari tahun sebelumnya.

“Meningkatnya pendapatan dikarenakan adanya penyesuaian harga jual rata-rata per batang sebesar 5,6 persen dan kenaikan volume penjualan sebesar 8,3 persen,” tutur direksi Gudang Garam dikutip dari laporan tahunan Gudang Garam 2018 (PDF).

Dari capaian itu, Gudang Garam menjadi emiten dengan pertumbuhan penjualan paling positif ketimbang emiten rokok lainnya. Sayang, pertumbuhan laba bersih perseroan justru stagnan. Perseroan hanya meraup laba Rp7,79 triliun atau naik 0,5 persen.

Kinerja positif Gudang Garam berlanjut di kuartal I/2019. Pabrik rokok yang menguasai pangsa pasar rokok nasional sebesar 23 persen ini membukukan penjualan Rp26,19 triliun atau naik 19 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Pada saat bersamaan, laba bersih yang diraup perseroan melompat hingga 24 persen menjadi Rp2,35 triliun. Adapun, sigaret kretek mesin (SKM) menjadi penyumbang terbesar penjualan perseroan, yakni 92 persen dari total penjualan.

Infografik Kinerja Emiten Rokok di 2018

Infografik Kinerja Emiten Rokok di 2018

Sampoerna Masih Memimpin Pasar

Emiten rokok selanjutnya adalah PT HM Sampoerna Tbk. Pabrikan rokok milik PT Phillip Morris Indonesia ini masih menjadi pemimpin pasar dalam industri rokok. Mereka menguasai pangsa pasar rokok nasional sekitar 33 persen.

“Total volume penjualan Sampoerna sepanjang 2018 mencapai 101,4 miliar unit, atau naik 0,1 persen dibandingkan dengan 2017,” tutur Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. Mindaugas Trumpaitis dikutip dari laporan tahunan Sampoerna 2018 (PDF).

Meski begitu, pertumbuhan penjualan Sampoerna terbilang lebih lambat ketimbang Gudang Garam. Tahun lalu, penjualan Sampoerna mencapai Rp106,74 triliun atau naik 6 persen dari tahun sebelumnya.

Laba bersih yang diraup Sampoerna juga hanya naik 7 persen menjadi Rp13,53 triliun. Meski begitu, nilai keuntungan Sampoerna masih lebih besar ketimbang laba bersih yang diraup Gudang Garam.

Pertumbuhan penjualan yang pelan berlanjut pada kuartal I/2019. Perseroan membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 3 persen menjadi Rp23,8 triliun dari kuartal I/2018. Adapun, laba bersih naik 8 persen menjadi Rp3,2 triliun.

Berikutnya, PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Perusahaan yang memiliki pabrik di Bojonegoro ini mencatatkan penjualan Rp1,4 triliun sepanjang 2018 atau turun 5 persen dari tahun sebelumnya.

Wismilak menjadi satu-satunya emiten yang mencatatkan penurunan penjualan pada 2018. Meski begitu, laba bersih perseroan justru naik 24 persen menjadi Rp51 miliar. Ini juga salah satunya dikarenakan ada relokasi pabrik.

“Relokasi [dari Surabaya ke Bojonegoro] pada 2017 berimplikasi terhadap keseimbangan dalam menjaga volume produksi serta efisiensi produksi,” tutur Dirut PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Ronald Walla dikutip dari laporan tahunan Wismilak 2018 (PDF).

Sayang, capaian laba bersih yang positif tidak bertahan lama. Pada kuartal I/2019, laba bersih Wismilak anjlok 49 persen menjadi Rp5,28 miliar dari kuartal I/2018. Kondisi ini juga tidak terlepas dari memburuknya penjualan yang turun 8 persen menjadi Rp313 miliar.

Terakhir, PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Perseroan milik British American Tobacco ini menjadi satu-satunya emiten rokok di Indonesia yang membukukan rugi selama 5 tahun terakhir ini, secara berturut-turut.

Tahun lalu, Bentoel membukukan rugi bersih sebesar Rp608 miliar atau naik 25 persen dari rugi 2017 sebesar Rp480 miliar. Padahal, penjualan perseroan kala itu masih positif, naik 8 persen menjadi Rp21,92 triliun.

Rapor merah Bentoel berlanjut pada kuartal I/2019. Pabrikan rokok yang berlokasi di Malang ini membukukan rugi bersih sebesar Rp83 miliar, meski penjualan naik 10 persen menjadi Rp5,04 triliun dari penjualan kuartal I/2018 sebesar Rp4,58 miliar.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai industri rokok memang tergolong sebagai sunset industry atau pertumbuhannya industri menurun. Namun, bagi produsen besar seperti Sampoerna atau Gudang Garam, kondisi itu belum terlihat.

“Saya pikir mereka masih bisa tumbuh sampai dengan 5 tahun ke depan. Orang masih cukup loyal dengan mereka. Tapi memang secara long term kurang menjanjikan karena tantangan makin banyak,” katanya kepada Tirto.

Bukan tanpa alasan prospek industri rokok dalam jangka panjang kurang menjanjikan. Hal itu dikarenakan masyarakat saat ini semakin memperhatikan kesehatan. Belum lagi, ada tarif cukai dan kebijakan larangan merokok.

Dalam laporan EY juga disebutkan konsumsi rokok per kapita di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini juga terus menurun. Dari 2.132 batang perkapita/tahun pada 2014, menjadi 1.980 batang perkapita/tahun pada 2017.

Bagi perusahaan skala besar, seperti Sampoerna dan Gudang Garam, industri rokok yang melesu justru belum menjadi persoalan. Namun bagi perusahaan kecil ini menjadi persoalan, dan bahkan terancam tergerus oleh perusahaan besar.

Baca juga artikel terkait CUKAI ROKOK atau tulisan lainnya dari Ringkang Gumiwang

tirto.id - Bisnis
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti