Indef: Sebelum Bicara Unicorn, Bereskan Dulu Masalah Sektor Rill

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 28 Februari 2019
Unicorn adalah istilah umum yang disematkan pada startup (perusahaan rintisan di bidang teknologi) dengan valuasi lebih dari satu miliar dolar AS.
tirto.id - Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri meminta pemerintah agar membereskan sektor rill terlebih dahulu, sebelum membicarakan muluk-muluk mengenai unicorn, sebutan untuk perusahaan rintisan atau startup yang punya nilai usaha lebih dari 1 miliar dolar AS.

Menurutnya, pemerintah gagal melihat akar permasalahan ekonomi bahwa unicorn juga membutuhkan industri di sektor riil atau industri manufaktur yang memproduksi barang-barang.

"Kita bicara unicorn tapi sektor produksi tak dibereskan," kata Faisal di Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019).

Apabila permasalahan inti perekonomian nasional itu tak segera diatasi, Faisal khawatir unicorn bisa ikut tumbang. Selain itu, ia juga khawatir dengan adanya serbuan barang impor yang masuk lewat unicorn karena perusahaan tersebut bergerak di sektor jual beli online.

"Kalau sektor produksi tidak dibereskan, maka barang impor semua yang akan masuk," kata dia.

Unicorn menjadi tema yang ramai diperbincangkan publik usai debat Capres kedua, pada 17 Februari 2019. Hal ini lantaran capres nomor urut 02, Prabowo Subianto gagap dengan istilah tersebut.

Unicorn adalah istilah umum yang disematkan pada startup (perusahaan rintisan di bidang teknologi) dengan valuasi lebih dari satu miliar dolar AS. Kemunculannya di Indonesia sendiri baru dimulai dua tahun terakhir sehingga bisa dihitung dengan jari.

Perusahaan teknologi transportasi Go-Jek menempati posisi pertama dengan valuasi mencapai 9,5 milar dolar AS. Selanjutnya, Tokopedia dengan valuasi perusahaan mencapai 7 miliar dolar AS. Disusul Traveloka dengan valuasi 4,1 miliar dolar AS, serta Bukalapak sebesar 1 miliar dolar AS.


Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Alexander Haryanto