tirto.id - Sepanjang musim dingin 1894, di ruang-ruang keluarga Belanda, mereka kerap menghabiskan hari dengan permainan papan yang disajikan di meja. Di atasnya, Atchin Spel (permainan Aceh) dibentangkan. Permainan ini muncul pada 1874 dan berkaitan dengan fase awal Perang Aceh. Targetnya adalah menaklukkan Istana Sultan Aceh.
Di meja lainnya, dua puluh lima pion kuning mengepung satu pion hitam. Permainan itu bernama Het Toekoe Oemar Spel (Permainan Teuku Umar), dirilis tahun 1896 saat Perang Aceh memuncak. Dijual seharga 90 sen, permainan ini mengajak keluarga Belanda ikut “menangkap” Teuku Umar.
Kedua permainan itu menjadi hiburan sekaligus mesin propaganda Belanda. Puluhan tahun kemudian, Toekoe Oemar Spel diadaptasi di Aceh dan menjadi medium lokal yang justru menyalakan ingatan akan perlawanan.
Permainan dan Propaganda Kolonial
Perang Aceh yang dimulai pada 1873 berubah dari operasi singkat menjadi luka panjang. Gerilya rakyat Aceh menguras kas negara, merenggut ribuan nyawa, dan menelanjangi kelemahan kolonial. Pada 1890-an, perang ini menjadi obsesi nasional.
Berbeda dengan wilayah-wilayah lain yang dapat dikendalikan melalui perjanjian damai atau negoisasi dengan penguasa lokal, Aceh terus memberikan perlawanan yang sengit melalui perang gerilya yang dipimpin oleh para prajurit yang termotivasi oleh keyakinan agama.
Di tengah rasa frustrasi, Belanda mencari cara untuk menata ulang kenyataan. Mereka butuh narasi yang membuat perang tampak teratur dan bisa dimenangkan.
Permainan kolonial pun lahir. Di ruang keluarga, papan permainan menjadi panggung simbolis. Belanda digambarkan beradab, Aceh ditempatkan sebagai liyan yang harus ditundukkan. Sejarawan Caroline Drieënhuizen menyebutnya sebagai pembelajaran informal, khususnya bagi anak-anak, sebuah cara halus menanamkan pandangan dunia kolonial.
Fenomena ini tidak berhenti di abad ke-19. Permainan papan modern seperti Nieuw Amsterdam, misalnya, masih mengangkat tema kolonial, tetapi dengan wajah berbeda. Kekerasan dan penaklukan dihapus, diganti dengan mekanisme dagang, seperti bulu binatang, rempah, perkebunan. Genosida dan perbudakan direduksi menjadi angka kemenangan. Nostalgia kolonial dijual dalam bentuk yang lebih halus dan lebih ramah.
Perubahan dari militerisme menuju penghapusan ekonomi dalam permainan modern menunjukkan pergeseran wacana kolonial. Jika dulu penaklukan fisik dirayakan, kini disembunyikan di balik efisiensi dagang.
Caroline melanjutkan, bahwa permainan, baik yang lama maupun yang baru, tetap menjadi medium yang menyusun cara kita melihat sejarah, antara kekerasan yang dirayakan dan kekerasan yang dihapuskan.
Memburu Teuku Umar
Warsa 1896, Toekoe Oemar Spel lahir dari dendam terhadap satu tokoh yang tak bisa ditaklukkan. Permainan ini Diterbitkan oleh Jos. Vas Dias & Co., firma percetakan yang piawai memanfaatkan arus budaya populer. Perusahaan ini sebelumnya dikenal lewat buku anak-anak dan permainan sirkus atau kurcaci, dan kali ini mereka memilih musuh negara sebagai tema. Strateginya ialah menjual patriotisme di tengah obsesi publik terhadap Perang Aceh.
Penciptanya adalah Joop Vas Diaz, seorang pengusaha yang memahami pasar budaya Belanda dengan baik. Permainan dirancang untuk dua orang dengan durasi waktu bermain sekitar lima belas menit.
Toekoe Oemar Spel diluncurkan tepat menjelang Sinterklaas, tradisi jelang Natal di Belanda. Iklan di surat kabar De Locomotief pada 4 November 1898 menyebut bahwa permainan baru ini sebagai permainan cerdik.
“Tujuannya adalah untuk menangkap Oemar di salah satu dari dua segitiga di medan permainan, tetapi pemain juga boleh mengepungnya di bagian persegi papan,” tulis iklan tersebut.
Papan berukuran 34,5 x 50 cm dicetak dengan kromolitografi berwarna cerah, menampilkan peta Aceh dari Samudra Hindia hingga Selat Malaka. Nama-nama distrik, Kota Radja, hingga pergunungan tempat gerilyawan bersembunyi, menjadikan permainan ini semacam pelajaran geografi imperial.
Kotaknya lebih gamblang lagi. Wajah Teuku Umar ditampilkan besar, digambar dengan karikatur rasis, bersudut, lapuk, gelap, jauh dari sosok asli yang dikenal berpenampilan rapi.
Het Toekoe Oemarspel menjadi mesin propaganda yang dikemas sebagai hiburan keluarga, mengajarkan anak-anak Belanda bahwa perang di Aceh bisa dipahami, dimainkan, bahkan dimenangkan di ruang tamu mereka sendiri.
Seturut Romita Ray dalam “The Beast in a Box: Playing with Empire in Early 19th-Century Britain”, dengan memainkan permainan yang bertema koloni, anak-anak dan orang dewasa tidak hanya diperkenalkan pada geografi kolonial dan istilah-istilahnya, tetapi juga pada stereotipe budaya dan representasi daerah jajahan yang melegitimasi dominasi kolonial serta membangkitkan perasaan superioritas.
Teuku Umar merupakan seorang uleebalang (bangsawan) dari Aceh Barat yang ahli taktik. Dia memahami bahwa keunggulan militer Belanda terletak pada persenjataan modern dan logistik, sementara keuntungan Aceh ada pada pengetahuan medan dan dukungan rakyat.
Pada awal 1890-an, Belanda mulai mendekati kelas uleebalang untuk mengisolasi para pemimpin agama, dan Umar melihat peluang dalam perubahan kebijakan ini. Pada tahun 1893, Teuku Umar menyerah kepada Belanda, bersumpah setia, dan dianugerahi gelar Teuku Djohan Pahlawan.
Belanda sangat gembira dan memasoknya dengan sejumlah besar uang, 880 senapan modern, dan 25.000 butir amunisi. Namun, pada Maret 1896, suami Cut Nyak Dhien itu membelot kembali ke pihak Aceh, membawa serta seluruh perbekalan tersebut.
Peristiwa spesifik inilah yang memperkuat status Teuku Umar sebagai penjahat utama. Ia dikenal dalam sejarah Belanda sebagai Het Verraad van Teuku Umar atau Pengkhianatan Teuku Umar.
Dari tahun 1896 hingga kematiannya pada tahun 1899, perburuan terhadap Teuku Umar menjadi drama berseri di pers Belanda, dan Toekoe Oemarspel dirilis tepat selama periode ini.
“Beberapa hari sebelumnya, Toekoe Oemar terlihat di Meulaboh, di mana ia menginap di rumah seorang kepala kampung. Ia tampaknya tidak merasa terancam, dan bahkan bermain permainan yang dinamai menurut namanya sendiri: Permainan Toekoe Oemar, yang baru-baru ini diterbitkan oleh firma Perry & Co,” tulis surat kabar Nieuwe Tilburgsche Courant edisi 23 Juni 1898.
Aturan dan Versi Permainan
Aturan Het Toekoe Oemarspel memperlihatkan bagaimana sebuah permainan bisa menyimpan narasi politik. Ia masuk dalam keluarga “permainan berburu” tradisi kuno seperti Macanan khas Yogyakarta, sebagaimana dikutip iklan surat kabar Utrechtsch terbitan 23 Agustus 1898, yang menulis apa itu permainan Macanan yang sangat menarik dan menghibur.
Dalam versi Belanda, aturan dibuat tidak berimbang. Pasukan Belanda diwakili 25 pion kuning, simbol jumlah dan organisasi Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), sementara Teuku Umar hanya satu pion hitam, pengkodean warna yang sarat makna rasial. Ini juga dianggap simbol ketertiban hukum yang berusaha menundukkan penjahat.
Tujuan pemain Belanda adalah mengepung Umar hingga tak bisa bergerak, meniru strategi Benteng Stelsel yang berusaha mempersempit ruang gerak perlawanan Pangeran Diponegoro. Sebaliknya, pemain Umar harus melompati pion Belanda untuk mengurangi jumlah musuh.
Arsip Belanda mencatat aturan khusus bahwa Teuku Umar tidak boleh melompati “pos kosong”. Aturan ini seolah lahir dari frustrasi kolonial atas kemampuan Teuku Umar menghilang ke hutan, memaksa permainan agar ia bertarung dengan cara yang bisa dipahami Belanda.
Namun, ketika permainan ini masuk ke Aceh dan berubah menjadi Catur Teuku Umar atau Catoe Perang, narasinya bergeser. Jumlah pion Belanda dikurangi menjadi 20, menjaga keseimbangan yang sepadan.
Permainan dimulai dengan suit untuk menentukan peran, menghadirkan kesetaraan yang tak ada dalam hierarki kolonial. Aturan paling khas adalah serangan “ganjil”, di mana pion Teuku Umar bisa menangkap pion Belanda jika mereka berbaris satu, tiga, atau lima dalam garis lurus. Aturan ini memberi kekuatan taktis pada bidak tunggal, meniru efisiensi penyergapan.
Fungsi psikologis kedua versi ini bertolak belakang. Bagi Belanda, permainan adalah cara menenangkan rasa malu, mereduksi Teuku Umar menjadi objek yang bisa dikendalikan di atas meja. Bagi Aceh, ia adalah gudang ingatan dan alat pendidikan taktis, mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu bergantung pada jumlah, melainkan strategi.
Pada tahun 2018, permainan ini dibangkitkan kembali sebagai instalasi seni di Instrumenta 2018: Sandbox International Media Arts Festival di Galeri Nasional, Jakarta, oleh seniman Zaini Alif. Pameran ini menyoroti status permainan sebagai warisan beracun atau toxic heritage. Ia tidak lagi dimainkan untuk kesenangan, tetapi dilihat sebagai bukti sejarah dari pola pikir kolonial yang menjadikan perburuan manusia sebagai permainan anak-anak.
Namun demikian, Het Toekoe Oemar Spel, dengan segala rasisme dan propagandanya, setidaknya mengakui keberadaan musuh dengan menempatkan wajah Teuku Umar di kotaknya, mengakui bahwa imperium sedang berjuang melawan sosok tangguh.
Meskipun Teuku Umar akhirnya terbunuh pada tahun 1899, permainan itu hidup lebih lama darinya dan bahkan lebih lama dari penjajahan Belanda.
Di desa-desa Aceh, Catur Teuku Umar tetap ada dengan aturan sendiri, di mana pion hitam tunggal menolak untuk dikotakkan. Pada akhirnya, permainan ini mengekspos ketakutan penjajah dan ketahanan kaum terjajah di atas selembar karton.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































