17 Agustus 1945

Hatta Nyaris Datang Telat, Sukarno Sedang Meriang Saat Proklamasi

Oleh: Petrik Matanasi - 17 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bambu belaka.
Kibar sang saka dalam
gagah dwiwarna.


tirto.id - Peristiwa besar macam Proklamasi tak terpisahkan dari serangkaian kejadian-kejadian kecil yang menyertainya. Hatta barangkali tak berpikir datang mepet jelang menit-menit pembacaan Proklamasi, atau Sukarno meriang kelelahan setelah diculik oleh para kaum pemuda sehari sebelumnya di Rengasdengklok.

Serpihan kecil peristiwa itu dimulai dari tokoh kita bernama Suhud Sastrokusumo. Pagi-pagi 17 Agustus 1945, Suhud dan kawan-kawannya menunjukkan wajah yang tegang. Mereka paham bakal ada peristiwa besar yang terjadi pada pagi itu. Peristiwa yang bisa saja membuat murka angkatan darat Jepang yang berpatroli di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta, lalu membantai dirinya hingga Sukarno.

Suhud adalah anggota Barisan Pelopor Istimewa di Jakarta. Menurut Subagjo IN dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti (1981:92) anggota Barisan Pelopor dipilih langsung oleh Sukarno. Jumlah anggotanya hanya 100 orang, tapi mereka adalah orang-orang pilihan. Selain Suhud, ada nama terkenal lainnya macam Chaerul Saleh dan Sakirman.

Suhud berasal dari Banyumas, ia pernah jadi komandan penjaga di rumah Sukarno. Saat Sukarno diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok sehari sebelum Proklamasi, Suhud sedang bertugas. Namun, para penculik adalah kawan-kawannya juga.

Jumat pagi itu, Suhud dapat tugas darurat dari tokoh Barisan Pelopor Sudiro. “Sudiro memerintahkan Suhud untuk menyiapkan bendera,” tulis Suhartono W. Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007:161).

Suhud juga mendapat bantuan dari anggota Barisan Pelopor lainnya. Anggota lain yang membantu Sudiro juga ikut tegang dan bingung. “Tiangnya satu atau dua?” tanya salah seorang anggota Barisan Pelopor yang membantu Suhud kepada Sudiro. Sudiro sempat marah setelah mendengar pertanyaan itu.



Suhud yang terbawa suasana tegang akhirnya jadi pelupa. Suhud dituntut bekerja cepat pada pagi yang menentukan itu. Acara besar akan dimulai dan agar bisa terlaksana, tiang bendera harus berdiri. Ia melihat bambu panjang yang kemudian dijadikannya tiang bendera. Setelah tiang itu beres, Suhud baru sadar ternyata, ada dua tiang besi mangkrak di sekitar rumah Sukarno. Suhud nampak konyol karena ketegangan jelang menit-menit Proklamasi.

“Bambu itu dibersihkan dan diberi tali, lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras,” tulis buku Sejarah Nasional Indonesia - Volume 6 (1993:24). Sehingga jadilah bambu sebagai tiang bendera dengan katrol untuk mengerek bendera. Setelah acara dimulai dan Proklamasi dibacakan, bendera Merah Putih yang dijahit tangan oleh Fatmawati akhirnya dikibarkan.

Suhud tak cuma membuat tiang untuk bendara saat Proklamasi, ia juga punya peran besar lainnya di momen Proklamasi pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 itu. Suhud membantu Chudancho Latief Hendraningrat yang mengerek bendera merah putih. Latief adalah orang Indonesia dengan pangkat militer paling tinggi di tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Jakarta.




Infografik Mozaik Proklamasi


Selain pengalaman Suhud yang konyol dalam rangkaian peristiwa Proklamasi, ada pula Mohammad Hatta. Hatta yang terkenal soal kedisiplinannya pada hari itu datang sangat mepet. Orang-orang yang sudah hadir di rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, dibuat was-was karena Hatta tak memunculkan batang hidungnya jelang Proklamasi pada pukul 10.00. Saat jam menunjukkan pukul 09.30 pagi, Hatta belum muncul di acara yang penting dan genting itu.

“Hingga pukul 09.50, Bung Hatta belum tampak hadir di tempat itu,” tulis Sudiro dalam bukunya (1986:343). Pemuda-pemuda pun tegang dan menekan Sukarno agar segera memulai acara pembacaan Proklamasi tanpa kehadiran Hatta. Namun, Sukarno tak mau membacakan Proklamasi tanpa kehadiran Hatta. Sukarno yang sedang tak enak badan tahu, Hatta juga letih setelah kejadian penculikan Rengasdengklok.



Proses perumusan naskah Proklamasi yang diikutinya pada dini hari 17 Agustus 1945 cukup menguras tenaga dan memangkas jam tidur Hatta, membuatnya Hatta bangun kesiangan. “Aku baru tidur setelah sembahyang subuh dan bangun kira-kira pukul 08.30 pagi,” kata Hatta dalam autobiografinya, Mohammad Hatta Memoir (1979:456).

Hatta yang sedang menunaikan Puasa keadaan puasa, sempat bercukur dan mandi sebelum berangkat ke Pegangsaan Timur 56, rumah Sukarno. “Kira-kira pukul 10 kurang 10 menit aku berangkat dari rumah dan 5 menit sebelum jam 10 aku sudah berada di sana,” kata Hatta. Sebelum Hatta datang, Sukarno sedang tidak enak badan di kamarnya. Saat itu, tak ada yang berani mengganggu Sukarno, kecuali ada hal penting.

Setelah Hatta datang, barulah Sukarno berpakaian, melakukan upacara penting yang tanpa persiapan. Ketika Sukarno hendak keluar kamar, Latief Hendraningrat bertanya, “apa Bung Karno sudah siap?”

“Ketika aku berjalan ke luar, kulihat seorang anggota PETA mengambil posisi di dekat telepon di kamar kerjaku yang menghadap ke tempat upacara. Garnisun PETA, yang akan bereaksi bila ada tanda-tanda munculnya tentara Jepang,” kata Sukarno dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2007:267).

Selesai pembacaan naskah Proklamasi dan pengibaran bendera merah-putih, anggota PETA sudah pakai telepon untuk bicara dengan PETA di tempat lain untuk menyebarkan kabar Proklamasi.

Situasi tegang peristiwa Proklamasi di bawah bayang-bayang risiko tercium serdadu-serdadu Jepang akhirnya berlalu. Semenjak Proklamasi, Revolusi telanjur dimulai. Sukarno sebagai proklamator sudah putus urat takutnya kepada tentara Jepang. Lima polisi militer Kenpeitai yang terkenal bengis sempat datang ke rumah Sukarno setelah Proklamasi, tapi Sukarno bersikap santai.



“Apa yang telah Anda lakukan Sukarno, San?” tanya perwira Kenpeitai. Sukarno menjawab ringan “memproklamirkan kemerdekaan kami.”

Sang perwira Kenpeitai tersebut tak suka dengan tindakan Sukarno. Tentara sekutu yang sudah mengalahkan Jepang tentu tidak rela. Perwira Kenpeitai hendak mengancam Sukarno tapi tak berdaya dan pergi karena ada pengawalan dari para pengawal Sukarno.

“Dia melihat ratusan pengawal berwajah garang membawa kampak, sabit dan bambu runcing, senjata yang dengan satu kali tusuk dapat memburaikan usus si korban,” kata Sukarno.

Baca juga artikel terkait DIRGAHAYU INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra