Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Melesat Naik Hampir 3 Persen

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November terdongkrak 2,89 dolar AS atau hampir 3,5 persen.

Harga Minyak Dunia Melesat Naik Hampir 3 Persen
kilang minyak.foto/shutterstock

tirto.id -

Harga minyak mentah dunia melanjutkan lintasan kenaikannya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah ekspektasi penurunan besar produksi minyak mentah dari kelompok produsen OPEC+. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November terdongkrak 2,89 dolar AS atau hampir 3,5 persen, menjadi di 86,52 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah 2,94 dolar atau 3,3 persen, menjadi ditutup pada 91,8 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Sejak Senin, WTI dan Brent masing-masing melonjak 5,2 persen dan 4,4 persen.
Reli dua hari terjadi karena para pedagang bertaruh bahwa organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, akan mempertimbangkan pengurangan produksi besar-besaran ketika bertemu pada Rabu.

Langkah itu akan menekan pasokan di pasar minyak yang menurut para eksekutif dan analis perusahaan energi sudah ketat, karena permintaan yang sehat, kurangnya investasi dan masalah pasokan. Sumber dari kelompok itu mengatakan OPEC+, yang mencakup Rusia, sedang membahas pengurangan produksi lebih dari 1 juta barel per hari (bph).

Sementara itu, minyak memperpanjang kenaikan setelah Bloomberg melaporkan bahwa OPEC+ yang sedang mempertimbangkan pemotongan 2 juta barel per hari.

"Kami memperkirakan pemotongan substansial akan dilakukan, yang tidak hanya akan membantu memperketat fundamental fisik tetapi mengirimkan sinyal penting ke pasar," kata Fitch Solutions dalam sebuah catatan seperti dikutip Reuters.

Menteri perminyakan Kuwait mengatakan OPEC+ akan membuat keputusan yang tepat untuk menjamin pasokan energi dan untuk melayani kepentingan produsen dan konsumen. OPEC+ telah meningkatkan produksi tahun ini setelah rekor pemotongan diterapkan pada 2020 ketika pandemi memangkas permintaan.

Pada awal September, aliansi minyak mengumumkan pengurangan produksi 100.000 barel per hari untuk Oktober untuk meningkatkan harga dan mendorong harga minyak, dolar AS menuju kerugian harian kelima terhadap sekeranjang mata uang. Hal itu karena investor berspekulasi bahwa Federal Reserve AS memperlambat kenaikan suku bunganya.

"Tidak ada keraguan bahwa ada dukungan mendasar dari dolar yang lemah dan potensi poros Fed," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin