Menuju konten utama

Harap-Harap Cemas Jenderal Gatot Nurmantyo Menuju Pilpres 2019

Nama Jenderal Gatot Nurmantyo meredup mendekati pendaftaran calon presiden dan wakil presiden 2019.

Harap-Harap Cemas Jenderal Gatot Nurmantyo Menuju Pilpres 2019
Mantan Panglima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (ke tiga kiri) berjalan bersama sejumlah tokoh masyarakat saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Alhamidy Banyuanyar, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (14/3/2018). ANTARA FOTO/Saiful Bahri

tirto.id - “Cuma bapak (Jenderal Gatot) masih belum bisa diganggu dulu,” ujar Rama Yumatha, Ketua Umum Relawan Selendang Putih Nusantara saat saya menanyakan agenda jenderal purnawirawan Gatot Nurmantyo, termasuk memintanya membantu membuat janji wawancara.

“Lewat ajudannya atau dengan saya juga bisa,” kata Rama.

Kelompok yang diketuai Rama itu adalah sekumpulan relawan pendukung Gatot Nurmantyo sebagai calon presiden 2019. Dulunya adalah komunitas seni yang berdiri pada 1998 dan sempat mendukung mendiang Abdurrahman Wahid menjadi calon presiden. Saat nama Gatot muncul dalam sigi lembaga survei, Relawan Selendang Putih Nusantara bangkit lagi dengan mendeklarasikan diri mendukung mantan panglima TNI itu menjadi presiden pada Januari 2018.

Upaya mendukung Gatot dilakukan kelompok relawan itu dengan menyambangi partai-partai politik, baik Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat. Terakhir, barisan pendukung jenderal 212 ini mendatangi Partai Berkarya besutan Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto.

"Kami membuka komunikasi dengan parpol dan menyodorkan nama Jenderal Gatot,” kata Rama, yang mengkliam kelompok relawan itu berjumlah tiga juta orang dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

“Sebagian alumni 212,” katanya.

Belakangan, komunikasi dengan ketiga partai itu surut, tapi kencang ke partai-partai kecil. “Kalau dengan PBB (Partai Bulan Bintang) dan Berkarya masih berkomunikasi,” ujar Rama.

Sekalipun begitu, mendekati tenggat pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada 10 Agustus 2018, nama Gatot perlahan hilang dari perbincangan jagat politik tanah air. Gatot beberapa kali muncul di media setelah ia menggunggah statusnya di media sosial. Menurut Rama, Jenderal Gatot masih menunggu perkembangan politik yang masih dinamis mendekati pendaftaran pasangan calon di KPU.

“Bapak masih menunggu. Karena sekarang elite partai sedang sibuk,” ujar Rama.

Beberapa kali kami berkirim pesan kepada Gatot melalui nomor telepon selulernya, tapi mantan Panglima TNI ini tak merespons permintaan wawancara. Pada Minggu, 5 Agustus lalu, Gatot mengirim sebuah pesan melalui aplikasi WhatsApp. Pesan itu berisi tulisan tentang Ustaz Abdul Somad.

“Copas dari sebelah. Suara dari keluarga UAS, 'Ustad sedang shalat, tolong jangan ribut,” begitu isi pesan Gatot kepada kami.

Gerilya Ke Parpol Politik

Setelah menanggalkan jabatannya sebagai Panglima TNI pada Desember 2017, Gatot Nurmantyo beberapa kali menemui para petinggi partai politik.

Pertama, Gatot menemui Megawati Soekarnoputri, kemudian Susilo Bambang Yudhoyono, dan terakhir Prabowo Subianto. Menurut Gatot, pertemuan itu ialah silahturahmi sekaligus mengucapkan terimakasih karena partai mereka pernah mendukung dia menjadi Panglima TNI.

Selain menemui tokoh dari tiga poros itu, belakangan Gatot makin intens berkunjung ke partai politik setelah ia resmi pensiun pada Maret 2018. Gatot diketahui pernah bertemu dengan elite Partai Amanat Nasional dan membicarakan ketertarikannya maju dalam Pilpres 2019. Namanya pun sempat digadang-gadang bakal dijagokan dengan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN.

Belakangan, rencana menduetkan Gatot dan Zulkifli Hasan memudar seiring PAN tergabung dalam "koalisi keumatan" yang menerima hasil ijtima politik ulama yang menjagokan Prabowo sebagai calon presiden, dengan memunculkan rekomendasi dua nama pendamping sebagai cawapres: Salim Segaf Al-jufri dari PKS dan Ustaz Abdul Somad.

“Dia datang silaturahim, berdiskusi, mana tahu ada jalan yang baik. Kelihatannya Pak Gatot berminat (maju Pilpres),” ujar Saleh Partaonan Daulay, Wakil Sekretaris Jenderal PAN kepada Tirto, 3 Agustus lalu.

Saleh mengatakan setelah hasil Ijtima Ulama itu, PAN memperhitungkan nama Ustaz Abdul Somad untuk diusung dalam Pilpres 2019. Meski demikian, ia menegaskan, PAN memprioritaskan kadernya diusung dalam Pilpres 2019.

“Kami masih memprioritaskan Pak Zulkifli Hasan bisa diterima,” ujar Saleh.

Di Partai Gerindra, wacana nama Gatot juga muncul setelah ia melakukan pertemuan dengan Prabowo Subianto. Belakangan, setelah Prabowo menyatakan diri maju dalam Pilpres 2019, nama Gatot mulai tak disebut-sebut dari internal Partai Gerindra. Apalagi, Gerindra juga mempertimbangkan nama baru yang diusung dalam "koalisi keumatan".

"Nama Pak Gatot memang sempat dipertimbangkan,” ujar Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria kepada Tirto.

Tapi kini situasi politik berubah setelah Ijtima Ulama yang menyebut secara gamblang bahwa Prabowo sebagai calon presiden 2019.

Sementara di PKS, nama Gatot juga sempat mencuat sebagai sosok yang dipertimbangkan buat diusung dalam Pilpres 2019. Bahkan, Gatot berencana menemui elite PKS di kantor mereka. Namun, Gatot tak menghadiri pertemuan dengan elite PKS dan malah mengutus ajudannya untuk menemui Presiden PKS Sohibul Iman.

Belakangan, nama Gatot memudar sebagai sosok yang bakal dijagokan dalam Pilpres 2019 oleh PKS. Usai Ijtima Ulama, partai dakwah ini justru bergerilya menjagokan kadernya Salim Segaf Al-Jufri, Ketua Majelis Syuro PKS.

“Jadi kami juga sudah bersepakat untuk mengawal ijtima ulama itu,” ujar Ledia Hanifa, Ketua DPP PKS, kepada Tirto.

Upaya melobi partai politik buat mengusung Gatot dalam Pilpres 2019 pun berujung buntu. Parpol tak secara tegas bakal mengusung jenderal yang dikenal memiliki basis massa muslim konservatif ini dalam Pilpres. Pada April 2018, isyarat partai politik belum mau meminangnya sebagai calon dalam Pilpres sempat diungkapkan Gatot.

"Semua melihat situasi," kata Gatot, 25 April lalu. Namun ia meyakini situasi itu masih bisa berubah menjelang pendaftaran yang dibuka hingga akhir 10 Agustus 2018.

“Semua bisa berubah karena politik itu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin,” ujar Gatot, diplomatis.

Infografik Hl Elektabilitas jenderal 212

Tak Muncul dalam Ijtima Ulama PKS

Nama jenderal Gatot Nurmantyo tak hanya meredup dalam pembahasan elite parpol sebagai sosok yang diperhitungkan dalam Pilpres 2019. Di Persaudaraan Alumni 212, nama Gatot juga tak dibidik menjadi sosok yang direkomendasikan sebagai calon presiden dan wakil presiden 2019.

Menurut Habib Novel Bamukmin, juru bicara Persaudaraan Alumni 212, nama Gatot memang tidak direkomendasikan sebagai calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan dalam rapat koordinasi nasional PA 212.

“Memang kami dari PA 212 tidak mengundangnya dan tidak merekomendasikan GN (Gatot Nurmantyo) dalam hasil rakornas PA 212,” kata Novel kepada Tirto, yang enggan menjelaskan alasannya.

Tak diundang termasuk juga tak mendapat rekomendasi Persaudaraan Alumni 212, Gatot juga tak terlihat saat Ijtima Ulama GNPF yang digelar pada 27 Juli hingga 29 Juli 2018. Hasil ijtima politik itu pun tak memunculkan nama Gatot sebagai capres dan cawapres.

“Saya tidak paham untuk GN (Gatot Nurmantyo) diundang atau tidak oleh GNPF-Ulama karena saya, kan, dari PA 212,” kata Novel.

Menurut Rama Yumatha, Ketua Umum Relawan Selendang Putih Nusantara, Gatot memang tak mendapat undangan saat Ijtima Ulama. Ia berkata bahwa komunikasi dengan eksponen gerakan yang memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama itu memang tidaklah intens sejak Gatot digadang-gadang bakal mencalonkan diri dalam Pilpres 2019.

“Mereka hanya komunikasi pada hal-hal strategis,” ujar Rama kepada Tirto.

Kini, menurut Rama, relawan pendukung Gatot masih menunggu dinamika politik pencalonan presiden hingga penutupan pendaftaran pada 10 Agutus mendatang. Jika nama Gatot tak menjadi calon dalam Pilpres, kelompok relawan itu bakal mengalihkan dukungan kepada calon lain.

“Yang pasti bukan ke Pak Jokowi," ujar Rama. "Tapi kalau Pak Gatot muncul, kami akan dukung."

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Arbi Sumandoyo

tirto.id - Politik
Reporter: Arbi Sumandoyo & Mawa Kresna
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam