Menuju konten utama

Hamas Tolak Lepas Senjata Sebelum Israel Keluar dari Gaza

Abu Ubaida sebut desakan BoP sebagai upaya lanjutkan genosida rakyat Palestina.

Hamas Tolak Lepas Senjata Sebelum Israel Keluar dari Gaza
Warga Palestina mengangkut barang-barang mereka di kota Rafah, Gaza selatan, pada 22 Januari 2025, saat penduduk kembali setelah kesepakatan gencatan senjata beberapa hari sebelumnya antara Israel dan kelompok Hamas Palestina. (Photo by BASHAR TALEB / AFP)

tirto.id - Sayap bersenjata Hamas, melalui juru bicara Abu Ubaida, menyatakan penolakan tegas untuk membahas pelucutan senjata sebelum Israel menarik seluruh pasukannya dari Jalur Gaza. Dalam pernyataan resminya pada Minggu (5/4/2026), Hamas menyebut desakan dari Board of Peace (BoP) tersebut sebagai upaya terselubung untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat Palestina di tengah proses gencatan senjata yang dimediasi AS.

Dikutip dari laporan Channel News Asia, Senin (6/4/2026), juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaida, melalui pernyataan yang disiarkan di televisi menegaskan bahwa mengangkat isu senjata secara kasar tidak akan diterima oleh pihaknya.

Isu mengenai pelepasan senjata Hamas telah menjadi hambatan utama dalam pembicaraan untuk menerapkan rencana Board of Peace (Dewan Perdamaian) usulan Presiden AS Donald Trump untuk Gaza.

Rencana tersebut bertujuan memperkuat gencatan senjata yang telah menghentikan peperangan berskala penuh selama dua tahun sejak Oktober lalu. Indonesia merupakan salah satu negara anggota BoP tersebut.

"Apa yang berusaha didorong oleh musuh hari ini terhadap perlawanan Palestina, melalui saudara-saudara mediator kita, sangatlah berbahaya," kata Abu Ubaida.

Menurut tiga sumber kepada Reuters pekan lalu, Hamas telah menyampaikan kepada para negara mediator bahwa mereka tidak akan membahas pelucutan senjata tanpa adanya jaminan bahwa Israel akan sepenuhnya ditarik keluar dari Gaza.

Ia menegaskan bahwa tuntutan pelucutan senjata tersebut, "bukanlah apa-apa selain upaya terang-terangan untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami, sesuatu yang tidak akan kami terima dalam keadaan apa pun."

Belum dapat dipastikan apakah komentar tersebut merupakan penolakan resmi terhadap rencana pelucutan senjata yang didukung AS tersebut, dan para pejabat politik Hamas juga belum memberikan tanggapan terkait hal ini.

Perang Hamas-Israel di Gaza meletus setelah para kombatan yang dipimpin Hamas melakukan serangan lintas batas ke Israel selatan, yang kemudian memicu serangan balasan destruktif dari Israel yang mengungsikan sebagian besar penduduk Gaza dan menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, Hamas dan Israel terus saling menuduh satu sama lain melanggar ketentuan kesepakatan.

Abu Ubaida lebih lanjut mendesak para mediator untuk menekan Israel agar memenuhi komitmen mereka berdasarkan rencana fase pertama Trump sebelum memulai diskusi apa pun mengenai fase kedua.

"Musuhlah yang merusak perjanjian tersebut," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar langsung dari pihak Israel mengenai pernyataan dari Abu Ubaida tersebut.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa proposal Trump untuk Gaza tersebut berisi rencana 20 poin. Sejak agresi meletus pada Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan sedikitnya 172.000 lainnya terluka.

Bahkan, sejak gencatan senjata yang dimediasi AS dan Qatar berlaku pada Oktober 2025 lalu, kantor berita Wafa mencatat lebih dari 705 warga Palestina tewas akibat serangan Israel.

Al Jazeera juga melaporkan kecaman Abu Ubaida terhadap peran Israel dalam perang AS-Israel di Iran. Ia mengutuk serangan Israel yang diluncurkan, "di tengah-tengah penipuan negosiasi, dengan kolusi penuh dan konspirasi dengan Amerika Serikat".

Perang di Iran yang dimulai 28 Februari lalu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. Abu Ubaida turut mengecam agresi baru Israel "terhadap negara saudara Lebanon" yang dimulai pada 2 Maret dan telah menewaskan lebih dari 1.400 orang. Ia memuji Iran, Hizbullah, dan Houthi di Yaman atas serangan balasan mereka.

Hamas juga mengecam pengesahan undang-undang hukuman mati baru oleh parlemen Israel yang hanya berlaku bagi warga Palestina. Abu Ubaida mendesak warga di Tepi Barat, "untuk mencari, dengan segala cara yang memungkinkan, untuk membebaskan para tahanan [Palestina]", dari penjara Israel.

Baca juga artikel terkait HAMAS VS ISRAEL atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah