tirto.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengajak Rais A’am PBNU, KH. Miftachul Akhyar untuk melakukan islah atau rekonsiliasi sebagai jalan keluar guna mengakhiri perpecahan yang tengah terjadi di tubuh PBNU.
Ajakan tersebut disampaikan Gus Yahya menyusul Musyawarah Kubro para Mustasyar NU yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 21 Desember 2025 lalu. Dalam forum tersebut, Gus Yahya menyatakan kesiapannya menempuh langkah islah demi menjaga keutuhan jam’iyah NU.
“Saya menyatakan bahwa saya siap mengupayakan islah. Dan bahwa pada hari itu juga, pada siang itu juga, saya sudah mengirim pesan kepada Yang Mulia Rais A’am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Miftachul Akhyar, untuk memohon waktu menghadap beliau,” ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (25/12/2025).
Gus Yahya menjelaskan permohonan pertemuan dengan KH. Miftachul Akhyar awalnya disampaikan melalui pesan singkat pada Minggu (21/12/2025) lalu. Kemudian, diperkuat dengan pengiriman surat resmi berstempel PBNU pada Senin (22/12/2025). Langkah tersebut ditempuh sebagai bentuk pelaksanaan kesepakatan Musyawarah Kubro yang memberikan waktu 3x24 jam untuk melaporkan hasil upaya islah.
Namun, hingga batas waktu tersebut berakhir, Gus Yahya mengaku belum memperoleh tanggapan atas permohonan pertemuan tersebut. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan berhenti berupaya.
“Sampai hari ini saya belum mendapatkan jawaban, tetapi saya tidak berputus asa. Bagi saya tidak ada jalan keluar yang lebih maslahat selain islah,” katanya.
Gus Yahya menilai rekonsiliasi menjadi kebutuhan mendesak agar konflik kepemimpinan di PBNU tidak berlarut-larut dan berdampak pada soliditas organisasi.
Ia pun mengajak seluruh jajaran NU di semua tingkatan untuk tetap menjalankan tugas dan pelayanan kepada umat, terlepas dari dinamika yang terjadi di tingkat pusat.
Selain mengajak KH. Miftachul Akhyar untuk berdialog, Gus Yahya menyatakan akan berkoordinasi dengan seluruh Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) di Indonesia, serta Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) di luar negeri, guna merumuskan langkah bersama menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia menegaskan ikhtiar islah yang ditempuh bukan didorong oleh kepentingan pribadi, melainkan demi menjaga persatuan, konstitusi, dan marwah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
“Yang terpenting adalah keutuhan jam’iyah dan keberlanjutan khidmah NU kepada umat. Karena itu, islah harus terus diupayakan,” pungkasnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































