tirto.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND) mengunjungi rumah Syaifur Rosi Abdillah, korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, di Desa Sumokali, Kecamatan Candi, Sidoarjo.
Rosi merupakan santri yang menjadi korban dan ditemukan selamat. Hanya saja salah satu kakinya harus diamputasi akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Saat ini, Rosi masih menjalani masa pemulihan.
Gus Ipul dan rombongan tiba di kediaman Rosi sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam kunjungan itu, Mensos memastikan seluruh kebutuhan Rosi terpenuhi, mulai dari layanan kesehatan, pendampingan sosial, hingga jaminan pendidikan agar masa depannya tetap terjaga.
“Alhamdulillah, kondisi adik kita Rosi terus membaik. Semangatnya luar biasa. Ia adalah contoh keteguhan hati anak muda yang tidak menyerah pada keadaan,” ujar Gus Ipul.
Pada kesempatan tersebut, Mensos juga menjelaskan bahwa seluruh unsur pemerintah harus bekerja sama menangani dampak dari musibah yang terjadi, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subiyanto.
“Presiden berpesan agar semua bergerak bersama. Ada Kemensos, Kemenko PMK, BNPB, Basarnas, Pemerintah Daerah, hingga Komisi Nasional Disabilitas. Semua hadir untuk memastikan korban tidak sendirian,” lanjut Gus Ipul.
Tidak bergerak sendirian, Kemensos berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Sidoarjo untuk memberikan dukungan perlindungan sosial, termasuk bantuan sekolah, kebutuhan pokok, dan jaminan kesehatan bagi korban.
Nantinya, setelah fase darurat terlewati, Kemensos akan menyiapkan rehabilitasi sosial agar Rosi dan keluarganya dapat beradaptasi dengan kehidupan baru.
“Yang paling penting adalah semangat anaknya tetap hidup, dan keluarga siap menerima serta mendukung. Rehabilitasi sosial tidak hanya fisik, tapi juga hati dan lingkungan,” pungkas Gus Ipul.
Pada kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Jonna Aman Damanik, menegaskan bahwa disabilitas bukanlah akhir perjalanan hidup. Ia memastikan negara hadir untuk menjamin masa depan korban tetap terbuka lebar.
“Kami memastikan proses rehabilitasi dan intervensi medis tidak membuat masa depan anak-anak terhambat, justru harus menjadi lebih baik,” ujar Jonna.
Jonna juga menegaskan bahwa korban akan mendapatkan bantuan kaki palsu fungsional, yang tidak sekadar alat bantu, tetapi benar-benar mampu mengembalikan mobilitas dan kepercayaan diri.
“Kalau dik Rosi kehilangan kaki kiri, maka tugas kami adalah memastikan alat bantu yang tepat untuk mengurangi hambatan itu. Setelahnya, akan ada pelatihan adaptasi tubuh dan mobilitas agar ia bisa kembali beraktivitas dengan percaya diri,” jelasnya.
Pembuatan kaki palsu akan berlangsung sekitar tiga bulan dengan pendampingan penuh dari Sentra Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial.
Bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny roboh pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB, saat para santri tengah menunaikan salat Ashar. Dugaan sementara, beban lantai empat yang sedang dicor menyebabkan struktur pondasi tidak kuat menahan tekanan sehingga ambruk hingga lantai dasar. Akibat kejadian tersebut, 67 santri dinyatakan meninggal dunia.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































