Gurita Bisnis Temasek di Indonesia

Oleh: Yantina Debora - 28 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Temasek memiliki saham di berbagai perusahaan internasional yang beroperasi di Indonesia.
tirto.id - Secara resmi Temasek mengumumkan penjualan seluruh sahamnya di Bank Danamon kepada perusahaan bank Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG). Penandatanganan perjanjian jual beli dilakukan oleh Asia Fiancial Indonesia Pte. Ltd, yang menjadi pemegang saham di Bank Danamon dan merupakan anak perusahaan Fullerton Holdings milik Temasek.

Jumlah saham yang dilepas anak perusahaan Temasek itu sebesar 73,8 persen. Penjualan dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, Temasek melepas 19,9 persen. Setiap saham dijual dengan harga Rp8.323 atau jika ditotal senilai Rp15,87 triliun.

Pada penjualan tahap kedua, Temasek akan melepas 20,1 persen saham. Rencananya, transaksi itu akan berlangsung pada tahun depan. Dengan pelepasan saham tersebut, MUFG akan menjadi pemilik saham terbesar di Danamon (40 persen). Sedangkan penjualan saham tahap tiga atau sisanya masih belum jelas kapan akan dilaksanakan.

"Kami telah lama mengakui peran Indonesia sebagai salah satu pendorong utama pembangunan di kawasan ini dan [kami] berusaha untuk bisa hadir di negara ini," kata kepala eksekutif MUFG untuk wilayah Asia dan Oceania Takayoshi Futae.

Penjualan saham Temasek Holdings di PT Bank Danamon sudah diperbincangkan sejak 2012. Saat itu, DBS Group Holdings asal Singapura tertarik untuk mengakuisisi saham Temasek di Danamon.

Sayangnya, setelah proses negosiasi yang memakan waktu lama, pada 2013, DBS memutuskan untuk membatalkan akuisisi saham Danamon senilai $7,2 miliar. Keputusan itu diambil menyusul pemerintah Indonesia yang dikabarkan akan mengubah regulasi soal kepemilikan saham oleh pihak asing di perbankan Indonesia.


Awalnya pihak asing diperbolehkan untuk memiliki 99 persen saham bank di Indonesia kemudian muncul RUU Perbankan yang membatasinya menjadi 40 persen. Hingga kini revisi pada UU Perbankan itu masih belum terealisasi.

Batal diakuisisi DBS, Temasek membuka peluang kepada perusahaan bank Cina dan Jepang yang tertarik untuk mengakuisisi sahamnya di Danamon. Saat itu, Temasek menyasar untuk menjual ke perusahaan Cina atau Jepang sebab perusahaan di kedua negara tersebut sedang gencar melakukan ekspansi di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan asuransi Jepang yang menggelontorkan sekitar $8,15 miliar untuk diinvestasikan di Asia Tenggara adalah contohnya.

Bank-bank asal Cina seperti Commercial Bank of China dan China Construction Bank saat itu juga menunjukkan ketertarikannya untuk ekspansi di Indonesia. Selain ekspansi bank, perusahaan energi Cina juga tertarik untuk masuk di Indonesia.

Mitsubishi UFJ saat itu juga dikabarkan menunjukkan ketertarikannya untuk mengakuisisi Bank Danamon. Bahkan ketertarikan itu sudah dilontarkan sejak setahun sebelumnya atau pada 2012. Namun Mitsubishi belum mencapai kesepakatan dengan Tamasek untuk membeli saham Danamon sebab perusahaan Jepang tersebut sedang menawar saham Bank of Ayudhya senilai $5,6 miliar. Kini Mitsubishi menjadi pemegang saham terbesar (77 persen) pada bank Thailand tersebut.

Tak ada kepastian dari Mitsubishi, Temasek pun mencoba untuk mendekati perusahaan Khazanah Nasional Bhd. Saat itu perusahaan pendanaan ini juga tengah berekspansi di Asia Tenggara. Namun kesepakatan jual beli saham Danamon juga tak terwujud dengan perusahaan asal Malaysia tersebut.

infografik temasek indonesia

Kehadiran Temasek di Indonesia

Meski telah menjual Danamon, bukan berarti Temasek yang dipimpin oleh Ho Ching (istri PM Singapura) itu akan angkat kaki dari Indonesia. Temasek menyatakan akan tetap berinvestasi di Indonesia pada sektor real estate serta teknologi.

Terlepas dari itu, masih ada sejumlah gurita bisnis Temasek di Indonesia. Jika ditelusuri situs webnya, ada sejumlah perusahaan di bawah naungan Temasek yang beroperasi di Indonesia.


Misalnya pada sektor telekomunikasi, media dan teknologi. Temasek memiliki perusahaan Mediacorp Pte Ltd yang dibangun di Singapura dan memiliki saham sekitar 52 persen di perusahaan media KapanLagi Network di Indonesia.

Selain Mediacorp, Temasek juga memiliki saham sebesar 52 persen di Singapore Telecomunications Limited atau biasa dikenal dengan Singtel. Perusahaan ini sudah tak asing di Indonesia sebab menjadi salah satu pemilik saham di Telkomsel.

Sebelumnya, Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia) yang juga milik Temasek pernah penguasai sekitar 40 persen saham PT Indosat Tbk. Namun ST Telemedia kemudian melepas saham itu ke Qatar Telecom Qsc (Qtel) senilai $1,8 miliar.


Temasek juga memperluas gurita bisnisnya pada perusahaan e-commerce raksasa asal Cina. Perusahaan yang didirikan oleh konglomerat Cina yaitu Jack Ma tersebut juga memiliki bisnis di Indonesia yaitu Lazada Group. Namun, kehadiran Temasek di Alibaba tak begitu signifikan karena hanya menguasai 1 persen saham pada perusahaan Cina tersebut.

Terlepas dari sektor telekomunikasi dan teknologi, Temasek juga memiliki gurita bisnis di sektor jasa keuangan yang juga beroperasi di Indonesia. Perusahaan itu memiliki investasi di AIA Group Limited, Prudential, Standard Chartered PLC dan DBS Group Holdings Ltd. Di antara penyedia jasa keuangan itu, Temasek paling banyak menanam saham di DBS sebesar 29 persen.


Di sektor properti, Temasek hadir di Indonesia melalui perusahaan Keppel Land Limited (Keppel Land). Sekitar 20 persen saham perusahaan ini dikuasai Temasek. Di Indonesia, Keppel Land bersama Modernland membangun usaha patungan. Jakarta Garden City merupakan proyek pertama Keppel Land di Indonesia.

Selain Keppel Land, ada juga saham Temasek di perusahaan CapitalLand sebesar 40 persen. CapitaLand merupakan salah satu pengembang yang kini tengah mambangun hunian bagi warga Jakarta bernama The Stature Jakarta.

Sektor ritel juga dijajaki Temasek. Sekitar 8 persen saham Dufry AG yang menjadi salah satu ritel travel terkemuka di dunia ini dikuasai Temasek. Di Indonesia, Dufry hadir di Bandara Ngurah Rai, Bali, dengan mengoperasikan duty free.

Gurita bisnis Temasek lainnya ada pada maskapai penerbangan Singapore Airlines. Dengan menguasai 56 persen saham, membuat Temasek menjadi pemilik saham tertinggi pada perusahaan maskapai tersebut. Di Indonesia, maskapai itu beroperasi di sekitar 13 kota mulai dari Jakarta, Surabaya, Bali hingga Lombok.

Meski kini Danamon sudah dilepas ke perusahaan Jepang, tak menutup kemungkinan Temasek akan ekspansi pada sektor lainnya di indonesia. Ini mengingat, jika melihat pada peta penyebaran investasi, Temasek masih memprioritaskan Asia sebagai ladang bisnis dengan proporsi mencapai 39 persen. Dengan melihat pertumbuhan di Indonesia, sudah pasti Temasek tidak akan melewatkan bisnisnya di Indonesia.

Baca juga artikel terkait INVESTASI ASING atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Windu Jusuf
DarkLight