Menuju konten utama

Gubernur BI: Ekonomi RI 2024 Masih Rawan karena Kondisi Global

Prospek perekonomian tahun depan masih rawan sehingga ia menilai perbaikan ekonomi akan terjadi pada 2025.

Gubernur BI: Ekonomi RI 2024 Masih Rawan karena Kondisi Global
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2023 di kantor BI, Jakarta, Rabu (29/11/2023). PTBI 2023 digelar dengan mengusung tema Sinergi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Nasional. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan ketidakpastian kondisi global masih akan terus berlanjut hingga 2024. Prospek perekonomian tahun depan masih rawan sehingga ia menilai perbaikan ekonomi akan terjadi pada 2025.

Ia menjelaskan, berbagai kondisi seperti perang geopolitik hingga perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina masih mempengaruhi kondisi perekonomian global. Hal itu yang menjadi sinyal ekonomi masih belum bisa membaik pada tahun depan.

“Dunia masih terus bergejolak, perang Rusia-Ukraina, Perang Dagang AS dan Tiongkok, dan kini konflik Israel-Palestina,” kata Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2023, Jakarta, Rabu (29/11/2023).

Fragmentasi geopolitik, kata dia, berdampak pada fragmentasi geoekonomi, yang pada akhirnya mengakibatkan prospek ekonomi global akan meredup pada 2024, sebelum mulai bersinar kembali pada 2025.

Perry mencatat, setidaknya terdapat lima karakteristik ketidakpastian global. Karakteristik tersebut berdasarkan tren yang terjadi dalam gejolak perekonomian setiap negara di dunia.

Pertama, menutut Perry, adanya perlambatan dan divergensi pertumbuhan. Ekonomi global diperkirakan tumbuh sebesar 2,8 persen pada 2024. Namun akan menguat pada level 3 persen pada 2025. Ia menyebut fenomena ini sebagai slower and divergent growth.

"Amerika masih baik, Tiongkok melambat, India dan Indonesia tumbuh tinggi," kata Perry.

Kedua, terdapat gradual disinflation, yang mana memproyeksikan penurunan inflasi yang melambat meski pengetatan moneter agresif dilakukan oleh negara-negara maju.

Ketiga, adanya fenomena higher for longer pada Fed Fund Rate yang masih terus tinggi pada 2024. Perry menilai, ada kecenderungan yield US treasury masih akan terus meningkat lantaran membengkaknya utang pemerintah Amerika Serikat.

Keempat, ia menyebut adanya fenomena ‘strong dolar’ AS yang menguat sehingga mengakibatkan tekanan pada depresiasi nilai tukar di seluruh dunia, termasuk rupiah.

Kelima, Perry menilai adanya kondisi cash is the king, yang mana adanya arus modal yang keluar dalam jumlah besar dari emerging market ke negara maju seperti AS. Hal ini didorong oleh tingginya suku bunga dan kuatnya posisi dolar.

“Sebagian besar akan lari ke Amerika Serikat, karena tingginya suku bunga dan kuatnya dolar AS,” kata Perry.

Baca juga artikel terkait PROYEKSI EKONOMI atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Maya Saputri