Menuju konten utama

Gejala Delirium Karena Covid-19: Penyebab, Ciri, Pasien yang Rentan

Delirium menjadi salah satu gejala yang bisa mengindikasikan Covid-19. Mengapa delirium dialami pasien positif corona?

Gejala Delirium Karena Covid-19: Penyebab, Ciri, Pasien yang Rentan
Ilustrasi corona virus. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Delirium adalah gejala berupa gangguan serius pada kemampuan mental yang membikin orang penderitanya mengalami kebingungan dan penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Mengutip laman Mayo Clinic, kemunculan awal gejala delirium bisa dalam waktu cepat: beberapa jam atau hari.

Ada beragam faktor yang bisa memicu delirium. Sejumlah faktor itu termasuk penyakit kronis, perubahan keseimbangan metabolik (seperti natrium rendah), pengobatan, infeksi, pembedahan, keracunan. Orang yang berusaha berhenti dari kecanduan alkohol atau obat juga bisa mengalami masalah ini.

Gejala delirium dan demensia bisa mirip. Informasi dari anggota keluarga atau orang-orang dari sekitar penderitanya mungkin penting bagi dokter untuk mendiagnosis gejala ini.

Delirium terjadi ketika muncul perubahan mendadak di otak yang mengakibatkan kebingungan secara mental dan gangguan emosi. Maka itu, orang yang mengalami delirium kerap sulit untuk berpikir maupun mengingat serta memperhatikan, hingga susah tidur dan lainnya.

Belakangan, banyak pasien Covid-19 juga terdeteksi mengalami gejala delirium. Publikasi resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak beberapa bulan lalu, sudah menyebut bahwa Covid-19 dapat terkait dengan manifestasi gangguan neurologis seperti delirium, ensefalopati, agitasi, stroke, dan meningoensefalitis.

Penyebab Delirium Dialami Pasien Covid-19

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah mada (RSA UGM), dr. Fajar Maskuri Sp.S., M.Sc mengatakan delirium merupakan gangguan sistem saraf pusat yang berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan.

Pada beberapa pasien Covid-19, menurut Fajar, delirium terjadi akibat disfungsi otak. Kata dia, gejala delirium yang dialami pasien Covid-19 bisa terjadi karena multifaktor.

Salah satunya faktor itu adalah kekurangan suplai oksigen untuk tubuh penderita Covid-19, yang kerap disebut dengan hipoksia.

Fajar menambahkan, inflamasi sistemik, gangguan sistem pembekuan darah yang terlalu aktif (koagulopati), dan infeksi Covid-19 yang berpengaruh langsung ke saraf juga bisa memicu kondisi delirium.

Selain itu, mekanisme autoimun pascainfeksi dan endotheliitis membawa pengaruh pula terhadap kemunculan gejala delirium pada pasien Covid-19. Namun, kata Fajar, faktor yang terakhir itu lebih jarang prevalensinya dibandingkan yang lain.

Mengutip ulasan di laman Cleveland Clinic, selain kekurangan suplai oksigen dan inflamasi karena respons daya imun tubuh, delirium pada pasien Covid-19 juga bisa terjadi jika virus corona (Sars-CoV-2) benar-benar menyerang neuron di jaringan otak. Dugaan ini muncul karena otak memiliki reseptor ACE2 mirip reseptor di paru-paru yang menjadi pintu masuk virus corona saat menyerang sel.

Pasien Covid-19 yang Rentan Alami Delirium

Menurut dr Fajar Maskuri, delirium rentan terjadi pada orang lanjut usia (lansia) atau di atas 65 tahun, terutama yang lebih lemah. Meskipun begitu, bukan berarti pasien Covid-19 berusia muda tidak dapat terkena delirium.

Fajar menjelaskan kondisi delirium pada pasien Covid-19 berusia muda menandakan adanya ensefalopati (disfungsi otak) akibat gangguan pernapasan yang berat.

“Secara umum, delirium dialami 13-19 persen pasien Covid-19,” Fajar menambahkan.

Kata Fajar, gejala delirium pada pasien Covid-19 berhubungan dengan kegagalan sitem multi-organ. Maka, pasien Covid-19 dengan gejala berat juga memiliki risiko 4 kali lipat lebih tinggi mengalami delirium daripada mereka yang mengalami sakit lebih ringan.

“Delirium pada pasien Covid-19 berhubungan dengan pemanjangan masa rawat inap (length of stay) hingga 3 kali lipat,” kata Fajar dalam siaran resmi UGM.

Dalam jangka panjang, delirium pun berhubungan dengan outcome fungsional yang lebih buruk pada pasien-pasien Covid-19 yang dirawat. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan jangka panjang untuk menilai beban akibat delirium yang sebenarnya.

Di sisi lain, Fajar mencatat, beberapa pasien Covid-19 dengan gejala ringan yang tak perlu rawat inap pun mengalami gangguan konsentrasi terus-menerus dan penurunan memori jangka pendek (brain fog). Oleh sebab itu evaluasi sistem saraf dan kognitif menjadi penting untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut serta menentukan terapi rehabilitasi yang dibutuhkan pasien.

“Kenali dan waspadai delirium yang dapat menjadi gejala awal Covid-19. Segera periksakan ke pusat pelayanan kesehatan terdekat bila ada keluarga yang dicurigai mengalami delirium,” ujar dia.

Ciri Gejala Delirium di Pasien Covid-19

Dalam catatan dr Fajar Maskuri, terdapat sejumlah ciri gejala delirium pada pasien Covid-19. Di antaranya adalah: kebingungan, disorientasi, bicara menggigau, gelisah, sulit konsentrasi, kurang dapat fokus, hingga halusinasi.

“Gejala-gejala itu munculnya fluktuatif dan biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari,” ujar Fajar.

Namun, Fajar juga mengingatkan, ada beberapa kondisi lain yang menyerupai delirium di lansia yang terinfeksi Covid-19. Contohnya, delirium akibat gangguan kognitif yang bersifat fluktuatif seperti yang terjadi pada ensefalopati uremikum. Ciri serupa bisa terjadi pada gangguan kognitif terus-menerus karena demensia.

Selain itu, delirium pun bisa dialami oleh pasien-pasien yang mendapat obat-obatan psikotropika karena kondisi penyakit tertentu. Jadi, informasi tentang riwayat penyakit dan obat-obatan yang dikonsumsi pasien sangat penting untuk disampaikan pihak keluarga kepada petugas medis.

Indikasi delirium sebagai gejala Covid-19 diperkuat dengan sejumlah riset terbaru. Hasil studi baru yang diterbitkan jurnal JAMA Network pada 19 November 2020, serta melibatkan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts, AS, menyimpulkan hal itu.

Studi tersebut menganalisis catatan medis 817 pasien Covid-19 tujuh rumah sakit di lima negara bagian AS. Para pasien itu berusia 65 tahun ke atas, rata-rata 77 tahun, dan menjalani perawatan pada pertengahan Maret 2020.

Studi itu menyimpulkan seperempat pasien berusia 65 tahun tiba di ruang gawat darurat dengan mengigau. Sepertiga dari mereka tidak memiliki gejala umum yang terjadi pada pasien Covid-19, seperti batuk atau demam.

"Salah satu pesan utama kami, terutama saat ini, adalah benar-benar mencoba menyaring semua orang, terutama orang dewasa yang lebih tua," kata Benjamin Helfand, salah satu penulis studi dan kandidat doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts, kepada STAT News.

Maksud Benjamin, para lansia yang mengalami gejala mirip delirium perlu segera menjalani tes Covid-19 meskipun tidak menunjukkan sakit seperti dialami pasien corona pada umumnya.

Studi Benjamin dan timnya menyimpulkan gejala delirium, yang berupa kebingungan, disorientasi, kurangnya fokus, dan perubahan kognitif lainnya, bisa menjadi pertanda infeksi Covid-19 pada lansia, yang memiliki pola respons kekebalan tubuh terhadap virus berbeda dari orang muda.

Para peneliti yang mengerjakan studi itu merekomendasikan agar riset ke depan berfokus meneliti karakter delirium pada pasien Covid-19 dan perawatan yang tepat untuk mempersingkat durasi gejalanya atau mengurangi keparahannya.

__________________________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan lainnya dari Addi M Idhom

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH