tirto.id - Pada paruh pertama abad ke-19, Batavia diwarnai pemisahan rasial antara orang-orang Belanda totok, Indo, dan Inlander. Di tengah lanskap segregasi itu, lahir sosok Frederik Lodewijk Anthing, seorang Meester in de Rechten lulusan Belanda, petinggi Mahkamah Agung, namun hatinya terpaut pada mistisisme Jawa.
Anthing menghabiskan harta bendanya hingga bangkrut demi mendidik anak-anak petani menjadi penginjil. Hal ini akhirnya dianggap subversif oleh gereja negara dan pemerintah karena berani menahbiskan pribumi sebagai pemimpin rohani.
Ia merupakan simbol perlawanan terhadap apatisme institusi. Kisahnya seperti jembatan di atas jurang, antara rasionalitas Barat dan kearifan lokal, hukum negara dan hukum kasih, gereja batu di pusat kota dan gubuk doa di hutan Ommelanden (kawasan luar Kastil Batavia).
Panggilan Rohani dan Dedikasi
Frederik Lodewijk Anthing lahir di Batavia pada 29 April 1815 dari rahim kolonialisme yang rumit. Ayahnya seorang Belanda Lutheran dan ibunya berdarah Jerman. Warisan ini menanamkan pengaruh Pietisme, aliran dalam Protestan tentang kesalehan pribadi dan kehangatan batin.
Sejak kecil ia hidup di dua dunia, tumbuh di iklim tropis Batavia, namun intelektualnya dibentuk di Eropa. Di Universitas Leiden, ia menyerap hukum Romawi-Belanda sekaligus terpapar gerakan Réveil, kebangkitan rohani yang menolak rasionalisme Pencerahan dan menekankan iman hidup serta kepedulian sosial.
Anthing memulai karier di Landraad Semarang pada akhir 1850-an. Kota pelabuhan itu menjadi pertemuan pedagang Tionghoa, birokrat Belanda, dan aristokrasi Jawa. Duduk sebagai hakim, ia berbeda dari koleganya yang melihat hukum sekadar alat ketertiban.
Interaksinya dengan masyarakat membuka mata pada dunia batin Jawa, penuh pencarian gaib dan kerinduan akan pembebasan. Di Semarang pula ia bertemu penginjil independen seperti Kiai Ibrahim Tunggul Wulung. Dari perjumpaan ini lahir gagasan Kekristenan yang tidak harus menghapus identitas Jawa, melainkan bisa memenuhi kerinduan mistiknya.
Bagi Anthing, Gereja Protestan (Indische Kerk) hanyalah lembaga administratif yang melayani orang Belanda, dan menutup mata terhadap jutaan pribumi. Baginya, Injil yang terkurung tembok rasial adalah injil yang mati. Ketidakpuasan ini mendorongnya bertindak.
Seturut buku A History of Christianity in Indonesia (2008:908), bersama tokoh Pietis seperti E.W. King, J. Esser, dan seorang Kristen Tionghoa, Gan Kwee, ia mendirikan Genootschap voor In-en Uitwendige Zending (GIUZ) pada 1851. Organisasi swasta ini menjadi wahana “subversif” pertamanya, menjangkau yang tak terjangkau dan menembus batas rasial yang dijaga negara.
Warsa 1863, reputasinya membawa Anthing ke Batavia sebagai Wakil Presiden Mahkamah Agung. Secara sosial ia berada di puncak, tinggal di kawasan elite dan bergaul dengan para pejabat kolonial.
Medan Tempur Spiritual di Tatar Sunda
Jawa Barat merupakan wilayah yang sebagian besar penduduknya telah memeluk Islam, dengan tradisi spiritual dan budaya yang kuat. Bagi para misionaris Eropa pada era itu, wilayah ini dianggap sebagai tantangan besar dan medan pertempuran rohani yang penuh dengan hambatan.
Chaider S. Bamualim (2015) dalam tesisnya, menyebutkan di sinilah muncul kejeniusan sekaligus kontroversi Anthing. Ia sadar untuk menyentuh hati pribumi harus berbicara dengan bahasa kosmologi mereka. Ia tidak menawarkan Kristen sebagai institusi Barat, melainkan sebagai budaya lokal lewat ngélmu, sebuah istilah Jawa yang merujuk pada ilmu spiritual tradisional, bahkan menggunakan jampi-jampi dan mantra.
Bamualim mengisahkan salah satu kesuksesan metode itu berhasil di Pondok Melati, pinggiran Batavia. Di sana hidup Semain Empi, seorang jawara Betawi yang mengumpulkan berbagai ngélmu untuk kesaktian dan wibawa. Ketika didikan Anthing masuk ke wilayahnya, Semain menantang ilmu baru itu.
Dalam interaksi yang intens, pertahanannya runtuh. Ia mengakui bahwa ngélmu yang dimilikinya hanyalah bayang-bayang, sementara yang dibawa murid Anthing adalah Ngelmu Sejati dari Sumber Segala Kuasa.
Anthing mereformulasi Injil, sebagaimana dipraktikkan Ibrahim Tunggul Wulung dan Kiai Sadrach di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Studi bertajuk “Wédha Utama: A Framework for GKJ to Formulate Principal Teachings in the Context of Jawa” (2015), menilai Yesus bukan sekadar penebus dosa, melainkan Guru Sejati atau Ratu Adil yang berkuasa atas segala roh. Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli diajarkan sebagai mantra baru yang lebih sakti daripada jampi dukun. Alkitab dipandang sebagai pusaka ilahi.
Pendekatan tersebut dituduh sinkretis, namun bagi Anthing, rongga dalam ngélmu Jawa justru wadah yang siap diisi Roh Kudus. Ia tidak menuntut pengikutnya menjadi “Belanda Hitam” (Zwarte Hollanders), melainkan tetap Jawa dengan isi batin yang baru.
Metode penyebaran Injil pun berbeda. Anthing dan murid-muridnya tidak berkhotbah di mimbar, melainkan berdebat terbuka. Mereka mendatangi padepokan, menantang pandangan dunia para dukun, mengajukan pertanyaan filosofis yang tak terjawab, lalu menutup dengan demonstrasi kuasa doa, serta penyembuhan atau pelepasan roh jahat.
Aktivitasnya berkembang di wilayah-wilayah sekitar Bogor dan Karawang, daerah-daerah yang menjadi laboratorium pertama untuk metodologi inovatif Anthing. Dia memandang setiap orang Sunda sebagai individu yang berharga, yang memiliki hak yang sama untuk mengenal kebenaran Kristus sebagaimana orang-orang Eropa atau kalangan elite kolonial.
Seminari dan Kaderisasi Pribumi
Pada 1870, Anthing memilih pensiun dini dari Mahkamah Agung. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena alih-alih menikmati masa tua di Eropa dengan pensiun besar, ia tetap tinggal di Batavia dan mencurahkan hidupnya untuk misi.
Rumah besarnya di Meester Cornelis (kini Jatinegara) diubah menjadi pusat pelatihan penginjil, tempat puluhan pemuda Jawa, Sunda, hingga Bugis ditampung. Semua kebutuhan mereka ditanggung dari kantong pribadi Anthing, sebuah pengorbanan yang perlahan menggerogoti kekayaannya hingga ia jatuh miskin.
Pendidikan di rumah itu tidak menekankan bahasa Yunani atau Ibrani seperti seminari Belanda. Kurikulumnya pragmatis, berorientasi lapangan, pemahaman Alkitab dasar dengan fokus pada kuasa Yesus dan perumpamaan, apologetika kontekstual dan guru ngélmu, serta kemandirian iman.
Di antara murid-muridnya, Radin Abas—kelak dikenal sebagai Kiai Sadrach Surapranata—menjadi sosok paling bersinar sekaligus paling kompleks. Ia dipertemukan oleh Ibrahim Tunggul Wulung yang juga memiliki dua anak di pondok Anthing.
“Radin Abas tetap tinggal di rumah Anthing, mulanya sebagai pembantu, kemudian ia diangkat sebagai ‘anak’ oleh Anthing,” tulis C. Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa (2020:110).
Sadrach lalu mendirikan jemaat Golongane Wong Kristen Kang Mardika yang mandiri, menolak dominasi pendeta Belanda, dan tetap mempertahankan simbol budaya Jawa. Meski dituduh sesat oleh misionaris ortodoks seperti Lion Cachet, Anthing tetap menjadi pelindung spiritualnya.
Hubungan mereka mencerminkan transisi kekuasaan dari patronase Eropa yang penuh kebajikan menuju emansipasi pribumi yang berani. Sadrach adalah bukti keberhasilan terbesar pedagogi Anthing.
Dengan pasukan penginjil pribumi yang digembleng di rumahnya, Anthing meluncurkan kampanye sistematis ke wilayah Ommelanden dan Jawa Barat, daerah yang selama ini dianggap tertutup bagi Injil karena kuatnya pengaruh Islam.
Ihsan Ali Fauzi, dkk (2023) menyebut murid-muridnya itu kemudian menyebar mendirikan pos penginjilan di sekitar Jakarta, antara lain Gunung Puteri, Pondok Melati, Kampung Sawah, Cigelam, Pasirkaliki (Karawang), Tanah Tinggi (Tangerang), Ciater (Serpong), Cikuya (Banten) dan Cakung.
Pendirian seminari lebih permanen di Depok menunjukkan keseriusan Anthing dalam membangun infrastruktur pendidikan jangka panjang. Peneliti terkemuka seperti Prof. Dr. Hendrik Kraemer, dalam tulisannya memuji dan mengakui secara eksplisit peranan Anthing dalam penyebaran Kristen di kalangan pribumi Jawa Barat dan Banten.
Kraemer melihat apa yang Anthing lakukan bukan sekadar pekabaran Injil biasa, melainkan sebuah revolusi dalam metodologi misi Kristen yang menghormati otonomi dan kemampuan masyarakat lokal.
Pondok Melati menjadi tonggak awal terbentuknya komunitas Kristen Betawi. Kampung Sawah berkembang menjadi benteng budaya Kristen yang bertahan hingga kini. Cigelam membuka akses ke pedalaman Jawa Barat, sementara Tanah Tinggi menunjukkan multietnis dalam jemaat.
Di Sukabumi, salah satu muridnya yang bernama Petrus mengajarkan agama kepada para petani di Cikembar, yang membuat juragan tanah Simon van Eendenburg tidak senang. Karena intimidasi dan pembatasan, Petrus dan 65 pengikutnya meninggalkan Cikembar menuju Rawaselang, Cianjur. Eksodus tersebut kemudian melahirkan Kabudalan, tradisi tahunan Gereja Kerasulan Pusaka di Rawaselang yang diperingati setiap tanggal 13 Juni.
Kendati begitu, jika dibandingkan dengan wilayah lainnya, penyebaran agama Kristen di Jawa Barat tidak memuaskan misi zending (pekabaran injil). Menurut Jurnal Patanjala (2019), pada 1917 hanya ada sekitar 3.000 orang Kristen di Jawa Barat, sementara itu di wilayah penyebaran Kristen lainnya dengan jumlah zending yang terbatas dan lebih sedikit aktivitas pengkristenannya, sudah jauh lebih banyak mengkristenkan orang. Laporan juga mengutip ucapan Kraemer yang mengatakan bahwa Jawa Barat adalah daerah yang tandus bagi penyebaran Kristen.
Menjelang akhir 1870-an, Anthing jatuh miskin setelah hartanya habis untuk membiayai puluhan penginjil dan pos misi. Pada 1879 ia kembali ke Belanda, berharap mendapat dukungan dana. Namun perjalanan itu berubah menjadi ziarah spiritual yang mengubah dirinya.
Di sana ia mendapati gereja-gereja Protestan utama dingin dan rasionalis, jauh dari api rohani yang ia rindukan. Dalam pencarian itu ia bertemu Gereja Kerasulan (Apostolische Kerk), cabang gerakan Irvingian dari Skotlandia, yang menawarkan semangat baru.
Pada 12 Oktober 1879 ia dimeteraikan sebagai anggota, lalu ditahbiskan sebagai Rasul untuk Jawa dan Hindia Timur satu tahun kemudian. Gelar itu memberinya legitimasi ilahi yang melampaui otoritas kolonial.
Sekembalinya ke Batavia pada pertengahan 1881, Anthing berkeliling dari satu pos misi ke pos lain, menahbiskan pelayan baru, dan berusaha menanamkan struktur liturgi Kerasulan ke dalam jemaat-jemaat sederhana. Namun tubuhnya mulai kewalahan. Usianya sudah 63 tahun, usia senja di iklim tropis yang sarat penyakit.
Di Batavia pada awal 1880-an, trem uap menggantikan trem kuda, berat dan bising, sering kali tidak aman. Jalurnya membelah jalan tanah berdebu, berbagi ruang dengan pejalan kaki, delman, dan pedagang. Masyarakat telah berulang kali diperingatkan untuk tidak naik atau turun trem sampai benar-benar berhenti. Tersandung sekecil apa pun berisiko jatuh di antara dua gerbong.
Tanggal 12 Oktober 1883 menjadi hari kelabu. Hari itu, Anthing sedang dalam perjalanan pelayanan di sekitar Meester Cornelis. Saat hendak turun dari trem, entah karena sentakan mendadak atau langkah yang tak lagi tangkas, ia terjatuh ke arah rel. Roda besi yang digerakkan uap melindas kakinya, menghancurkan tulang dan daging. Jeritannya tenggelam dalam desis mesin dan kepanikan orang-orang.
“Namun, Tuan Anthing meninggalkan trem terlalu dini dan terhuyung-huyung di antara dua gerbong, dengan akibat yang malang, kakinya patah. Ia segera dibawa ke rumah sakit terdekat, tetapi semua pertolongan sia-sia,” tulis surat kabar Soerabaijasch Handelsblad terbitan 18 Oktober 1883.
Di tengah doa murid-murid yang mengelilinginya, Frederik Lodewijk Anthing mengembuskan napas terakhir.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id































