Ekoterapi: Kerja-Kerja Alam dalam Proses "Healing" Kesehatan Mental

Oleh: Abdul Hadi - 16 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kontak dengan alam punya sejarah panjang dengan perkembangan evolusi manusia.
tirto.id - Apakah Anda pernah berpikir kenapa suara percik dan aliran air dapat menenangkan? Kicauan burung dan suara alam seringkali dijadikan instrumen di ruang meditasi sampai dengan lagu pengiring hingga­ terlelap tidur.

Rupanya kontak dengan alam punya sejarah panjang dengan perkembangan evolusi manusia. Dilansir dari Psychology Today, genetik yang kita warisi punya hubungan turun-temurun dengan alam dari nenek-moyang kita.

Oleh sebab itu, sensasi berada di alam terbuka memberi rasa tenang dan nyaman, tak ubah semacam rasa nyaman ketika pulang kembali ke rumah, atau seperti rasa tenang bayi berada di pangkuan ibunya. Bahkan hanya sekadar mendengarkan suara gemericik air atau suara alam melalui audio ponsel pun memiliki efek relaksasi tak jauh berbeda.

Akan tetapi, seiring tingginya tingkat urbanisasi, manusia kian terpisah dari alam. Dunia perkotaan yang diharapkan memberi kemudahan finansial, nyatanya tidak menyediakan kesejahteraan sebagai timbal baliknya.

Orang boleh jadi memiliki cukup materi, namun tidak dengan kesehatan emosinya. Studi yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America menyebutkan bahwa urbanisasi yang kian tinggi diasosiasikan dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental, terutama kecemasan dan depresi.

Sebaliknya, orang yang tinggal di perdesaan jarang sekali mengalami stres akut. Hal ini salah satunya disebabkan mereka memiliki kontak intens dengan alam, yang dihubungkan dengan efek positif dan kesejahteraan emosi.

Hal itu pula yang menyebabkan kontak dengan alam punya efek menyembuhkan sebagaimana disebut Steve Taylor dalam bukunya Waking From Sleep (2010).

Steve memaparkan bahwa ketika berada di alam, otak manusia akan memproses jauh lebih sedikit informasi daripada keadaan normal.

Secara alami, alam menjadikan pikiran jernih dan melepaskan konsentrasi jadi relaksasi. Yang lebih penting lagi, keindahan dan hijaunya alam berefek seperti pengaruh mantra di terapi meditasi; mengharmonikan "percakapan pikiran" yang ruwet.

Hasil positifnya, rasa nyaman dan tenang tersebut menyeimbangkan perasaan dan menguatkan mental serta persepsi orang tersebut.

Melakukan kontak dengan alam secara sengaja kemudian dijadikan sebagai terapi oleh Howard Clinebell dari Universitas Columbia, yang pertama kali menamainya dengan sebutan ekoterapi pada 1996.

Howard menjadikan ekoterapi sebagai metode penyembuhan bagi penderita stres akut, gangguan kecemasan, dan pengidap depresi.

Bagaimana ekoterapi dapat berefek sebagai metode penyembuhan?

Dr. Gregory Bratman dari Universitas Stanford membuktikannya melalui riset dengan dua kelompok partisipannya. Ia meminta para partisipan untuk berjalan-jalan dua situasi berbeda di San Francisco Bay Area.

Kelompok pertama diminta untuk berjalan-jalan di daerah transportasi sibuk dan padat, sementara kelompok kedua diminta berjalan di daerah taman, alam terbuka yang lengkap dengan bukit dan teluknya.


Gregory Bratman menemukan bahwa berjalan di alam terbuka menurunkan tingkat depresi, pikiran negatif, serta meningkatkan perasaan nyaman. Ia melakukan tes kognitif pada kedua partisipan dan mendapati bahwa orang-orang yang berada di alam terbuka memiliki performa lebih baik di tes kognitif tersebut.

Selain itu, ia juga meneliti sirkulasi darah di bagian otak partisipan yang berjalan di alam terbuka menggunakan MRIs atau Pencitraan Resonansi Magnetik.

Gregory menemukan bahwa aktivitas otak para pertisipan di bagian depan atau subgenual prefrontal cortex telah berkurang. Aktivitas berlebihan di area ini berkaitan dengan rasa khawatir dan cemas, serta gejala-gejala depresi.

Di Jepang, terdapat frasa shinrin-yoku yang artinya berada di suasana hutan atau juga mandi di aliran air di hutan.

Orang-orang Jepang meyakini bahwa menghirup aroma kayu-kayuan, mendengarkan gemericik dan aliran air, serta memandang lanskap hutan memberikan sensasi relaksasi dan mengurangi tegangan mental yang mereka rasakan.

Tentunya, untuk mendapatkan manfaat ekoterapi, tidak harus berjalan menembus area hutan. Ekoterapi dapat dilakukan dengan beragam aktivitas di alam terbuka.

Mulai dari keluar rumah dan mengunjungi taman, melakukan meditasi alam, berolahraga di ruang terbuka, atau yang lebih ekstrem lagi dengan berkemah atau mendaki gunung.


Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight