Menuju konten utama

Donald Trump dan Gonjang Ganjing Pasar Saham 2016

IHSG mencatat pertumbuhan terbaik kedua di Asia Pasifik dan kelima di dunia, di tengah ketidakpastian politik di AS dan juga belum pulihnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Donald Trump dan Gonjang Ganjing Pasar Saham 2016
Seorang karyawan melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/9). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

tirto.id - Politik dan pasar saham adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Untuk tahun 2016, pergerakan pasar saham dunia tak lepas dari sentimen pemilihan presiden Amerika Serikat. Sentimen lainnya adalah keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan Brexit.

Dari dalam negeri sentimen positif datang dari upaya pemerintah untuk mendorong kepatuhan wajib pajak melalui amnesti pajak. Di luar dugaan, program ini ternyata mendapatkan respons yang luar biasa.

Amnesti Pajak periode I menghasilkan penerimaan uang tebusan Rp97,2 triliun, dengan deklarasi harta mencapai Rp4.500 triliun dan repatriasi Rp137 triliun. Sukses dengan amnesti pajak periode I, pemerintah melanjutkannya dengan periode II. Menjelang berakhirnya periode II, total deklarasi harta mencapai Rp4.228 triliun.

"Inisiatif pemerintah mengenai amnesti pajak dan pembiayaan jangka panjang, telah mendorong kinerja pasar modal," kata Muliaman Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kesuksesan program amnesti pajak ini memberikan sentimen positif di tengah kelesuan perekonomian. Bank Dunia sebelumnya merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi dunia menjadi hanya 2,4 persen, dibandingkan proyeksi semula di kisaran 2,9 persen. Pemangkasan proyeksi ini disertai dengan penurunan volume perdagangan dunia tahun 2016, yang seakan menegaskan belum solidnya pemulihan ekonomi.

Sejalan perlambatan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi domestik juga berjalan lambat, meski bisa disebut lebih baik dibandingkan emerging market lainnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2016 tercatat sebesar 5,02 persen, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 5,19 persen. Namun, lebih baik dibandingkan triwulan III-2015 sebesar 4,74 persen. APBN-P 2016 menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen.

Stabilnya pertumbuhan ekonomi ini menjadi topangan kuat keyakinan investor, sehingga membuat IHSG bisa bertahan di level 5000 hingga penghujung 2016.

"Di tengah kekhawatiran dunia, apa yang kita capai pada IHSG patut kita banggakan. Pasalnya, di sepanjang tahun ini IHSG ditutup dengan mengalami kenaikan 15,32 persen," ujar Menko Perekonomian Darmin Nasution dalam sambutan penutupan perdagangan akhir tahun 2016. (Angka kenaikan 15,32% adalah berdasarkan perhitungan OJK mengacu pada penutupan perdagangan 29 Desember 2016)

Mengawali tahun 2016, IHSG berada di level 4.593,01. IHSG untuk pertama kalinya menembus level 5.000 pada 30 Juni 2016. IHSG ditutup di level 5.016,65 berkat sentimen positif dari program amnesti pajak dan juga memudarnya sentimen negatif seputar British Exit atau Brexit. Dampak Brexit sendiri memang tidak terlalu siginifikan kepada Indonesia.

"Saya rasa dampak Brexit tidak langsung dan tidak signifikan," kata Dirut Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio.

Sentimen terbesar justru dari kesuksesan amnesti pajak diharapkan bisa membawa kelonggaran fiskal sehingga APBN lebih sehat untuk menggerakkan roda perekonomian. Semenjak saat itu, IHSG terus stabil di level 5.000.

Amnesti pajak merupakan program andalan pemerintah untuk bisa mengejar target penerimaan pajak pada APBN-P 2016 yang ditetapkan Rp1.539,2 triliun. Seputar amnesti pajak bisa dibaca melalui laporan khusus Tirto.id terkait Amnesti Pajak.

IHSG mencapai level tertingginya sepanjang 2016 bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Pada 4 Oktober 2016, IHSG ditutup di level 5.472,32. IHSG sempat mencapai titik intraday tertinggi lagi di 5.478,03 pada 9 November 2016, bertepatan dengan positifnya bursa-bursa global menjelang pemilihan presiden AS. Optimisme atas kemenangan Hillary Clinton membuat pasar saham bergairah, termasuk Indonesia.

Sayangnya, pergerakan positif IHSG itu hanya sebentar karena IHSG akhirnya ditutup melemah ke level 5.414,32. Hal itu terjadi setelah hasil pilpres AS membalikkan keadaan, dengan kemenangan ada di tangan Donald Trump. Investor syok dan tidak memperkirakan kemenangan Trump.

Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS sempat mengguncang pasar saham. Seputar kemenangan Trump dan terhadap perekonomian Indonesia dapat dibaca dalam laporan khusus Tirto.id

Namun, syok pasar global hanya berlangsung sesaat dan indeks saham di berbagai belahan dunia akhirnya pulih. Ekspektasi Trump akan menggenjot perekonomian melalui proyek-proyek infrastruktur besar membuat investor kembali bergairah. Setelah itu, IHSG stabil cenderung melemah sebelum akhirnya menutup perdagangan 2016 di level 5.296,71.

INFOGRAFIK HL Pasar Saham 2016

Politik AS

Pemilihan Presiden AS memang memberikan mood yang berubah-ubah di pasar. Dua hari setelah Trump memastikan kemenangannya, Dow Jones kembali menembus level tertingginya. Pada 10 November 2016, Dow Jones sempat naik 191 poin menembus 18.807,88. Dua indeks utama AS, S&P 500 dan Nasdaq juga naik.

Sebelum pilpres AS, investor cenderung berpihak pada Hillary Clinton. Optimisme membuncah bahwa Hillary akan memenangkan pertarungan melawan Trump. Polling demi polling yang memenangkan Hillary membuat pasar semakin optimistis.

Pada Senin, 7 November, sehari sebelum pemilihan presiden, Dow Jones mencatat hari terbaiknya dalam delapan bulan terakhir, setelah FBI membebaskan Hillary dalam kasus surat elektronik pribadinya. Pada Selasa, 8 November, pasar masih positif dengan indeks Dow Jones ditutup menguat ke 18.332,740.

Namun pada Rabu (9/11/2016) pagi di pasar Asia, yang bertepatan dengan pengumuman hasil Pilpres AS pada Selasa (8/11/206), pasar saham di Asia dan Eropa langsung jatuh merespons kemenangan Trump yang sangat mengejutkan. Indeks berjangka Dow Jones sempat tumbang hingga 800 poin. Sebagai catatan, perhitungan hasil pilpres baru dilakukan setelah pasar saham AS tutup.

Anjloknya indeks berjangka itu ternyata tidak berkepanjangan. Pada perdagangan reguler pada 9 November, bursa Wall Street mulai kalem, sebelum akhirnya ditutup menguat ke level 18.589,689. Penguatan Dow Jones terjadi setelah Trump membuat pidato yang menjanjikan kerja sama yang erat, termasuk dengan negara-negara lain. Ia menjanjikan belanja infrastruktur besar-besaran. Janji itu membuat saham pertambangan dan konstruksi meningkat.

Tom Elliot, analis dari penasihan finansial deVere mengatakan, Trump menciptakan peluang bagi investor, tetapi mereka harus bersiap akan terjadinya guncangan.

“Rencana Trump bisa meningkatkan permintaan secara keseluruhan pada perekonomian, mendorong pertumbuhan dan pendapatan perusahaan dalam jangka pendek, tapi risikonya terhadap inflasi akan datang. Skenario boom dan bust mungkin terjadi,” katana, seperti dilansir dari The Guardian.

Sentimen positif lain yang berhasil menutup luka investor akibat kekalahan Hillary adalah janji Trump untuk melakukan deregulasi secara besar-besaran. Sentimen lainnya adalah prospek kenaikan suku bunga Fed Fund Rate yang mendorong kenaikan saham-saham finansial.

Donald Trump dan kejutan-kejutan yang terus dilakukannya masih akan terus membayangi pergerakan pasar saham di 2017. Prospek kenaikan suku bunga, gonjang ganjing harga minyak, dan juga perkembangan perekonomian Cina akan menjadi sentimen eksternal yang akan menggerakkan pasar saham. Dari dalam negeri, investor tentu akan mencermati perkembangan pilkada, dampak paket kebijakan ekonomi, dan tentu saja kesuksesan dari program amnesti pajak lanjutan.

Baca juga artikel terkait PASAR SAHAM atau tulisan lainnya dari Nurul Qomariyah Pramisti

tirto.id - Indepth
Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Suhendra