tirto.id - Bagi sebagian anak, sekolah mungkin sekadar tempat belajar. Tapi bagi Wirandanu, Sekolah Rakyat adalah titik balik, sebuah ruang untuk membangun harapan, membentuk karakter, dan merancang masa depan.
Danu, begitu ia biasa disapa, kini duduk di kelas VII di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas. Ia berasal dari Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, di kawasan lereng Gunung Slamet. Latar belakang keluarganya sederhana, bahkan penuh keterbatasan.
Sejak kecil, Danu tinggal bersama pamannya, sosok yang ia anggap sebagai orang tua sendiri. Ibu kandungnya diketahui mengalami gangguan mental. Meski tumbuh tanpa kehadiran ibu, Danu menjalani hidup dengan keteguhan.
"Dari kecil aku udah dirawat di sini, jadi aku anggap lilik (paman) aku itu ya kayak bapak lah," kata Danu usai mengikuti kegiatan belajar, Rabu (29/4/2026).
Kesehariannya dulu tidak lepas dari kerja keras. Pamannya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Saat senggang, Danu turut membantu dengan mencari rumput untuk pakan ternak.
"Kalau udah libur ya, itu bangun tidur, cuci muka dulu, dan sarapan, terus ngambil arit buat cari rumput, aku nyari di mana, contohnya di kebun," ujarnya.
Masuk ke Sekolah Rakyat menjadi pengalaman baru yang mengubah ritme hidupnya. Di tempat ini, ia tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab.
Awalnya, Danu sempat kesulitan beradaptasi dengan kehidupan berasrama. Bahkan, ia pernah mencoba meninggalkan tempat tersebut. Namun, pendekatan para guru dan pendidik perlahan membuatnya bertahan dan berkembang.
"Kerasa banget (perubahannya), kalau dulu ibadah biasanya, kan ada temen yang rajin salat, aku cuma ngikut, misal maghrib doang, terus kedisiplinan aku, sikap aku (berubah)," ujarnya.
Perubahan itu tidak berhenti pada kebiasaan sehari-hari. Kepercayaan dari teman-temannya membuat Danu kini memegang peran sebagai ketua asrama, memimpin 11 siswa lainnya. Posisi ini menjadi pengalaman berharga yang ia kaitkan dengan cita-citanya di masa depan.
"Cita-cita jadi peternak kambing, karena udah kebiasaan cari rumput," tambahnya.
Ketertarikannya pada pelajaran IPA juga memperkuat mimpinya tersebut. Meski begitu, peran sebagai ketua asrama bukan tanpa tantangan. Ia harus mengingatkan teman-temannya soal tanggung jawab harian.
"Ngingetin (teman) soal piket, terus jangan ada yang masuk asrama pakai sepatu atau sandal, itu diingetin, itu cucian pada numpuk juga harus segera dicuci," jelasnya.
Ada kalanya ia menghadapi kesulitan saat teman-temannya sulit diarahkan. Namun, Danu belajar untuk tidak reaktif, memilih menyelesaikan masalah dengan komunikasi dan koordinasi bersama wali asrama.
Perkembangan yang ia alami menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis asrama seperti Sekolah Rakyat mampu membentuk karakter secara menyeluruh. Program ini sendiri merupakan bagian dari gagasan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan Bapak Menteri Sosial, karena saya bisa diterima di Sekolah Rakyat ini, banyak perubahan dari awal saya datang ke sini, dan sampai saat ini, saya dapatkan ilmu yang banyak," ungkapnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































