'Chickenisasi': Program Walkot Bandung Cegah Anak Kecanduan Gadget

Oleh: Fadiyah Alaidrus - 22 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Wali Kota Bandung Oded M. Danial menilai program percobaan "chickenisasi" akan mengurangi anak pelajar kecanduan gadget.
tirto.id - Wali Kota Bandung Oded M. Danial resmi memberikan 10 ekor anak ayam secara simbolis kepada murid-murid sekolah dasar dan menengah pertama, Kamis (21/11) kemarin. Dinamakan sebagai program ‘Chickenisasi’, kebijakan yang menyulut kontroversi itu diniatkan buat mencegah anak-anak kecanduan gawai.

Resminya, politikus dari Partai Keadilan Sejahtera ini melakukan kebijakan percobaan dengan membagikan 2.000 ekor anak ayam kepada para pelajar laki-laki dari 10 SD dan 2 SMP di Kecamatan Cibiru dan Gedebage, sebagaiman dikutip dari Antara. Usia pelajar itu adalah kelas 5 SD dan kelas 7 SMP. Sementara pelajar perempuan diberi bibit pohon buah.

Oded berkata “program chickenisasi” bagian dari “realisasi program pemerintah pusat untuk revolusi mental dengan menghadirkan pendidikan aktif, kolaboratif, integratif.”

Ia menambahkan, dengan memelihara anak ayam, maka mengajarkan pendidikan karakter kepada anak. Logikanya, dengan memelihara anak ayam, para pelajar punya kesibukan sehingga melupakan mainan gadget, ujar Oded.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyebut setiap siswa menerima masing-masing satu ekor anak ayam.

Nantinya, kata dia, para siswa akan membentuk satu kelompok, terdiri dari lima orang. Kemudian per satu kelompok akan diarahkan memelihara lima ekor anak ayam di satu kandang. Kandang ini akan disimpan di satu rumah siswa sesuai kesepakatan kelompok. Maka, dalam satu kelompok itu rumah mereka harus berdekatan.

Masih Percobaan & Bakal Jadi Penilaian Siswa

Wali Kota Bandung Oded M. Danial berkata program ini masih percobaan. Ribuan ekor anak ayam itu didapatkan lewat program tanggung jawab sosial perusahaan dan komunitas.

“Nanti kami akan evaluasi hasilnya. Kalau hasilnya ternyata berdampak bagus,” kata Oded, "kenapa tidak dilanjutkan?”

Seorang guru bernama Elin Lindiawati dari SMPN 54 Bandung, yang sekolahnya menerima pembagian anak ayam, berkata proses memelihara anak ayam akan menjadi penilaian beberapa mata pelajaran di sekolah.

“Nanti di sains (IPA) diukur beratnya, udah berapa, misalnya, satu bulan? Nanti kalau sudah gede, berapa penambahan beratnya?” ujar Elin, seperti dikutip Antara.

“Dibandingkan dengan anak ayam dari siswa lain, apakah berbeda ataukah sama?”

“Penulisan laporan tumbuh kembang anak ayam, misalnya, akan masuk dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kreativitas kandang ayam akan masuk dalam mata pelajaran prakarya,” kata Elin.

'Bagus Idenya'

Andrea Ratna Nurwulan, 47 tahun, seorang ibu di Bandung yang memiliki putri 9 tahun di kelas 3 SD, menyambut “program chickenisasi” Wali Kota Bandung Oded Danial sebagai sesuatu yang positif.

“Bagus idenya. Beberapa sekolah swasta sudah memelihara binatang di lahan sekolahnya, sebagai bahan pembelajaran juga, bagian dari integrated learning karena saat anak memelihara ayam, mereka belajar banyak hal,” ujar Ratna kepada Tirto, Rabu pekan ini.

Meski begitu, Ratna meminta agar persiapan dari pemerintah daerah ataupun sekolah bisa matang.

“Asal juklak [petunjuk pelaksanaan] disampaikan dengan mendetail ke setiap sekolah dan anak. Jangan sampai menzalimi ayamnya,” ujar Ratna.

“Juklaknya harus dipastikan sampai ke setiap siswa dan sekolah harus bisa menyupervisi kegiatan ini agar berjalan sesuai tujuan.”

Jika tak ada petunjuk atau arahan apa pun, ujung-ujungnya ayam itu tak terpelihara dan malah mati, kata Ratna khawatir.

Ia juga meminta ada jaminan kesehatan dari ekor anak ayam yang dibagikan ke siswa, “Asal ada kerja sama yang konsisten dengan dinas peternakan untuk jaminan kesehatan ayam-ayam itu."

'Bukan Langkah Efektif'

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Retno Listyarti meragukan “program chickenisasi’ ala Walkot Bandung Oded M. Danial.

“Saya memandang cara tersebut tidak efektif untuk mengalihkan anak-anak dari gadget,” ujar Retno kepada Tirto.

Masalah anak kecanduan gawai, menurut Retno, tak terlepas dari pola pengasuhan orangtua.

“Kebiasaan anak termasuk main gadget amat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Bila sebagai orangtua terlihat sering memegang handphone, anak otomatis mengikuti kebiasaan tersebut,” katanya.

Maka, saran Retno, orangtua harus atur waktu untuk diri sendiri menggunakan gadget secara bijak.

“Saat bersama anak, usahakan untuk tidak bermain gadget. Jangan sampai membatasi anak bermain gadget tapi kita masih jadi ‘generasi nunduk’ karena sibuk otak-atik gadget tanpa henti.”

Orangtua Harus Jadi Teladan yang Baik

Orangtua perlu membatasi waktu anak bermain gawai, ujar Retno. Anak baru boleh diberikan ponsel selepas usia 2 tahun, sarannya, dan dibatasi maksimal dua jam dalam sehari.

“Bila terpaksa diperkenalkan dengan gadget pada usia 18-24 bulan,” tambah Retno, “pilih media digital yang memiliki program berkualitas dan sesuai usia. Dampingi anak saat menggunakan gadget.”

“Bantu mereka untuk memahami konten yang dilihat. Lalu, untuk membatasinya lagi, hindari meletakkan gadget sembarangan karena anak bisa mengambil dan memainkannya kapan saja.”

Bila anak sudah kadung kecanduan main gadget, Retno menyarankan orangtua harus mengurangi durasi jam secara perlahan, sampai bisa jadi maksimal 2 jam per hari.

“Jangan sungkan untuk memberikan reward berupa pujian dan hadiah saat anak berhasil mengurangi frekuensi bermain gadget,” katanya.

Menurut Retno, anak kecanduan gadget tak jarang membuatnya sampai tantrum. Tantrum adalah kondisi emosi anak yang meledak-ledak.

“Tak sedikit orangtua yang menyerah. Padahal seharusnya, kita harus bersikap lebih tegas. Jangan sampai iba dengan rengekan anak yang ingin terus bermain gadget,” lanjutnya.



Ajak Anak Beraktivitas di Luar Ruangan

Retno dari KPAI menyampaikan penting mengarahkan anak memperbanyak aktivitas di luar rumah semisal berenang, les musik, balet, dan lain-lain.

Bagi bayi di bawah satu tahun, Retno menyarankan orangtua jangan menawarkan gadget sebagai "obat rewel."

“Perbanyak aktivitas di lantai dengan mainan-mainan yang merangsang motorik bayi. Apabila ia belum bisa luwes bergerak, latih bayi untuk tengkurap dan terlentang sepanjang hari agar otot leher, dada, dan lengan semakin kuat.”

Hal serupa disampaikan oleh psikolog anak Seto Mulyadi. Menurut Seto, aktivitas di luar ruangan menjadi salah satu alternatif agar anak tidak kecanduan bermain gadget.

“Beraktivitas itu bisa bermain permainan tradisional. Kedua, kontak dengan alam,” ujarnya kepada Tirto.

Seto menilai memahami dan menggunakan teknologi sebenarnya bukanlah sesuatu yang keliru. Namun akan menjadi masalah saat ia jadi satu-satunya kegiatan, apalagi bikin kecanduan.

“Maka, perlu ada keseimbangan, dengan bermain di luar atau alam, tapi yang paling praktis bermain permainan tradisional, menggunakan keterampilan sosial dan motorik, bahasa, dan moral.”

“Banyak hal-hal yang bisa dikembangkan dari situ,” ujar Seto.


Baca juga artikel terkait PROGRAM ANAK AYAM atau tulisan menarik lainnya Fadiyah Alaidrus
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Fahri Salam
DarkLight