tirto.id - Suara ledakan kembang api yang berasal dari area kompleks Candi Prambanan pada Rabu (24/6/2026) malam mengagetkan warga. Warga yang berada di sekitaran Candi Prambanan sempat mengeluhkan suara ledakan itu.
Kepala Dukuh Carikan, Desa Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY, Puguh Tri Bintarto mengatakan suara ledakan kembang api terdengar nyaring dari padukuhannya yang berjarak sekitar dua kilometer dari Candi Prambanan.
"Saya waktu itu sedang ngobrol dengan warga. Sekitar jam 21.00 WIB lebihlah itu tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras. Ini sempat membuat kaget," kata Puguh, Sabtu (27/6/2026).
Puguh mengungkapkan suara ledakan ini keras dan tak seperti suara ledakan kembang api pada umumnya. Durasi yang cukup lama juga disebut Puguh cukup membuat kaget dan menganggu waktu istirahat warga.
"Jelas bikin kaget karena suaranya dar, der, dor. Sayangnya kenapa gak ada pemberitahuan ke warga sekitar Candi kalau akan ada kembang api. Kalau misal acara Tahun Baruan, kami maklum ya," tutur Puguh.
Senada dengan Puguh, warga di sekitaran Candi Prambanan yakni Heri juga mengaku kaget dengan suara kembang api yang terjadi Rabu (24/6/2026). Heri yang rumahnya berada di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah ini hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari kawasan Candi Prambanan.
"Suaranya keras dan bergetar. Bikin kaget," kata Heri.
Sementara itu General Manager Prambanan & Ratu Boko Leonardus Adityo Nugroho menjelaskan jika penyalaan kembang api itu tidak dilakukan di area operasional Candi Prambanan (Zona 2).
"Penyalaan kembang api berada di luar area Candi Prambanan, tepatnya di area RT 25 Desa Tlogo, Prambanan, Klaten," kata Leonardus dalam keterangannya.
"Berdasarkan informasi yang kami terima, kegiatan tersebut telah berkoordinasi dengan warga desa setempat dan sudah memperoleh perizinan dari pihak berwenang," imbuh Leonardus.
Leonardus membeberkan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko senantiasa berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keamanan, kenyamanan pengunjung, masyarakat sekitar, serta kelestarian kawasan cagar budaya.
Penulis: Cahyo PE
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


























