tirto.id - Danantara dikabarkan berencana menandatangani kontrak rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) senilai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp130,39 triliun (kurs Rp16.298 per dolar AS) dengan perusahaan teknik asal Amerika Serikat, KBR Inc, untuk membangun 17 kilang modular.
Mengutip Reuters, kontrak ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat pekan lalu, yang menghasilkan penurunan tarif ancaman dari AS, dari 32 persen menjadi 19 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto—yang juga menjadi kepala negosiator dalam kesepakatan tersebut—mengungkapkan rencana pembangunan kilang modular ini dalam sebuah pertemuan tertutup dengan para pengusaha Indonesia pada Senin (21/7/2025) malam.
Dua sumber mengonfirmasi bahwa rencana tersebut memang disebutkan dalam presentasi yang juga telah ditinjau oleh Reuters.
KBR Inc, yang sebelumnya dikenal dengan nama Kellogg Brown & Root, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Tidak ada rincian lebih lanjut yang disampaikan terkait perjanjian yang diusulkan tersebut.
Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan bahwa pihaknya akan mengevaluasi semua peluang investasi baik di dalam maupun luar negeri.
"Kita kan fokusnya di Indonesia dulu ya. Tetapi memang ada porsi kita, kita bilangnya 80 persen dan 20 persen. Investasi 80 persen fokus di Indonesia, 20 persen di luar Indonesia Kita lihat semua tidak hanya di Amerika tetapi juga di negara-negara lain," ujarnya di Istana Negara, Rabu (22/7/2025).
"Yang penting bagi kami adalah bagaimana dengan kami investasi itu ada transfer-transfer teknologinya. Dan juga ada penciptaan lapangan pekerjaannya dan yang penting juga adalah returnnya sesuai dengan benchmark yang kita bikin ya itu di atas Sovereign Capital," imbuhnya.
Sebagai informasi, rencana kontrak kilang sebagai bagian dari negosiasi tarif dengan AS belum pernah dilaporkan sebelumnya. Pemerintah hanya memperinci bahwa kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia meliputi peningkatan pembelian energi, produk pertanian, dan pesawat komersial asal AS.
Dalam presentasi yang sama juga disebutkan potensi investasi strategis sebesar 2 miliar dolar AS untuk mengembangkan blue ammonia di negara bagian Louisiana, Amerika Serikat, oleh Indorama, grup kimia dan tekstil asal Indonesia. Namun, dalam presentasi itu ditambahkan bahwa proyek tersebut memerlukan insentif pajak agar layak dijalankan.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengakatakan bahwa kontribusi perusahaannya dalam negosiasi dagang dengan AS telah ditunjukkan dengan nota kesepahaman (MoU) untuk optimalisasi pengadaan minyak mentah. "Sedangkan LPG sudah berjalan," ujarnya kepada Tirto.
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id



































