tirto.id - Central Kitchen Kyushoku Jepang, sebuah konsep ala Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal ditiru Badan Gizi Nasional (BGN). Bentuk Kyushoku Jepang mirip seperti dapur terpusat.
Gakkō kyūshoku atau makan siang sekolah Jepang merupakan makan siang yang disediakan untuk berbagai jenjang, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga pendidikan khusus.
Melansir laman JeePe, program Kyushoku Jepang dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Makan Siang sekolah yang ditetapkan tahun 1954. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan tentang makanan atau shokuiku.
Penyediaan kyūshoku di Jepang telah mengalami pengembangan dan perbaikan dalam perjalanan panjang sejak 1889. Metode yang sama rencananya bakal dipakai untuk program MBG di Indonesia.

Mengenal Konsep Central Kitchen Kyūshoku Jepang
Salah satu metode kyūshoku yang akan diterapkan di Indonesia melalui BGN dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah central kitchen. Makanan tersaji dalam keadaan lebih segar, sehingga meminimalisasi potensi cepat basi hingga keracunan.
Pada dasarnya, central kitchen dalam kyūshoku merupakan lokasi dapur pengolahan makanan. Dapur terdiri dari 2 jenis, yakni dapur di dalam sekolah dan dapur terpusat yang letaknya tidak dalam satu lingkup sekolah.
Central kitchen Jepang mengolah makanan, kemudian diantar ke sekolah-sekolah. Selanjutnya, para murid memiliki peran dan tugas dalam menyajikan makanan.

Jika merujuk pada pola penyajian kyūshoku di Jepang, siswa ditunjuk sebagai petugas piket makan siang (kyūshokutōban). Mereka membantu penyajian makanan pada hari-hari tertentu.
Berdasarkan informasi di laman JeePe, petugas piket makan siang memakai jas putih, masker, dan topi. Mereka membawa makanan ke kelas dan menyajikan kepada teman-temannya.
Selesai makan, para murid ikut andil dalam mencuci peralatan makan, mencuci kotak susu, serta memilah sampah. Ini menjadi kesempatan menanamkan kesadaran kebersihan dan lingkungan.
Dengan berperan dalam menyajikan makan siang, siswa tidak hanya menghabiskan makan, tapi juga belajar tanggung jawab sekaligus mengenali isi piring mereka.
Hal tersebut dilakukan dengan memahami asal makanan, gizi, rasa musim, dan budaya daerah. Pasalnya, makanan daerah atau bahan pangan lokal sering masuk daftar menu, sehingga murid menyadari kekayaan alam negara sendiri.

Selain itu, pendidikan gizi juga diberikan oleh guru gizi (eiyō kyōyu). Guru gizi secara profesional terlibat dalam pengajaran tentang makanan dan penyusunan menu, termasuk pemanfaatan bahan lokal.
Bahkan, laman Japanese Food Guide memberi gambaran mengenai hidangan kyūshoku. Pada hari-hari istimewa, hidangan makan siang turut mencerminkannya, seperti sup berisi okra, ketika dipotong bentuknya mirip bintang-bintang kecil Tanabata atau Festival Bintang.
Para murid benar-benar belajar tentang makanan, bahkan terkadang ada kuis mengenai asal-usul makanan dalam menu. Selama makan siang, siswa mengobrol tentang prefektur atau wilayah tertentu dengan produksi buah atau sayurnya.
Makan siang di Jepang berlangsung di dalam kelas pada waktu makan siang atau ketika memasuki waktu istirahat. Kendati demikian, ini bersifat edukatif melalui pengaplikasian nyata dan berlangsung secara menyenangkan.
Tanggung jawab petugas piket kyūshoku diemban oleh seluruh murid, bahkan murid kelas 1 SD. Konon, siswa sangat bangga menjadi bagian dari sistem ini dan sering kali menanti giliran.
Sebagai petugas piket, siswa berkesempatan untuk bertanggung jawab dan menunjukkan kemampuan di depan guru dan teman-teman sekelasnya.
Mereka bertugas mengumpulkan makanan, peralatan makan, dan perlengkapan makan dari dapur. Semua diletakan di sebuah troli logam besar dan dibawa dari dapur menuju kelas masing-masing.

Biasanya, letak kelas 1 SD berdekatan dengan dapur, lalu semakin tinggi kelas semakin jauh dari dapur. Setiap tahun, siswa bisa menjadi lebih terkoordinasi dan percaya diri untuk mendorong troli dan menghidangkan makan siang kepada teman sekelas dan guru.
Ketika makanan tengah diambil tim petugas piket, siswa lain tidak tinggal diam. Mereka mempersiapkan diri dan ruang kelas menjadi tempat makan kyūshoku bersama.
Siswa akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan pengaturan meja yang membuat mereka bisa makan bersama. Siswa menyusun meja, membersihkan, lalu meletakkan alas meja kain dan handuk (kain/lap/serbet kecil) yang dibawa dari rumah.
Tak hanya itu, sebelum makan, siswa mencuci tangan di wastafel yang ada di setiap kelas. Mereka juga membawa lap tangan sendiri untuk mengeringkan sebelum memulai makan.
Selain menghidangkan kyūshoku kepada teman sekelas, petugas piket juga bertanggung jawab melayani guru. Mereka mengantarkan makanan kepada guru atau wali kelas di meja.
Seluruh sistem kyūshoku di Jepang dipimpin sepenuhnya oleh murid. Para guru tidak benar-benar ikut campur, agar siswa belajar bertanggung jawab untuk menyajikan makanan dari awal hingga akhir.

Selesai makan, tim makan siang sekolah atau petugas piket (kyūshokutōban) akan mengembalikan troli ke dapur. Sebelumnya, para murid sibuk dengan meletakkan semua perlengkapan ke troli dengan rapi.
Hal ini tentu bervariasi di berbagai daerah dan sekolah di Jepang. Secara metode, pengolahan makananan juga berlangsung di 2 jenis dapur, yakni dapur sekolah dan central kitchen.
Namun demikian, tidak semua sekolah di Jepang menyediakan makan siang setiap hari. Sebagian sekolah bahkan memiliki kombinasi bento dan makan siang sekolah, lalu beberapa sekolah lain hanya menyediakan bento saja iis.

BGN Adaptasi MBG Ala Jepang
BGN berencana mengadaptasi MBG ala Jepang yang terkenal dengan istilah kyūshoku. Langkah ini terlebih dulu dengan menerapkan central kitchen untuk mengolah makanan sehingga tidak cepat basi.
“Di Jepang sendiri juga mengadopsi adanya central kitchen. Jadi, ada dua tipe, ada yang dimasak di sekolah, tetapi ada juga yang menggunakan model central kitchen, yaitu makanan dibuat di central kitchen, kemudian dibawa ke sekolah dan didistribusikan di sekolah,” terang Kepala BGN, Sudaryono, dikutip dari laman Badan Gizi Nasional (BGN) (23/9/2026).
BGN mengadopsi sistem dengan melakukan audiensi bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia pada Rabu, 23 September 2026. Pertemuan itu menjadi upaya BGN untuk belajar dari negara lain dalam penyelenggaraan program di sekolah.

Selanjutnya, BGN mengembangkan uji coba model penyajian MBG melalui sistem prasmanan di sekolah. Ini merupakan kelanjutan sistem central kitchen, yakni makanan dimasak di dapur SPPG, lalu didistribusikan di sekolah.
Melansir Antara (6/10/2026), tujuannya untuk memperbaiki kualitas makanan yang disajikan, sehingga lebih hangat dan segar. Kepala BGN Sudaryono turut menjelaskan keunggulan sistem prasmanan di sekolah.
“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay (penundaan) waktu sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” jelas Sudaryono.
Tak hanya berkaitan dengan kualitas dan keamanan, sistem prasmanan dinilai berpotensi bisa mengurangi jumlah makanan terbuang. Dengan sistem mengambil makan sendiri, murid bisa memperkirakan makanan sesuai kebutuhan.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































