Buwas Klaim Stok Beras Cukup: Mengapa Pemerintah Masih Impor?

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 21 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Perseteruan Buwas dan Enggartiasto membuat polemik impor beras yang sempat ramai awal 2018 kembali menguat.
tirto.id - “Kalau ada yang jawab soal Bulog sewa gudang bukan urusan kami. Matamu! Itu kita kan sama-sama negara,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas), di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (19/9/2018).

Kegeraman Buwas itu ditujukan kepada Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita yang menyatakan bahwa penuhnya gudang Bulog bukan urusannya. Buwas menuding, pernyataan itu menunjukkan bila Enggartiasto lepas tangan, padahal yang mengeluarkan izin impor beras adalah Kemendag.

Menurut Buwas, pihaknya masih terus mencari gudang penampungan tambahan. Sebab, ada beberapa gudang yang memang sengaja dikosongkan karena kondisinya yang sudah tak layak. Saat ini cadangan beras Bulog berada di posisi 2,4 juta ton. Dari jumlah stok itu diperkirakan hanya sekitar 100 ribu ton beras yang terserap melalui operasi pasar.

Sementara pada Oktober mendatang, kata Buwas, akan ada lagi tambahan sekitar 400 ribu ton beras impor yang masuk berdasarkan pengadaan impor sebelumnya. “Dari rata-rata jumlah itu, maka stok akhir tahun ini di Desember itu jumlahnya hampir 3 juta ton,” kata dia.

Sementara itu, Enggartiasto saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Kamis (20/9/2018) tak mau lagi berkomentar soal polemik impor beras ini. Ia berdalih Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution telah memberikan penjelasan soal kronologi impor beras tersebut.


Polemik yang Berkepanjangan

Dalam konteks ini, Darmin memang telah memberikan penjelasan perihal kronologi dan alasan pemerintah memutuskan impor. Ia pun meminta semua pihak tidak lagi mempermasalahkan impor beras untuk tahun ini.

“Saya agak heran juga bahwa yang diributkan impor dihubungkan dengan gudang penuh. Itu penuh karena impor, kalau enggak ada impornya, ya isinya 800 ribu [ton], sehingga menurut saya, ini enggak perlu digaduhi,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Darmin menuturkan, kebijakan impor pertama kali dilakukan pada kuartal III/2017 saat harga beras mulai naik. Sementara stok Bulog berada di kisaran 978 ribu ton yang menurutnya tidak mencukupi, karena normalnya stok di gudang Bulog semestinya sekitar 2-3 juta ton.

“Tapi, karena masih berdebat terus, ada yang bilang produksinya bagus nanti. Berlarutlah sampai kita rapat berikutnya itu 15 Januari 2018. Dan waktu itu kami cek yang tadinya stok itu 978 ribu ton, tinggal 903 ribu. Berarti dalam 10 hari berkurang 75 ribu ton. Kenapa? Karena harus operasi pasar karena harga naik,” kata Darmin.

Harga beras saat itu mencapai Rp11.300 per kilogram, padahal harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp9.450 per Kg. "Jadi sudah jauh di atas, dan itu masih 15 Januari, sementara panen raya itu biasanya Maret, bisa-bisa April,” kata Darmin.

Panen beras pada Januari mencapai 2,5 juta ton, Februari 4,7 juta ton, dan Maret 6,5 juta ton. Total 13,7 juta ton dalam 3 bulan. “Banyak, tapi karena stok hanya tinggal 903 ribu ton, sedangkan itu adalah musim hujan, Januari sampai Maret musim hujan, kami kemudian memutuskan impor 500 ribu ton,” kata Darmin.


Akan tetapi, kata Darmin, impor itu masih tidak cukup, apalagi impor 500 ribu ton yang seharusnya masuk pada akhir Februari, belum juga masuk. Karena itu, kata dia, maka pemerintah memutuskan impor lagi sebanyak 500 ribu ton.

Menurut Darmin, pada 19 Maret 2018 total stok beras medium dan premium tinggal 590 ribu ton atau berkurang dari stok 903 ribu ton per 15 Januari 2018. “Padahal, kami pakai yang medium saja. Itu udah total itu. Nah, kami pada 28 Maret rapat lagi karena panen raya mestinya sudah mau habis waktunya,” kata dia.

Darmin mengatakan, produksi panen pada Maret diperkirakan sekitar 6,5 juta ton. “Itu proyeksi, pada 28 Maret memang stoknya sedikit naik menjadi 649 ribu ton, tapi ya enggak ada apa-apanya sudah. Itu panen raya mau habis, siapa yang percaya bahwa ini akan beres-beres saja, baik-baik saja ke depannya? Sehingga kami putuskan impor 1 juta ton [lagi], harga waktu itu Rp11.036 per Kg, medium loh ini,” kata dia.

Keputusan itu, kata Darmin, dilakukan dengan mempertimbangkan banyak hal dengan melibatkan pihak-pihak terkait dengan pertimbangan yang cukup matang, seperti menteri perdagangan, menteri pertanian, dan dirut Bulog yang saat itu dijabat Djarot Kusumayakti (Buwas menjabat dirut terhitung 27 April 2018).

“Rapat terakhir kami mungkin minggu ketiga Agustus itu stok Bulog 2,2 juta ton. Tapi itu termasuk impor, tapi belum masuk semuanya,” kata Darmin.


Dengan demikian, kata Darmin, stok Bulog saat ini dapat terpenuhi dengan izin impor dari awal tahun dan memang tidak ada rencana untuk menambah lagi. “Katanya [stok beras Bulog] saat ini 2,4 juta ton, sudah berarti naik sedikit. Sampai akhir tahun mungkin bisa 3,3 juta ton, maka kami enggak nambah lagi [impor beras]” kata Darmin.

Menurut Darmin, saat ini terdapat dua data yang selalu dipakai, yaitu: data Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS). “BPS kami dengar sudah keluar angka perkiraan yang sudah disempurnakan, tapi dia belum umumkan. Nah, jadi saya sudah tahu angkanya, tapi kita bisa bikin data yang punya instrumen untuk itu adalah Kementan,” kata Darmin.

Sayangnya, kata Darmin, data Kementan sejauh ini selalu meleset. “Setiap tahun [meleset]. Koordinasinya gimana? Sudah dibilang betulkan, tapi keluar lagi itu [meleset]” kata dia.

Baca juga artikel terkait IMPOR BERAS atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Abdul Aziz
Dari Sejawat
Infografik Instagram