Bukan Soal Politik, Ini Tentang SBY dan Bee Gees

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bee Gees adalah band luar negeri yang dikenal generasi muda Indonesia pada 1970-an. SBY salah satunya. Ia begitu menggemari "Don't Forget To Remember".
tirto.id - Susilo Bambang Yudoyono (SBY), presiden Indonesia yang menjabat dua periode, membuktikan dirinya sebagai penggemar Bee Gees yang fasih. Jika di kelompok drum band taruna Akabri presiden ke-6 kita itu tampil sebagai penggebuk drum, maka posisinya ketika nge-band adalah pencabik bass.

Lagu sendu Bee Gees yang fasih dinyanyikan SBY adalah "Don't Forget To Remember" (1969). Beberapa kali ia menyanyikan lagu tersebut, salah satunya pada 2015 di hadapan para kader yang menyambutnya dengan riuh.
Lagu itu dirilis ketika umur SBY baru 20, sebelum ia jadi taruna dan bertemu Kristiani Herrawati yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Baca juga: Hanya Pak SBY yang Pantas Menjadi Sekjen PBB

SBY muda dan Bee Gees pradisko berasal dari zaman yang sama. Maurice Ernest Gibb alias Maurice Gibb alias Mo, pemain bass yang kadang nongol suara vokalnya, lahir di tahun yang sama dengan SBY, 1949. Hanya selisih 3 bulan 13 hari.

Maurice mbrojol bersama kembarannya, Robin Gibb. SBY lahir pada 9 September, sementara Maurice dan Robin lahir di tanggal yang di Indonesia diperingati sebagai Hari Ibu, 22 Desember. Jika SBY lahir di Pacitan, maka Maurice dan Robin lahir di belahan bumi lain nun jauh dari pedalaman Jawa Timur, pada sebuah pulau kecil di Laut Irlandia bernama Isle of Man. Pulau itu masuk ke dalam yurisdiksi negara Inggris.

Baca juga: 10 Tahun Pemerintahan SBY, Satu Dekade yang Hilang

Maurice bersama saudara kembarnya, juga abang mereka yang bernama Barry, tampaknya lebih dulu main band ketimbang SBY. Bahkan hit-hit Maurice dan saudara-saudaranya jauh lebih dulu ada ketimbang lima album SBY. Karena itu, tentu saja, "Ku Yakin Sampai Di Sana" jauh lebih mutakhir ketimbang "Don't Forget To Remember" atau "Staying Alive" atau "How Deep is Your Love".

Maurice dan saudara-saudaranya bermain band sejak umur belasan. Pada akhir 1950-an, karier bermusik mereka dimulai. Bersama Barry dan Robin, Maurice pernah nongol di TV sekitar 1963. Mereka membawakan "Blowing in The Wind" di mana Barry bernyanyi sambil memetik gitar.

Ketika Beatles sedang di puncak kejayaan maupun sesudahnya, Gibb bersaudara tampil dalam format band. Tentu dengan pemain drum cabutan, karena ketiga bersaudara itu harus bernyanyi. Tidak masalah bagi Barry bermain gitar sambil bernyanyi dan Maurice bermain bass, sementara Robin fokus hanya bernyanyi. Tak berapa lama kemudian, Maurice tidak hanya mencabik bass, tapi juga memainkan keyboard.

"Maurice Gibb adalah bagian integral dalam kesuksesan mereka," tulis Nick Talevski dalam Rock Obituaries Knocking On Heaven's Door (2010: 204). Pada tahun-tahun awal, mereka mencetak beberapa hit di Australia, sebelum akhirnya berjaya di negara asal. Hit mereka, "Spicks And Specks", sukses di Inggris pada 1966. Band mereka sempat diperkuat pemain drum Colin Petersen dan pemain gitar Vince Melouney. Tahun 1967, mereka merilis hit "New York Mining Disaster 1941" lalu "To Love Somebody".

SBY beruntung mengalami masa muda di era musik Barat ala Bee Gees halal didengar kuping pemuda-pemudi Indonesia. Di era sebelumnya, musik Barat dicap sebagai musik "ngak ngik ngok", juga dianggap musik setan, yang haram didengar. Radio, tape recorder, piringan hitam seolah-olah tiada henti memutar lagu-lagu Bee Gees.

Baca juga: Kisah Prabowo dan SBY di Lembah Tidar

Namun, ketika Bee Gees tampil di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 2 April 1972, SBY tampaknya tengah berjuang di Lembah Tidar sebagai taruna Akabri Magelang. Waktu itu, The Rollies dari Bandung tampil sebagai band pembuka.

Seperti diungkap Johnny TG dalam artikelnya di kompas.id (1/10/2017), "To Love Somebody Menyengatkan Stadion Utama Senayan", jelang konser di Jakarta, pesawat MSA yang ditumpangi trio Gibb itu telat mendarat di bandara Kemayoran. Robin dan Maurice kala itu masih 22 tahun dan Barry 25 tahun.

Mereka menginap di Hotel Indonesia. Untuk menuju lokasi konser pada Minggu, 2 April 1972, dari hotel ke Senayan mereka naik mobil Mercedes Benz. Mereka konser setelah hujan reda hari itu. Barry memakai rompi vest hijau tua, Robin kemeja putih dan jas, sementara Maurice mengenakan jas dan celana merah muda.

Bukan kali itu saja Maurice bersama Bee Gees mengadakan konser di Indonesia. Tahun berikutnya, 1973, mereka kembali lagi ke sini, kali ini ditambah konser di Medan.

Baca juga:

Konser yang Aneh

Ketika konser 1973 itu digelar, SBY yang tidak gondrong sedang menjalani bulan-bulan terakhir pendidikannya di Akabri. SBY tak sempat menyaksikan langsung bagaimana Maurice mencabik bass sembari ikut bernyanyi mengiringi suara Barry dan Robin.

Di tahun yang juga merupakan tahun pertemuan SBY dengan Ibu Ani itu, perjalanan Magelang ke Jakarta masih sukar ditempuh, apalagi ke Medan. Di ibukota Sumatera Utara itu, anggota ABRI dari Kodam Bukit Barisan ikut mengawal Bee Gees. Namun, tentara-tentara itu menghalau orang-orang berambut gondrong yang gandrung pada Bee Gees untuk mendekat.

Baca juga: Seluruh Rakyat Indonesia Sayang Pepo SBY

Para personil Bee Gees sendiri adalah orang-orang gondrong. Konser pun agak dingin di mata Maurice. Hingga dia bertanya, apa Bee Gees tak disukai di Medan?

“Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami sedang mereka sendiri tidak suka rambut gondrong seperti kami?” komentar Maurice seperti dicatat Indonesia Raya (26/09/1973) juga Aria Wiratma dalam bukunya Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an (2010).

Kaum fasis jalanan boleh saja tidak suka bahkan mengguntingi rambut gondrong pemuda Indonesia. Sayang sekali, rambut Maurice dan saudara-saudaranya tak bisa mereka sentuh.

Infografik Bee Gees


Menurut Dennis Bryon dalam You Should Be Dancing: My Life with the Bee Gees (2015), Maurice adalah sosok yang suka melawak. Bakat Maurice dalam mengeluarkan lelucon melebihi saudara-saudaranya. “Semua Gibb bersaudara punya rasa humor yang hebat, tapi Maurice selalu berada di level selanjutnya,” tulis Bryon.

Maurice suka bercanda di atas panggung. Entah kepada penonton maupun saudara-saudaranya. Kadang-kadang sampai membikin kening Barry mengkerut. Dennis Bryon, yang pernah bermain drum bersama Bee Gees, mengakui kemampuan Maurice bermain bass. “Maurice adalah pemain bass yang luar biasa,” aku Bryon. Maurice dipuji Bryon sebagai pemain melodi dan solid dalam band.

“Sebagai musisi, Maurice dan aku sangat mendukung yang lainnya. Itu selalu jadi elemen kunci yang ada di band besar. Jika pemain drum dan pemain bass bisa benar-benar masuk, kau memberi kerangka yang bagus untuk sebuah lagu,” tulis Bryon.

Terkait betapa dominannya suara Barry dan Robin, Bryon menyebut, “[...] ketika kau dengarkan rekaman Bee Gees, kau akan merasakan Maurice nyaris tak pernah bernyanyi, dan dia tak pernah bernyanyi pada rekaman yang aku mainkan.”

Ketika Barry dan Robin bernyanyi, bagi Byron, mereka luar biasa. Suara mereka bercampur-baur ketika sama-sama bernyanyi. Ketika Maurice memainkan bagiannya, harmoni langsung tercipta—itulah Bee Gees.

Sepanjang perjalanan bermusik mereka, Bee Gees tak hanya menyanyikan lagu-lagu balada—yang mereka mainkan di tahun 1960-an. Pada pertengahan 1970-an, warna Bee Gees agak baru. Jika sebelumnya suara Robin yang dikedepankan, kali ini suara Barry yang lebih kentara. Sementara Maurice tetap dengan alat musiknya.

Seperti umumnya band, fenomena personil ngambek juga dialami Bee Gees. Robin pernah mogok, hingga tinggal Barry dan Maurice saja.

Boleh saja Maurice dan SBY sama-sama pemain bass, tapi soal nyanyi tampaknya ada kepercayaan diri yang berbeda. Meski lahir di tahun yang sama dengan SBY, umur Maurice lebih dulu terpotong pada 12 Januari 2003. Maurice meninggal karena komplikasi usus bengkok.

Baca juga:
Maurice meninggal setahun lebih sebelum salah satu pendengar Bee Gees jadi Presiden Republik Indonesia. Setelah tak jadi presiden lagi, sang pendengar berinisial SBY itu tentu ingat lirik dan masih bisa menyanyikan "Don't Forget To Remember" berulang-ulang.

Baca juga artikel terkait BAND INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live