Menuju konten utama

Bos IEA: Ekonomi Global Terancam Ambruk Imbas Perang AS vs Iran

Kepala IEA Fatih Birol peringatkan ekonomi global terancam krisis energi parah akibat blokade Selat Hormuz. Harga minyak dunia kini tembus $100 per barel.

Bos IEA: Ekonomi Global Terancam Ambruk Imbas Perang AS vs Iran
Selat Hormuz (Wikimedia Common)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ekonomi global kini berada di bawah "ancaman besar" akibat krisis energi yang dipicu oleh perang berkelanjutan antara AS-Israel versus Iran dan negara-negara di kawasan Teluk lainnya. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, pada hari Senin (23/3/2026) menyebut tidak ada negara yang akan kebal dari dampak kondisi ini.

Birol, di National Press Club di Australia, membandingkan krisis energi saat ini dengan krisis tahun 1970-an serta dampak dari invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

"Krisis ini, sebagaimana kondisinya sekarang, adalah gabungan dari dua krisis minyak dan satu keruntuhan gas yang terjadi secara bersamaan," kata Birol seperti dikutip dari AFP News.

"Ekonomi global sedang menghadapi ancaman yang sangat, sangat besar hari ini, dan saya sangat berharap masalah ini dapat diselesaikan sesegera mungkin," ucapnya kemudian.

Ia menambahkan, "Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berjalan ke arah ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya global."

Presiden AS Donald Trump dan Teheran kini tengah saling melontarkan ancaman balasan saat perang memasuki minggu keempat. Presiden AS mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika tidak membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade. Iran balas ancaman tersebut dengan menyebut akan menutup total Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur desalinasi air di Kawasan Teluk.

Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia. Penutupan Selat Hormuz telah menghentikan hampir seluruh pengiriman minyak mentah melalui jalur perairan sempit itu.

Harga minyak kembali melonjak pada Senin pagi, dengan harga minyak mentah acuan AS sempat menyentuh angka 100 dolar AS per barel.

Birol mengatakan kepada media Australia bahwa setidaknya 40 aset energi di seluruh kawasan tersebut telah "rusak parah atau sangat parah" dalam konflik tersebut.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Rina Nurjanah

tirto.id - Flash News
Penulis: Rina Nurjanah
Editor: Hendra Friana