Biografi Pangeran Diponegoro: Jejak Hidup hingga Akhir Hayatnya

Oleh: Yuda Prinada - 14 Maret 2021
Dibaca Normal 1 menit
Berikut adalah biografi Pangeran Diponegoro yang menjadi salah satu pahlawan nasional.
tirto.id - Pangeran Diponegoro yang bernama asli Raden Mas Mustahar merupakan salah satu pahlawan nasional. Namanya dikenang dalam buku-buku sejarah karena pernah memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa yang berlangsung mulai 1825 sampai 1830.

Ia adalah anak lelaki paling tua dari keturunan Sultan Hamengkubawana III atau Raden Mas Suraja. Sedangkan nama ibunya adalah RA Mangkarawati, seorang permaisuri raja. Kendati merupakan anak sultan, ia tidak ingin hidup dengan segala kemewahan yang biasa dirasakan keluarga kerajaan.

Berdasarkan catatan, Pangeran Diponegoro disebut sebagai pangeran Kesultanan Yogyakarta dan kelak akan menjadi raja. Namun, dengan cara halus Diponegoro menolak karena merasa tidak pantas selaku anak selir.

Jejak Hidup

Dalam sejarah, ia pernah memendam benci terhadap kolonialisme Belanda yang menjajah Kerajaan Nusantara, dalam hal ini terkait Kesultanan Yogyakarta.

Ketika Sultan Hamengkubowono IV atau Raden Mas Ibnu Jarot naik tahta di usia 10 tahun, Belanda ikut campur urusan politik kerajaan peninggalan ayahnya hingga membuat Diponegoro naik pitam.

Terkait hal ini, Sagimun dalam Pahlawan Dipanegara Berjuang (1965) mengungkapkan alasan lengkapnya. Pangeran Diponegoro menyuarakan perlawanan karena Belanda datang mengatur internal kerajaan dan juga menetapkan beban pajak kepada rakyat dengan jumlah yang tidak sedikit.

Selain benci Belanda, ia juga diklaim tidak suka dengan bangsa Tionghoa yang ada di Jawa. Keterampilan orang-orang Tionghoa dalam mengatur keuangan sering memeras masyarakat Kesultanan Yogyakarta. Terungkap dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008:320) karya Bernard H.M., mereka kerap memeras dengan aturan pajak tol yang tidak masuk akal.

Mengenai kebencian Diponegoro terhadap Tionghoa, ternyata tidak bisa digambarkan secara benar. Faktanya, Peter Carey dalam Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2019:727) menerangkan, tidak secara gamblang kebencian tersebut dianggap benar.

Sebab, kata dia, perlakuan Diponegoro kepada orang-orang Tionghoa juga baik. Bahkan, seiring perjalanan Perang Diponegoro mereka menjadi mitra bisnis dan membantu Diponegoro dengan ikut masuk menjadi tentara ketika pertempuran melawan Belanda terjadi.

Akhir hayat

Aksi yang dijalankan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya di Jawa membuat Belanda kewalahan. Pada 28 Maret 1830, Belanda mengajak Diponegoro melakukan gencatan senjata lalu mengadakan perundingan.

Belanda ternyata hanya memberi janji manis kepada Diponegoro ketika itu. Penjajah tersebut bukan mengadakan perundingan, namun malah menangkap pangeran yang datang tanpa membawa senjata.

Saat itu, Perang Diponegoro pun dikatakan sudah sampai pada akhir perjuangannya karena pemimpinnya berhasil ditahan di Batavia hingga 3 Mei 1830.

Berdasarkan catatan Toby Alice dalam Sulawesi: Islan Crossroads of Indonesia (1990), Pangeran Diponegoro setelah itu diasingkan ke Manado, lalu dipindahkan ke Makassar. Melengkapi itu, tahun 1833 di Makassar, benteng Rotterdam, Diponegoro hidup bersama istri, dua anaknya, dan 23 pengikutnya.

Pada 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro meninggal dunia. Berdasarkan Surat Keterangan (SK) yang tertulis dalam Pahlawan Dipanegara Berjuang (1965) karya Sagimun, usia lanjut adalah penyebab wafatnya Diponegoro.

Menurut catatan profil, pada 6 November 1973, Pangeran Diponegoro diresmikan namanya menjadi salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No.87/TK/1973.

----------------------------------------------------------------

Kilas Sejarah Pangeran Diponegoro

  • Perang Diponegoro (1825-1830)
  • Ditawan Belanda di Batavia atau Stadhius (8 April-3 Mei 1830)
  • Diasingkan di Benteng Fort Nieuw Amsterdam, Manado (12 Juni 1830-20 Juni 1833)
  • Dipindahkan ke Benteng Fort Rotterdam, Makassar dan menetap (12 Juli 1833-8 Januari 1855)
  • Meninggal dunia (8 Januari 1855)

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight