Menuju konten utama

BI Beri Sinyal Turunkan Biaya Transfer Antarbank di Bawah Rp2.500

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta menyebut kemungkinan biaya transfer antarbank BI-Fast akan menjadi di bawah Rp2.500.

BI Beri Sinyal Turunkan Biaya Transfer Antarbank di Bawah Rp2.500
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo (kanan) menyampaikan sambutan pada pertemuan hari kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) G20 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7/2022). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan menurunkan biaya transfer antarbank BI-Fast lebih murah. Saat ini biaya dikenakan untuk satu kali transaksi dipatok sebesar Rp2.500.

"Tapi mungkin suatu hari nanti bisa di bawah Rp2.500," ujar Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, dalam Side Event G20: Digital Finance to Support Financial Inculusion di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7/2022).

Sejak diluncurkan pada Desember 2021, sistem pembayaran digital ini semakin diminati masyarakat. Hingga 29 Mei 2022, frekuensi transaksi BI Fast mencapai 85,3 juta dan nilai transaksinya Rp320,6 triliun.

Bank sentral menargetkan nominal transaksi melalui BI-Fast dapat mencapai Rp811 triliun. Hal ini ditopang oleh berbagai upaya perluasan.

Perhimpunan Bank-bank Internasional (Perbina) sebelumnya berharap biaya transfer antarbank di BI-Fast bisa kembali turun menjadi Rp500 hingga Rp100 per transaksi. Adapun saat ini biaya transfer antarbank di BI Fast sebesar Rp2.500.

Ketua Perbina, Batara Sianturi mengatakan, penurunan biaya transfer antarbank ini akan membantu pertumbuhan UMKM. Selain itu, konsumen juga akan lebih dimudahkan karena biaya yang lebih murah.

"Dan konsumen akan lebih dapat manfaat, lower cost. Jadi pengennya sih turun lagi jadi Rp500 atau Rp100 untuk bantu UMKM," ujar Batara dalam Side Event G20 Indonesia: Festival Ekonomi Keuangan Digital 2022 di Nusa Dua, Bali, Rabu (13/7/2022).

Dia mengatakan mestinya penurunan biaya tersebut bisa dilakukan oleh bank sentral. Apalagi perbankan juga pernah memangkas bunga di kartu kredit dari 45 persen menjadi terakhir ke 20 persen. Namun demikian, menurut Batara, penurunan biaya transfer antarbank harus dilakukan bersama-sama, tak bisa sendiri.

Batara menambahkan, saat ini banyak pelaku UMKM dan orang Indonesia yang masih tak tersentuh layanan perbankan karena biaya administrasi bank disebut masih mahal.

"Karena kita ingin supaya itu tidak membebankan UMKM, UMKM itu 61 persen dari GDP Indonesia, jadi kalau UMKM menggeliat naik, ya ekonomi Indonesia bergerak naik, karena 61 persen kontribusi dari UMKM," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BI FAST atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Restu Diantina Putri