Bersepedalah sampai Korea Selatan

Oleh: Aditya Widya Putri - 19 Juni 2021
Dibaca Normal 3 menit
Tren bersepeda di Korea Selatan dimulai dengan pembangunan fasilitas memadai, menyusul partisipasi warga bersepeda. Sementara tren di Indonesia sebaliknya.
tirto.id - Jangan dulu bosan ketika saya bilang akan membahas tren sepeda. Bukan lagi soal pesepeda arogan yang memenuhi ruas jalan utama ibu kota, atau masuk kafe dengan menjinjing Brompton. Ini kisah santai tentang ruas-ruas jalan gowes di negerinya para idol: Korea Selatan.

Kenapa memilih Korea Selatan? Negara ini memperoleh kemerdekaan (15 Agustus 1948) tak jauh dengan Indonesia (17 Agustus 1945). Giat pembangunan di sana juga berpusat pada periode 1960 hingga 1980-an, persis Rencana Pembanguhan Lima Tahun (Repelita) era Soeharto. Jadi, semestinya fasilitas publik kedua negara ini bisa dibandingkan, termasuk jalur khusus sepeda.

“Korea [Selatan] punya ribuan kilometer jalur sepeda, di sepanjang garis sungai, pantai berbatu, dan lewat kota-kota bersejarah,” sebut situs Korea by Bike yang merangkum ragam informasi bersepeda di Korea Selatan.

Jalur sepeda di sana dibagi menjadi empat area besar. Jalur terpanjang (633 km) menyisir jantung kota Incheon ke Busan. Bagian barat diisi oleh jalur santai di samping sungai dan kota-kota bersejarah. Lalu, area pantai di bagian timur negara. Kemudian, jalur terakhir adalah rute sepeda di Pulau Jeju.

Dilansir dari Momentum Mag, jalur barat yang membelah jantung ibu kota Seoul dibangun dengan rekam ambisi Presiden Lee Myung-bak. Jika menilik ke belakang, kota ini secara cepat bangkit dari puing-puing perang menjadi pusat industri dan budaya pop pada 1990-an.

Setelah sukses memompa sektor industri, film, drama, dan musik populer Korea (K-pop), Seoul mulai beralih fokus membangun jalur sepeda pada 2009. Sedikit berbeda dari gebrakan sebelumnya, tapi begitulah keinginan Lee Myung-bak, menciptakan Seoul sebagai kota lintasan sepeda.

“Jalur sepeda dibangun sepanjang 207 km, harapannya supaya orang jadi doyan bersepeda dan partisipasinya naik dari 1,5 persen menjadi 10 persen [dari total pengguna transportasi],” tulis Dakota Kim untuk Momentum Mag.

Untuk mengupayakan ambisinya membangun kota ramah sepeda, Lee Myung-bak memisahkan jalur sepeda dengan kendaraan lain. Arkian memperbaiki fasilitas parkir, pancuran air minum, rambu bersepeda, serta menerapkan denda serius bagi mereka yang parkir, apalagi masuk di jalur ini.

Nah, jika Korea Selatan serius membikin jalur khusus sepeda pada 2009, Jakarta mengawalinya satu tahun lebih lambat. Pada 2010, jalur sepeda baru dibuat berkat perjuangan komunitas Bike to Work. Kala itu, sebagaimana dituturkan kembali oleh Duta Sepeda 2010 Olivia Zalianty, sepeda belum mencapai kepopuleran seperti sekarang.

“Bahkan, di Sudirman belum ada Car Free Day. Kita main sepeda terus, diserempetin, akhirnya masuk koran nuntut jalur sepeda,” katanya dalam acara Tonight Show (2020).


Tren Bersepeda Seoul dan Jakarta

Sampai di sini, bukankah terlihat banyak kesamaan antara Korea Selatan dengan Indonesia dari sisi pembangunan jalur sepeda? Tapi, apakah kemudian pengguna sepeda di kedua negara mendapat karpet merah yang sama?

Tentu tidak.

Korea Selatan lebih dulu matang dalam menyusun peta kota ramah sepeda di Seoul ketimbang Jakarta. Mereka menyempurnakan jalur sepeda yang benar-benar terpisah dengan jalur transportasi lain. Misal, jembatan khusus sepeda, terowongan, dan jalur panggung yang terbuat dari kayu.

Pengendara sepeda di Korea Selatan lebih dulu menikmati fasilitas memadai yang menjamin keselamatan. Baru kemudian jumlah peminat transportasi ini perlahan meningkat. G-Market mencatat kenaikan penjualan sepeda secara total mencapai 13 persen sepanjang tahun 2020.

“Layanan sewa sepeda di Seoul ‘Ttareungyi’ juga mengalami peningkatan 24 persen,” catat situs berita The Korea Herald.

Sementara tingkat partisipasi bersepeda di Korea Selatan (2019) menurut Statista mencapai 23 persen. Tren bersepeda negeri ini dipimpin oleh kelompok umur muda. Dengan mayoritas umur 13-18 tahun sebanyak 39 persen, disusul kelompok usia 19-29 tahun 30 persen.

Sisanya berada di rentang umur 30-39 tahun (25 persen), 40-49 tahun (22 persen), 50-59 tahun (20 persen), dan di atas 60 tahun ('hanya' 14 persen). Perhatikan polanya, jumlah pesepeda tidak melonjak drastis selama pandemi dan kebanyakan partisipan berada dalam rentang umur pelajar.

Sebaliknya di Indonesia, angka pengguna sepeda baru menggila selama pandemi. Menurut Dishub, volume peningkatannya mencapai 211,7 persen (saat PSBB tahun 2020). Jalan-jalan utama kota mendadak dipenuhi orang-orang bersepeda.

Ingat saat Car Free Day pertama kali dibuka setelah pembatasan? Ruas jalan Sudirman-Thamrin seperti pagelaran karnaval ratusan pesepeda. Setelah pengguna membludak, pemerintah baru memikirkan soal jalur sepeda yang ideal bagi warga Jakarta.

“Sekarang total panjang jalur sepeda mencapai 63 km, tambahan tahun ini 101 km. Jadi harapannya diakhir tahun [2021] kita punya lebih dari 170 km jalur sepeda,” ungkap Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta seperti diberitakan Sindo News.

Rencananya jalur sepeda sepanjang Sudirman-Thamrin akan dirombak permanen menggunakan planter box. Kemudian setiap gedung diminta menyediakan minimal 10 persen dari total lahan parkir untuk sepeda. Di tahun 2030, Anies menargetkan pembangunan jalur sepeda di seluruh penjuru Jakarta mencapai 578,8 km.

Apabila rencana ini terwujud, bukan tidak mungkin Jakarta akan menyusul Seoul menjadi kota ramah sepeda. Tapi sebelum itu, mari bersabar dengan pembatas jalur dari cat hijau-putih terlebih dulu, atau jika tak mau ya masuk saja ruas jalan utama. Paling-paling cuma diacungi jari tengah oleh pengendara lain.


Infografik Jalur Sepeda di Korea vs Indonesia
Infografik Jalur Sepeda di Korea vs Indonesia. tirto.id/Fuad

Korea Selatan Punya Rute Favorit, Bagaimana Indonesia?

K-Poppers generasi kedua pasti khatam lagu promosi pariwisata Seoul yang dibawakan oleh SNSD dan Super Junior (Suju). Lagu dibuka dengan latar orang-orang berolahraga dan Taeyeon bersepeda di jalanan samping Sungai Han yang rindang.

Ya, seperti itulah kira-kira gambaran jalur sepeda di Korsel. Sekitar 70 persen jalan setapak didedikasikan untuk sepeda. Anda bisa pilih santai menyusuri kota, taman, dan pantai, atau justru menantang adrenalin dengan rute memutar dan tanjakan curam.

Tak usah takut kesasar dan tak perlu melihat peta karena banyak papan penunjuk jalan. Cukup ikuti petunjuknya dan Anda akan sampai di tujuan. Kalau berminat mengambil rute panjang, cobalah pengalaman berkemah di sisi jalur, mendirikan tenda di taman-taman di Korea Selatan tidak dilarang.

Tak heran, kita seringkali melihat adegan K-Drama di mana aktor-aktrisnya memancing dan berkemah di tepi sungai. Setelah berkemah, pengalaman bersepeda di Korea Selatan juga bisa Anda abadikan dengan gim berburu cap dan mendali.

Jalur utama sepeda di Korea Selatan menyediakan paspor khusus sepeda. Para pesepeda jarak jauh bisa mengumpulkan cap penyelesaian rute di setiap lokasi wisata utama. Cap penuh pada paspor menunjukkan bahwa pengembaraan di rute panjang berhasil diselesaikan.

Menarik ya?

Tapi jangan sedih, jika Korea Selatan punya terowongan khusus sepeda yang membelah gunung, jalur kayu di sisi tebing, atau rute bendungan artistik untuk menyeberang sungai, maka Indonesia tak kalah saing. Kita malah punya jalur-jalur gunung dan pantai ekstrem-alami yang belum terjamah aspal dan penerangan memadai.

Siapa juga yang meragukan keindahan alam Indonesia? Hanya saja Anda perlu upaya lebih untuk melindungi diri dari kemungkinan tergelincir atau terperosok ketika gowes di rute “alam” itu.

Baca juga artikel terkait TREN BERSEPEDA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Irfan Teguh
DarkLight