tirto.id - Ada anggapan terkait aktivitas berenang yang selama ini masih diyakini masyarakat. Tak jarang orang tua mengingatkan anak-anak agar menunggu sekira 1 jam atau 30 menit setelah makan sebelum berenang di kolam.
Kondisi perut kenyang konon bisa membuat otot kram ketika berenang. Jika hal ini terjadi di tengah kolam, kram dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan.
Akan tetapi benarkah makan sebelum berenang bisa menyebabkan kram? Atau justru ada faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap munculnya kram otot?
Kita perlu memahami apa itu kram, bagaimana hal itu bisa terjadi, apa pemicunya ketika berenang, dan apakah makanan meningkatkan risiko kram?
Kenapa Kram Bisa Terjadi Saat Berenang?
Kram merupakan kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba, tidak disengaja, dan biasanya menimbulkan rasa sakit. Otot yang mengalami kram terasa menegang dan sulit rileks. Kondisi ini bisa berjalan beberapa detik atau menit.
Ketika berenang, kram dapat menyerang bagian tubuh yang paling banyak digunakan untuk menghasilkan gerakan, seperti betis, paha, telapak kaki, hingga jari-jari kaki. Jika kram terjadi saat berenang, maka seseorang bakal kesulitan mempertahankan posisi tubuh di dalam air.
Bagaimana kram bisa terjadi? Gerakan otot dikendalikan oleh sistem saraf. Ketika seseorang ingin menggerakkan kaki, otak dan saraf mengirimkan sinyal menuju otot. Serangkaian proses dalam sel otot membuat serat-seratnya berkontraksi.
Setelah rangsangan berhenti dan proses pengaturan kalsium di dalam sel berlangsung, otot dapat kembali rileks.

Kram dapat muncul ketika aktivitas saraf yang mengatur kontraksi dan relaksasi otot mengalami gangguan. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kram saat berenang.
Pertama, kelelahan otot. Berenang dengan intensitas tinggi atau durasi panjang membuat otot dipaksa bekerja terus-menerus. Otot mulai kelelahan, kontrol saraf terhadap aktivitas otot dapat berubah sehingga risiko kram meningkat.
Kedua, kurang pemanasan. Otot yang belum dipersiapkan untuk aktivitas mungkin belum siap menghadapi tuntutan gerakan dan intensitas latihan. Pemanasan membantu tubuh beralih secara bertahap dari kondisi istirahat menuju aktivitas fisik.
Ketiga, dehidrasi dan gangguan elektrolit. Cairan berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh selama beraktivitas. Kehilangan cairan dalam jumlah cukup besar dapat mengganggu performa fisik.
Kram saat berenang tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Kelelahan dan perubahan kontrol saraf terhadap otot bsa jadi faktor penting, sementara kondisi cairan dan elektrolit juga dapat berperan.
Bolehkah Berenang Setelah Makan?
Larangan berenang setelah makan sudah lama menjadi salah satu nasihat orang tua. Nasihat ini berawal dari anggapan bahwa berenang dengan perut kenyang dapat memicu kram otot, hingga meningkatkan risiko tenggelam.
Anggapan tersebut berkaitan dengan proses pencernaan. Selepas makan, aliran darah menuju ke saluran pencernaan meningkat untuk membantu tubuh memproses makanan.
Di sisi lain, otot juga membutuhkan pasokan darah dan oksigen ketika seseorang berenang. Oleh karenanya kemudian muncul anggapan bahwa suplai darah terbagi antara organ pencernaan dan otot yang tengah bekerja untuk berenang, yang mengakibatkan munculnya kram.
Anggapan ini terdengar masuk akal. Namun sayangnya belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Sejatinya tubuh punya mekanisme tersendiri untuk mengatur aliran darah sesuai kebutuhan.
American Red Cross Scientific Advisory Council pernah meninjau bukti ilmiah mengenai hubungan antara makan sebelum berenang dan risiko tenggelam.
Hasil penelitian yang diterbitkan pada 2011 dalam International Journal of Aquatic Research and Education tidak menemukan bukti kuat bahwa berenang dalam waktu satu jam setelah makan meningkatkan risiko tenggelam.
Penelitian lain dalam jurnal F1000Research pada 2023 turut menguji. Penelitian dilakukan terhadap 26 peserta. Mereka diminta berenang sejauh 14 meter segera setelah makan siang, sementara peserta lainnya menunggu 30 menit.

Hasilnya, peneliti tidak menemukan kejadian kram otot , tenggelam, maupun kondisi serius lainnya. Tapi peserta melaporkan rasa tidak nyaman ketika berenang segera setelah makan.
Aktivitas fisik setelah makan dapat memicu keluhan pencernaan, seperti mual, perut begah, nyeri perut, atau refluks asam lambung. Makan dalam porsi besar, terutama tinggi lemak dapat membuat lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna. Akibatnya gerakan berenang yang intens terasa tidak nyaman.
Makan sebelum berenang bukanlah penyebab kram yang terbukti secara ilmiah. Tapi hal itu mengganggu kenyamanan tubuh, dan bukan tidak mungkin berpengaruh terhadap keamanan ketika berenang.
Cara Menghindari Kram dan Tips Aman Berenang
Kram saat berenang tidak selalu bisa dicegah, tapi ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko. Persiapan sebelum masuk ke kolam, pengaturan intensitas latihan, hingga menjaga kecukupan cairan dapat membantu.
Sebelum berenang atau masuk kolam, luangkan waktu untuk melakukan pemanasan. Ini bertujuan mempersiapkan otot dan sistem kardiovaskular agar lebih siap menghadapi aktivitas fisik.
Pemanasan bisa dilakukan dengan aktivitas sederhana, seperti berjalan santai, menggerakkan bahu, memutar pergelangan kaki, lakukan gerakan dinamis kaki dan tangan.
Awali berenang dengan intensitas ringan, kemudian tingkatkan kecepatan atau intensitas secara bertahap.
Berenang bisa membuat seseorang tidak menyadari banyaknya keringat dan cairan tubuh yang keluar. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sebelum dan setelah berenang. Dalam kondisi tertentu, minuman yang mengandung elektrolit juga dapat membantu.
Hal penting untuk mengurangi risiko kram adalah menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh. Jangan pernah memaksakan kemampuan fisik. Ketika mulai merasa lelah lakukan istirahat. Memaksakan diri ketika otot sudah kelelahan justru dapat meningkatkan risiko kram.
Ketika kram muncul saat berenang jangan panik. Berusaha tetap tenang dan tidak memaksakan gerakan pada otot yang mengalami kram.

Jika memungkinkan, pertahankan posisi mengapung dengan menjaga jalan napas tetap berada di atas permukaan air. Segera minta bantuan penjaga kolam atau orang lain di sekitar. Meminta bantuan menjadi prioritas utama, ketimbang berusaha mengatasi kram sendirian.
Oleh karenanya keselamatan berenang juga wajib diperhatikan. Selalu berenang di area yang mendapat pengawasan petugas keselamatan. Hindari berenang sendirian, bahkan jika merasa sudah mahir.
Gunakan pelampung atau jaket keselamatan yang sesuai ketika berenang di perairan terbuka, terutama jika kemampuan berenang masih terbatas. Untuk anak-anak, pengawasan orang dewasa harus dilakukan secara aktif.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id































