Menuju konten utama

Benarkah 2026 akan Ada Banjir Lima Tahunan di Jakarta?

BMKG mengungkapkan tidak semua banjir besar memiliki jeda interval lima tahun, termasuk banjir Jakarta.

Benarkah 2026 akan Ada Banjir Lima Tahunan di Jakarta?
Warga mendorong motornya yang mogok saat melintasi banjir di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat 23 ruas jalan serta 10 wilayah rukun tetangga (RT) di Jakarta Selatan (Jaksel) dan Jakarta Utara (Jakut) terendam banjir dan genangan akibat curah hujan yang tinggi dan buruknya drainase di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar/pri.

tirto.id - Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan mitos mengenai siklus banjir lima tahunan di Jakarta yang kembali mengemuka di tengah banjir pada awal 2026 ini.

Anggapan tentang siklus banjir lima tahunan di wilayah Jabodetabek sejatinya bukan isu baru. Persepsi ini muncul akibat kebetulan bahwa banjir besar, khususnya di Jakarta, kerap terjadi dalam rentang waktu sekitar lima tahun. Sejumlah peristiwa banjir besar, seperti yang terjadi pada 2002 dan 2007, kerap disebut sebagai dua banjir terbesar dalam sejarah Jakarta dan dianggap memperkuat asumsi tersebut.

Ardhasena menjelaskan bahwa dalam kajian hidrologi, istilah siklus banjir lima tahunan sebenarnya didasarkan pada teori Periode Ulang atau Return Period. Konsep ini disusun melalui analisis frekuensi data curah hujan atau debit sungai historis yang dikumpulkan selama puluhan tahun.

“Angka ‘5 tahun’ umumnya secara mudahnya dipahami sebagai adanya banjir tiap lima tahun sekali. Masyarakat umumnya mengaitkan banjir besar Jakarta yang beberapa di antaranya memiliki selisih interval lima tahun,” ujar Ardhasena kepada Tirto, Kamis (15/1/2026).

Namun demikian, ia menegaskan bahwa faktanya tidak semua banjir besar memiliki jeda interval lima tahun. Istilah lima tahunan tersebut tidak merujuk pada jeda waktu kejadian, melainkan pada konsep peluang atau probabilitas dalam analisis hidrologi.

Periode ulang lima tahun, lanjutnya, merupakan kejadian banjir yang memiliki peluang sekitar 20 persen untuk terjadi dalam satu tahun tertentu.

Artinya, dalam satu tahun peluang terjadinya banjir dengan besaran tersebut adalah satu dari lima, bukan berarti peristiwa itu pasti muncul tepat setiap lima tahun sekali.

“Akibatnya, banjir besar bisa saja terjadi dua kali dalam selang waktu yang berdekatan, misalnya dalam dua hingga tiga tahun, atau tidak terjadi sama sekali selama lebih dari lima tahun,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan kajian literatur dari sejumlah publikasi ilmiah, banjir di Jakarta dan sekitarnya umumnya disebabkan oleh interaksi berbagai faktor.

Faktor-faktor tersebut meliputi kontribusi Madden-Julian Oscillation (MJO), fenomena Seruakan Dingin dari Utara, pengaruh perubahan iklim, serta penurunan muka tanah (land subsidence) yang dinilai sebagai faktor paling kritis.

“Penurunan tanah dianggap sebagai faktor paling kritis dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan tanah menyebabkan saluran drainase kehilangan kemiringan alaminya, sehingga air tidak bisa mengalir ke laut secara gravitasi dan justru berbalik (backwater). Hal ini memperluas area genangan dan membuat sistem pompa menjadi satu-satunya cara membuang air. Penurunan tanah di Jakarta terjadi dengan laju sekitar 5-10 cm per tahun,” ujarnya kepada Tirto, Kamis (15/1/2026).

Kepada Tirto, ia kemudian menjelaskan satu per satu faktor tersebut.

Pertama, kontribusi MJO (Madden-Julian Oscillation). MJO merupakan fenomena migrasi awan konvektif masif dari Samudra Hindia yang bergerak hingga Samudra Pasifik bagian timur dengan periode sekitar 30-90 hari.

Ketika MJO berada pada fase 35, yakni aktif di wilayah Samudra Hindia bagian timur hingga Indonesia bagian timur, terjadi peningkatan pertumbuhan awan konvektif secara masif. Kondisi ini memicu hujan lebat yang berlangsung terus-menerus dengan durasi yang sangat lama atau persisten. Peristiwa banjir pada 1 Januari 2020 disebut sebagai salah satu contoh dampak dari fenomena ini.

“Seringkali MJO ini terjadi bersamaan dengan gelombang atmosfer lain, misalnya Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial. Ini adalah gangguan atmosfer yang juga menyebabkan peningkatan uap air di wilayah Indonesia, namun dengan periodesitas yang lebih pendek,” ujarnya.

Faktor kedua adalah fenomena Seruakan Dingin dari Utara atau Northerly Surge (Cold Surge/CENS) yang umumnya muncul saat puncak musim hujan di wilayah selatan Indonesia.

Fenomena ini merupakan aliran massa udara dingin dan kuat dari daratan Asia, khususnya Siberia, yang bergerak melintasi Laut Tiongkok Selatan menuju Jawa. Aliran udara tersebut membawa uap air dalam jumlah besar dan menyebabkan terjadinya konvergensi atau pertemuan angin di sekitar Jakarta, sehingga memicu pertumbuhan awan hujan berukuran besar.

Selanjutnya, faktor perubahan iklim juga berperan signifikan. Peningkatan intensitas hujan ekstrem disebut menjadi pemicu utama yang memperparah kondisi infrastruktur yang telah ada.

“Studi menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, curah ekstrem di Jakarta semakin meningkat intensitasnya, yang ditunjukkan oleh meningkatnya nilai curah hujan maksimum tahunan (annual maxima),” ujarnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR JAKARTA atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Bayu Septianto