tirto.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target agresif untuk tahun 2027 dengan membidik 1,3 juta investor aktif bulanan, melonjak 44,4 persen dari target RKAT 2026 revisi sebanyak 900 ribu investor. Pertumbuhan ini sejalan dengan target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang dipatok sebesar Rp21 triliun, naik 16,7 persen dibandingkan target tahun ini Rp18 triliun.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan kedua target tersebut, bagian dari asumsi utama penyusunan RKAT 2027 yang telah disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini.
“Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) ditargetkan sebesar Rp21 triliun, meningkat 16,7 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi,” kata Jeffrey dalam konferensi pers secara daring, Rabu (28/10/2026).
BEI akan memperluas jangkauan edukasi, literasi, dan aktivasi investor melalui jaringan kantor perwakilan, galeri investasi, serta pemanfaatan kanal digital untuk mendorong pertumbuhan investor aktif.
BEI juga membidik pencatatan 905 efek baru sepanjang 2027. Target tersebut meningkat 13,1 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi sebanyak 800 efek.
Target pencatatan tersebut terdiri atas 25 saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya, termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif.
Untuk mencapai berbagai target tersebut, Jeffrey mengatakan penyusunan rencana kerja tahun depan turut mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik dan global, prospek pertumbuhan pasar modal, serta capaian kinerja tahun berjalan.
"Meskipun ketidakpastian global masih menjadi perhatian, kami melihat adanya peluang pertumbuhan yang didukung oleh stabilitas ekonomi domestik, arah kebijakan pemerintah yang mendorong investasi, serta aktivitas pelaku pasar modal yang terus berkembang,” jelas dia.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, BEI menyusun 51 rencana kerja pada 2027 dengan total anggaran sebesar Rp596,4 miliar.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp186,8 miliar atau 31,3 persen dialokasikan untuk pilar bisnis. Anggaran ini mencakup penguatan bisnis transaksi dan nontransaksi, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta perluasan partisipasi investor.
Sementara itu, sebesar Rp409,7 miliar atau 68,7 persen dialokasikan untuk enabler atau faktor pendukung operasional dan pengembangan bursa. Sebagian besar anggaran enabler, yakni Rp380,7 miliar, diarahkan untuk penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi.
“Sebagian besar alokasi ini, yaitu sebesar Rp380,7 miliar, diarahkan untuk penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi guna mendukung keandalan sistem, kapasitas layanan, dan kesiapan pengembangan pasar ke depan,” tutur Jeffrey.
Menurutnya, rencana kerja tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan kinerja tahunan, tetapi juga mempersiapkan bursa dalam menjalankan tahapan transformasi berikutnya.
"Melalui alokasi rencana kerja tersebut, kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan program pada tahun 2027 tidak hanya mendukung kebutuhan operasional dan pencapaian kinerja tahunan, tetapi juga memperkuat kesiapan Bursa Efek Indonesia dalam menjalankan tahapan transformasi berikutnya,” ujarnya.
Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan total pendapatan pada 2027 mencapai Rp2,59 triliun, tumbuh 14,6 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi. Pendapatan tersebut antara lain ditopang aktivitas transaksi efek, jasa pencatatan efek, serta pertumbuhan layanan data kebursaan.
Laba bersih perseroan ditargetkan mencapai Rp563,9 miliar, meningkat 22,76 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi. Total aset BEI diproyeksikan mencapai Rp9,12 triliun, dengan total ekuitas sebesar Rp7,66 triliun.
BEI juga menganggarkan belanja investasi sebesar Rp670 miliar pada 2027, meningkat 161,82 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi untuk mendukung pengelolaan infrastruktur dan pertumbuhan bisnis.
Target tahunan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Masterplan BEI 2026–2030. Dalam rencana jangka panjang itu, BEI membidik kapitalisasi pasar sebesar Rp30.000 triliun, RNTH Rp31 triliun, sebanyak 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pasar modal pada 2030.
Jeffrey mengatakan BEI telah menetapkan arah strategis untuk mewujudkan pasar modal Indonesia yang maju, inklusif, dan berdaya saing global.
“Melalui Masterplan 2026–2030, Bursa Efek Indonesia telah menetapkan arah strategis jangka panjang untuk mewujudkan pasar modal Indonesia yang maju, inklusif, dan berdaya saing global, dengan aspirasi menjadi salah satu dari 10 bursa terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi,” pungkas Jeffrey.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































