Menuju konten utama

Baru 14 Dapur untuk Layani Program MBG 181 Sekolah di Tangsel

Jumlah dapur aktif hanya 14 dinilai belum cukup untuk melayani seluruh kebutuhan MBG di Tangsel.

Baru 14 Dapur untuk Layani Program MBG 181 Sekolah di Tangsel
Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie saat di Wawancarai Oleh Media. (Foto: Jupri Nugroho)

tirto.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menjadi sorotan. Selain terkendala keterbatasan infrastruktur dapur penyedia makanan, keluhan soal kualitas menu juga mencuat dari kalangan sekolah penerima manfaat.

Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, mengungkapkan bahwa jumlah dapur aktif yang tersedia saat ini hanya 14 dapur belum mencukupi untuk melayani seluruh kebutuhan sekolah.

Karena menurut ia hingga akhir Juli 2025 dari jumlah dapur yang ada harus melayani 157 SD dan 24 SMP negeri.

“Total kebutuhan dapur untuk mencukupi program MBG di seluruh sekolah negeri dan swasta kami perkirakan mencapai 71 unit,” ujar Benyamin saat mendampingi Menteri Koperasi dan UKM RI, Maman Abdurrahman, meninjau klaster pangan MBG di Pamulang, Selasa (29/7/2025).

Ia menyebut sekitar 50 ribu siswa sudah menerima manfaat dari program MBG. Namun, dengan jumlah dapur yang sangat terbatas, distribusi makanan masih belum merata, terlebih jumlah sekolah swasta di Tangsel hampir dua kali lipat dari sekolah negeri.

“Kami terus berupaya memperluas jangkauan dengan membangun dapur tambahan. Ini tantangan besar bagi Pemkot,” tegasnya.

Namun tantangan MBG di Tangsel tak hanya soal jumlah dapur. Di lapangan, kualitas makanan yang dibagikan juga menuai keluhan. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya terjadi di SDN 03 Rawa Buntu, yang mengalami masalah pada pengiriman makanan pada Kamis (17/7/2025).

Kepala SDN 03 Rawa Buntu, Amir Mahmud, mengatakan siswa menerima menu berupa tahu isi dalam kondisi mencurigakan. Banyak siswa mengeluh makanan terasa aneh, berlendir, dan tidak layak konsumsi.

“Setelah dicek, ternyata memang tahu isinya lembek dan basah seperti sudah basi. Anak-anak enggan memakannya karena rasanya juga tidak enak,” kata Amir saat dikonfirmasi, Rabu (23/7/2025).

Tak hanya soal mutu, Amir juga menyoroti nilai gizi makanan yang dikirim. Dari sembilan kali pengiriman sebelumnya, ia menilai tidak ada satu pun yang menyertakan makanan pokok seperti nasi. Menu yang dibagikan mayoritas berupa camilan ringan, seperti roti, biskuit, lontong, dan bahkan burger.

“Sebagian besar hanya berisi camilan ringan seperti roti, biskuit, lontong, bahkan pernah juga burger. Kami tidak tahu apakah makanan seperti itu sesuai standar gizi anak sekolah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyayangkan tidak adanya pengiriman ulang makanan pada hari kejadian. Banyak makanan terpaksa dibuang karena tidak bisa dikonsumsi. Ia berharap ada evaluasi menyeluruh, terutama dari Badan Gizi Nasional.

“Sayang sekali, banyak makanan akhirnya dibuang. Kami hanya menerima, tapi kami berharap ada perbaikan. Paling tidak, Badan Gizi Nasional bisa mengevaluasi kualitas dan komposisi menu sebelum didistribusikan,” imbuhnya.

Meski demikian, Amir memastikan persoalan tersebut sudah diselesaikan setelah pihak sekolah berkoordinasi dengan Satgas Penyelenggara Program Gizi (SPPG) Kota Tangsel.

“Maaf, itu sudah minggu lalu, sudah selesai, Pak,” pungkasnya.

Program MBG yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi siswa sekolah dasar dan menengah dinilai masih memerlukan banyak pembenahan. Minimnya infrastruktur, kurangnya kontrol mutu, serta lemahnya pemantauan gizi menjadi tantangan serius yang harus ditangani secara sistemik agar program tidak justru menjadi kontraproduktif.

=====

Tangsel_Update adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah