Menuju konten utama

Bareksa Prioritas: Navigasi Portofolio di Tengah Volatilitas

Bareksa Prioritas menyarankan strategi buy on weakness dan diversifikasi aset di tengah volatilitas global guna optimalkan potensi rebound pasar domestik.

Bareksa Prioritas: Navigasi Portofolio di Tengah Volatilitas
Ilustrasi Konflik Timur Tengah. FOTO/(Unsplash, Saifee Art)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Platform wealth management digital khusus nasabah High Net Worth Individuals (HNWI) yang merupakan kolaborasi Bareksa dan Jagartha Advisors, yakni Bareksa Prioritas, kembali menyoroti arah pasar keuangan. Mereka melihat adanya peluang investasi strategis di kelas aset ekuitas maupun obligasi. Peluang ini diyakini justru muncul ke permukaan saat eskalasi konflik geopolitik sedang memicu tingkat volatilitas yang tinggi di pasar finansial global.

Sorotan utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada ketegangan di kawasan Timur Tengah beserta ancaman dari Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan chokepoint vital bagi rantai pasok energi global karena terus dilewati oleh sekitar ~20% pasokan minyak dunia setiap harinya.

Sentimen ini sempat memicu kepanikan di pasar energi yang mendorong harga minyak mentah WTI dan Brent sempat melonjak mencapai level tertingginya di sekitar 117,63 dan 113,14 dolar AS per barel. Kondisi tersebut pada akhirnya kembali menghidupkan ancaman imported inflation di berbagai kawasan.

Kondisi risk off tersebut berdampak langsung pada aksi jual di pasar saham dan obligasi global termasuk di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam lebih dari -14,73% dari level sebelum peristiwa konflik terjadi pada 27 Februari 2026 ke 16 Maret 2026, sementara yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun sempat melonjak pesat hingga menyentuh level tertinggi di 6,93%.

Dinamika makroekonomi ini juga merombak ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Probabilitas pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed kini mulai meredup imbas risiko inflasi persisten yang membuat narasi higher for longer kembali menguat.

Menyikapi volatilitas pasar ini, Bareksa Prioritas menyarankan para investor khususnya yang memiliki profil risiko agresif dan time horizon jangka panjang untuk mulai menerapkan strategi buy on weakness. Strategi ini dapat dilakukan melalui akumulasi aset secara bertahap memanfaatkan harga instrumen investasi yang sedang terdiskon.

"Gejolak geopolitik saat ini memang memicu tekanan jangka pendek tetapi secara fundamental kondisi tersebut justru menciptakan entry point yang sangat menarik mengingat valuasi pasar saham domestik menjadi jauh lebih undervalued dan instrumen obligasi juga menawarkan tingkat diskon harga yang sangat menguntungkan," ujar Chief Investment Officer Jagartha Advisors, Erik Argasetya.

Meskipun valuasi aset terlihat sangat menjanjikan para investor tetap diimbau untuk mengambil keputusan secara rasional dan terukur. Langkah mitigasi risiko yang ketat menjadi sebuah keharusan di tengah dinamika pasar yang masih sulit diprediksi arah pergerakannya.

"Risiko eskalasi lanjutan masih terus membayangi sehingga kami sangat menyarankan investor untuk disiplin melakukan diversifikasi lintas kelas aset dan mengalokasikan sebagian porsi portofolio pada instrumen emas yang secara historis terbukti tangguh berfungsi sebagai safe haven sejati saat krisis melanda," tegas Managing Partner Bareksa Prioritas, Citra Putri.

Kepanikan pasar sering kali memicu keputusan emosional yang berujung pada kerugian permanen jika investor memilih untuk keluar dari pasar sepenuhnya. Oleh karena itu, mempertahankan posisi investasi menjadi kunci utama untuk menangkap peluang pemulihan nilai aset di masa depan.

"Investor dapat tetap stay invested karena mencoba melakukan market timing saat volatilitas tinggi justru sangat berisiko membuat kita kehilangan momentum technical rebound yang biasanya terjadi secara mendadak dan justru memberikan imbal hasil paling masif dalam satu siklus pasar," jelas Chief Executive Officer Bareksa Prioritas, Ricky Rachmatulloh.

Sebagai pelengkap strategi alokasi taktis tersebut instrumen reksa dana pasar uang memegang peranan krusial yang sama sekali tidak boleh dikesampingkan. Kelas aset ini merupakan tempat berlabuh yang sangat ideal untuk memarkir dana sementara karena menawarkan stabilitas nilai pokok sekaligus tingkat imbal hasil yang sangat kompetitif di era suku bunga tinggi.

Likuiditas yang selalu terjaga pada instrumen pasar uang ini nantinya akan berfungsi sebagai dry powder atau amunisi siap pakai. Amunisi inilah yang memungkinkan investor mengeksekusi pembelian secara cepat dan presisi saat harga aset berisiko akhirnya menyentuh titik terbawah.

Di sisi lain, Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, mengatakan dalam menghadapi pasar yang tidak stabil, diversifikasi menjadi salah satu strategi utama yang dapat dipertimbangkan. Tidak hanya antar sektor atau instrumen, tetapi juga lintas mata uang.

Sebagai gambaran, indeks dolar DXY sempat mendekati 100,6 yang menggambarkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama. Dari kacamata Indonesia, USD juga menguat sekitar 2,9% terhadap rupiah ke level Rp17.140/USD (19 April 2026).

“Instrumen investasi berbasis dolar AS dapat memberikan alternatif diversifikasi, terutama untuk investor yang sudah memiliki dolar AS karena memiliki potensi tambahan imbal hasil dari pergerakan nilai tukar,” kata Putu.

Berikut adalah daftar rekomendasi reksa dana unggulan serta emas digital yang dapat langsung dipertimbangkan oleh para investor guna menavigasi volatilitas sekaligus mengoptimalkan peluang keuntungan di tengah dinamika pasar saat ini.

Tabel Kinerja Reksa Dana dan Emas Rekomendasi Bareksa Prioritas

Reksadana Saham dan Indeks

YTD

1 Tahun

AUM

BNP Paribas Solaris2,14%24,33%Rp279,22 Miliar
Manulife Saham SMC Plus1,67%26,03%Rp50,86 Miliar
Sucorinvest Maxi Fund0,41%75,30%1.168,54 Miliar

Reksadana Obligasi

YTD

1 Tahun

AUM

Sucorinvest Sharia Sukuk Fund Kelas A1,56%6,52%Rp5.744,53 Miliar
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A1,55%8,12%Rp3.226,55 Miliar
STAR Stable Income Fund Kelas Utama1,41%7,70%Rp14.828,36 Miliar

Reksadana Pasar Uang

YTD

1 Tahun

AUM

STAR Money Market Kelas Utama1,22%4,71%Rp354,40 Miliar
Sucorinvest Sharia Money Market Fund1,22%4,93%Rp6.996,85 Miliar
Trimegah Kas Syariah1,17%4,88%Rp2.336,11 Miliar

Reksadana USD

YTD

1 Tahun

AUM

STAR Fixed Income Dollar0,99%4,2%US$15,96 Juta
Mandiri Money Market USD0,72%2,81%US$455,03 Juta

Emas Digital

YTD

1 Tahun

Emas Treasury11,01%45,49%
Sumber: Tim Analis Bareksa Prioritas, Return NAV per 16 April 2026, AUM per Maret 2026, Return Emas Treasury per 17 April 2026 pukul 08.00 WIB.

Penulis: Tim Media Servis