tirto.id - Dampak bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakibatkan sejumlah kerusakan. Data terbaru BPBD Nagekeo mencatat, kerusakan parah melanda berbagai desa di Kecamatan Mauponggo, Nangaroro, Boawae, dan Keo Tengah.
Pemerintah Kabupaten Nagekeo resmi menetapkan status darurat bencana setelah banjir dan banjir bandang melanda empat kecamatan di wilayah selatan Nagekeo pada Senin (8/9/2025). Penetapan itu tertuang dalam Pernyataan Bencana yang ditandatangani Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, pada Selasa (9/9/2025).
Bupati Donatus menyebut, bencana melanda Kecamatan Boawae, Mauponggo, Keo Tengah, dan Nangaroro. Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa, orang hilang, kerusakan infrastruktur, serta kerugian material yang besar.
“Pemerintah Kabupaten Nagekeo menyatakan ini sebagai keadaan darurat bencana dan memerlukan langkah strategis serta tindakan cepat untuk pertolongan, evakuasi korban, pemulihan sarana prasarana vital, dan dukungan logistik bagi warga terdampak,” tulis Bupati Donatus dalam pernyataannya.
Donatus bilang, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial yang melintasi kawasan Nusa Tenggara. Fenomena tersebut bersifat sementara karena NTT sejatinya masih berada di musim kemarau.
Ia merincikan, Kecamatan Mauponggo menjadi wilayah dengan dampak terparah. Di Desa Sawu, banjir bandang di Jembatan Teodhae I dan II menewaskan tiga orang, empat orang masih hilang, serta dua orang mengalami luka-luka. Puluhan rumah tersapu banjir, sementara jalur Sawu-Mulakoli terputus total.
"Di Desa Lokalaba, seorang warga meninggal karena shock berat saat banjir melanda Kampung Pauleka. Material lumpur menutupi pemukiman, kantor pertanian, hingga kantor peternakan. Seluruh warga akhirnya mengungsi ke Kampung Wolopoko," ungkapnya.
Sementara itu, banjir dari Kali Aetoro di Desa Aewoe merusak rumah warga dan mengancam jembatan utama. Di Desa Wolokisa, luapan air menerjang sawah di Kampung Bayu sehingga padi terancam gagal panen. Banjir juga merusak jalan serta kebun milik warga di Batawa.
Lanjutnya, longsor besar terjadi di Desa Wuliwalo, memutus akses jalan Wulu-Boloroga. Banjir menghantam bendungan Liasesa dan Watugate, mengakibatkan 38 hektar sawah tidak bisa diairi. Di Desa Lajawajo, banjir bandang menghancurkan dekker penghubung dengan Desa Kelewae, membuat akses ke Kecamatan Mauponggo lumpuh.
Dampak lebih parah tercatat di Desa Ululoga. Longsor merusak talud penahan tanah dan memutus akses jalan antar-desa. Banjir menghanyutkan dua ekor sapi, lima ekor babi, serta menghancurkan jaringan air bersih dari mata air Ae Eo yang melayani warga Ululoga dan Jawapogo.
Pada Kecamatan Nangaroro tepatnya di Kelurahan Nangaroro, Kali Madambake meluap dan merendam permukiman di Kampung Kodidewa. Banjir menggerus badan kali hingga 1,5 kilometer dan memutus jalur jalan antar-RT.
Longsor turut merusak empat rumah warga. Di pesisir Konge, tujuh perahu nelayan tenggelam dihantam gelombang tinggi.
Desa Odaute, Degalea, dan Pagomogo juga terdampak. Longsor menutup jalan menuju Wodomia, sementara banjir merusak jalur utama Kotakeo-Degalea hingga akses transportasi putus total. Di Pagomogo, longsor menghancurkan jalan penghubung menuju Desa Persiapan Dena Doa.
Sementara di Kecamatan Boawae, banjir bandang menghantam Desa Kelewae, menutup jalan negara Gako-Mauponggo akibat material lumpur dan longsor. Transportasi di jalur ini lumpuh.
Di Desa Rigi, banjir merusak instalasi air bersih sepanjang 100 meter, yang berdampak pada warga di RT 4, RT 8, Paroki Gako, serta siswa SMPN 2 Gako. Persawahan warga juga rusak parah akibat tersapu banjir, membuat petani terancam gagal panen.
Dengan kerusakan meluas ini, ribuan warga di Nagekeo kini menghadapi ancaman kelaparan, kekurangan air bersih, hingga terisolasi karena akses jalan terputus.
"Pemerintah daerah masih terus melakukan evakuasi, membuka akses jalan dengan alat berat, dan menyalurkan bantuan logistik ke lokasi terdampak," ungkapnya.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





























