Bahagia dan Sedih Para Ahoker di Mako Brimob

Oleh: Mawa Kresna - 25 Januari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Cerita para Ahoker paling militan yang menginap di Mako Brimob untuk menyambut idolanya.
tirto.id - Rabu siang, 23 Januari, sehari sebelum Basuki Tjahaja Purnama bebas, kau mendengar ada enam Ahoker yang akan bermalam di depan Mako Brimob. Kau membaca berita bahwa enam orang Ahoker itu menggelar lapak di depan ruko, di seberang lokasi penjara BTP. Kau tertarik untuk bergabung.

Sore hari, kau mencari kontak Yudo Wibowo, Ahoker yang mengajak teman-teman pendukung BTP menyambut idolanya. Kau segera menelepon Yudo tapi panggilanmu tak terjawab. Lalu kau memutuskan untuk mengirim pesan singkat.

Malam Pak Yudo, apa benar malam ini teman-teman mau menginap di depan Mako? Saya mau gabung kalau boleh.

Jam 9 malam, Yudo membalas pesanmu. Boleh, gabung saja.

Saat kau menerima pesan itu, hujan masih mengguyur Jakarta. Kau berhitung. Hujan deras akan bikin repot mencari tempat berteduh di depan Mako Brimob. Kemungkinan besar, bila kau tetap ke sana, kau akan kedinginan sepanjang malam.

Sambil menunggu hujan reda, kau bersantai di warung kopi, mengisi perut dan baterai ponsel hingga penuh.

Hujan baru reda sekitar pukul 11 malam. Setengah jam kemudian, mengenakan sweater tipis, celana panjang dan sandal jepit, kau memutuskan berangkat. Ransel di punggungmu diisi camilan dan air minum sebagai bekal.

Perjalanan dari tempatmu ke Mako Brimob, dengan sepeda motor, memerlukan waktu setengah jam dengan kecepatan santai, selalu di bawah 60 km per jam. Sepanjang jalan kau mengutuk diri sendiri karena tak mengenakan jaket tebal. Jari-jarimu yang menggenggam setang motor kedinginan.

Setiba di sana, kau melihat ada sembilan orang Ahoker berkumpul di emperan ruko seberang McDonald's Kelapa Dua. Mereka menggelar karpet dan terpal sebagai alas duduk dan menyalakan lilin. Di pintu ruko, mereka membentangkan spanduk bergambar foto BTP.

Lima dari para Ahoker itu mengenakan kemeja kotak-kotak khas relawan BTP saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017. Sementara seorang lagi mengenakan kemeja kotak-kotak relawan Jokowi dan BTP pada saat Pilkada DKI 2012.

Kau memarkir motor lalu menyambangi mereka, menyalami satu persatu Ahoker. Orang yang kau kenal pertama di sana adalah Yudo. Para Ahoker memanggil Yudo dengan sebutan "ustaz." Kau ikut-ikutan memanggil Yudo dengan “Pak Ustaz”.

Kau bisa melihat Yudo adalah Ahoker garis keras.

Yudo tinggal di Margonda, Depok, bukan Jakarta. Namun, kecintaannya terhadap sosok BTP membuatnya ingin menjadi relawan untuk kemenangan BTP. Ia salah satu relawan yang paling vokal ketika BTP dijerat pasal "penodaan agama" dan dihukum 2 tahun penjara karena ucapannya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, September 2016.

Sebagai seorang muslim, Yudo menilai tak ada kesalahan ucapan BTP. Ia menuding semua itu hanya karena "masalah politik."

“Ahok tidak salah. Dia orang baik," katanya. "Kapan kita bisa punya pemimpin tegas, jujur, bersih seperti Ahok?”

Kau hanya mengangguk-angguk.

Yudo selalu hadir pada sidang Ahok. Ia selalu berorasi di luar gedung persidangan. Suaranya lantang. Usianya 50 tahun, semangatnya berapi-api. Dalam orasinya, ia tidak pernah takut untuk menyebut lawan-lawan politik Ahok.

“Saya berani tegas mengatakan itu pas orasi tiap sidang Ahok,” katanya.

Ia pernah dua kali mengunjungi BTP di dalam penjara. Terakhir pada 7 Oktober 2018. Sebuah kunjungan paling berkesan. Ia mendapatkan tanda tangan BTP pada topinya. Topi putih itu selalu dia pakai setiap ada acara kumpul relawan Ahoker, termasuk saat kau bertemu dengannya.

Kau meminta izin untuk memegang topi itu. Yudo terlihat bangga.


Upaya Pembubaran

Di tengah kau berbincang dengan Yudo, tiga orang menyambangi para Ahoker. Seorang pria bertubuh tambun mengenakan kemeja ungu mengajak Yudo bicara. Pria itu meminta para Ahoker pulang, tidak perlu menyambut BTP.

Dengan suara lantang dan membentak, pria itu mengatakan khawatir bila terjadi sesuatu pada Ahoker. “Takut kalau ada penyusup. Kalau ada apa-apa, siapa yang mau tanggung jawab?”

Yudo berkata semua akan aman karena jumlah Ahoker yang datang ke Mako Brimob cuma belasan. Ia bilang jumlahnya tak akan lebih dari itu. Tidak akan ada masalah. Tidak ada penyusup.

Si pria tambun itu justru makin mengeraskan suaranya. Ia membentak Yudo hanya karena Yudo berbicara sambil melipat tangannya di dada. “Kalau ngomong tangannya diturunin. Jangan begitu!”

Kau melihat mereka cekcok sambil mendekat ke Endang Suparna, Ahoker yang dipanggil "Babe Nana" karena usianya sudah 70 tahun, yang berdiri agak jauh.

Kau bertanya kepada Endang, “Itu siapa?”

“Teman juga,” jawab Endang.

Tak lama kemudian, si pria tambun itu berteriak memanggil nama seseorang. “Gustaf! Gustaf! Mana Gustaf?”

Gustaf yang sedang duduk, jengkel dengan teriakan si pria tambun itu. “Sini aja lo, duduk sini, enggak usah teriak-teriak.”

Omongan Gustaf itu rupanya bikin si pria tambun itu makin berang. Ia lalu menghampiri Gustaf dan menantang duel. Gustaf yang sudah kadung jengkel bangkit berdiri, siap duel. Sebelum duel benar-benar terjadi, keduanya dilerai. Si pria tambun ditarik menjauh, Gustaf diajak kembali duduk.

Karena penasaran, kau bertanya lagi kepada Endang. “Itu dari polisi atau Brimob?”

“Bukan,” kata Endang. Ia lalu mendekati Yudo. Kau duduk tak jauh dari Gustaf.

Sayup-sayup kau mendengar obrolan si pria tambun dengan Yudo. Mereka sepakat Ahoker boleh tetap di sana asal ada yang bertanggung jawab. Yudo bersedia pasang badan. Si pria tambun itu lalu pergi bersama dua orang lainnya.

Setelah mereka pergi, para Ahoker saling bertanya, siapa tiga orang itu? Ada yang menyebut mereka dari tim kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin, ada pula yang menyebut dari Rumah Aspirasi.


Orang-Orang Militan

Ardhy Satriani tidak mau ambil pusing soal orang-orang itu. Sebab ia datang ke Mako Brimob murni untuk menyambut BTP bebas. Tidak ada niatan lain. Ia juga sudah merencanakan ini sejak awal Januari lalu.

“Ada atau tidak ada Ahoker yang datang malam ini, saya juga tetap datang. Saya enggak tergantung orang lain,” kata Ardhy.

Ardhy memang sudah bernazar. Bila BTP bebas, ia akan menjemput BTP dengan jalan kaki dari rumahnya di Jalan Bangka VIII, Jakarta Selatan, ke Mako Brimob, Kota Depok. Nazar itu diumumkannya pada 9 Januari lalu di akun Facebooknya. Para Ahoker mendukung tindakannya.

Maka, pada Rabu kemarin, ia berangkat dari rumahnya pukul 16:30 dan tiba di Mako Brimob pukul 20:00. Perjalanannya menempuh 16 kilometer.

Aksi jalan kaki untuk BTP itu bukan kali pertama dilakukan oleh pria kurus berusia 33 tahun itu. Pada sidang BTP ke-17 dan ke-21, April 2017, Ardhy melakukan hal serupa, jalan kaki dari rumahnya ke pengadilan.

“Ahok dulu pernah bilang ke saya, 'Jangan pernah berhenti berjuang untuk orang-orang baik.' Jadi saya juga enggak akan berhenti buat Ahok. Dia orang baik,” kata Ardhy.

Kau menyimak cerita Ardhy dan dia menggeleng saat kau bertanya apakah kecapaian atau tidak.

Endang Suparna alias "Babe Nana" tak kalah militan. Malam itu ia membalut usia tuanya dengan gaya anak muda. Jaket kulit, rambut putih gondrong, kacamata hitam. Ia menertawakanmu saat kau meragukan semangatnya.

“Biar udah tua," katanya sambil terkekeh, "tenaga dan semangat masih muda!”

Ia berkata idolanya adalah "sosok yang jujur dan merakyat." Ia bilang BTP seharusnya mendapatkan kesempatan lagi untuk kembali ke politik. Sebab, dengan cara itu, BTP tetap bisa berguna untuk masyarakat. Ia kembali menekankan fanatismenya bahwa Ahok adalah "politikus yang bersih dan jujur".

“Coba Ahok pernah korupsi apa? Kagak ada!”--nyaris sebagai taklid buta.

Babe Nana menyambut BTP bebas dengan mengajak istrinya. Istrinya sudah pulang lebih dulu ke Pondok Labu, Jakarta Selatan. Istrinya akan kembali ke Mako Brimob Kamis pagi sekali, 24 Januari, saat BTP bebas.

Kau menyanjung militansi Bebe Nana.

Pukul tiga pagi, kau pamit untuk tidur. Kau menggelar terpal tipis di emperan ruko depan McDonald's, lalu rebahan bersama belasan Ahoker. Tas ransel yang kau bawa kau pakai sebagai bantalan kepala. Lalu kau tertidur pulas.


Infografik HL Indepth Basuki Tjahaja Purnama
Infografik Ahokers Menyambut BTP di Mako Brimob

Kesedihan Ahoker

Kau terbangun sekitar pukul lima pagi. Suara bising kendaraan dan nyamuk menggigiti kakimu. Kau terjaga dengan kepala berat dan mata yang masih mengantuk. Kau berusaha tidur lagi, tapi sia-sia.

Kau duduk bersandar ke pintu ruko. Kau melihat sebagian Ahoker masih tidur pulas.

Kau melihat Jay, salah satu Ahoker yang masih bertahan melek dari semalam. Ia adalah seorang pria kemayu berbadan besar. Ia mahasiswa, tapi disela kuliah, ia bekerja sebagai sales dan pengemudi ojek online.

Jay membuka obrolan denganmu setelah melahap nasi uduk yang disediakan Ahoker. Ia memulai dengan topik gosip pernikahan BTP dengan kekasihnya, Bripda Puput Nastiti Devi.

“Menurut lo, siapa yang bakal pindah agama?” tanya Jay.

Kau menjawab sekenanya bahwa BTP adalah seorang Kristen yang taat dan pengikut Yesus garis keras.

“Ahok enggak mungkin pindah. Berani taruhan?” Kau menantang Jay.

“Gue nggak mau taruhan, tapi apa pun keputusan mereka, semoga Ahok bahagia,” katanya.

Setelah semua Ahoker terjaga dan sarapan, mereka pindah lokasi ke depan Mako Brimob. Kau ikut dengan mereka. Ahoker yang datang menyusul pagi itu bertambah. Totalnya bertambah menjadi 20-an orang. Mereka kompak mengenakan kemeja kotak-kotak.

Jay memimpin mereka ke pinggir jalan di seberang Mako Brimob. Melihat sudah banyak media berkumpul, Jay langsung beraksi. Ia mengajak para Ahoker menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' lalu disusul yel-yel sembari bergoyang. Kamera wartawan langsung beralih ke Jay dan rombongan.

Pagi itu Jay menjadi pusat perhatian wartawan. Ia diwawancarai banyak wartawan. Mulai dari jam tujuh pagi hingga setengah sepuluh, Jay tidak berhenti membuat heboh. Ada saja ide darinya agar Ahoker tetap semangat. Peran ini pula yang ia mainkan ketika mendukung BTP tiap kali sidang. Ia selalu menjadi pemandu yel-yel dan mengajak relawan bergoyang.

Namun, di tengah euforia itu, satu kabar mendadak bikin Ahoker terdiam. Seorang wartawan memberitahu Jay bahwa Ahok sudah keluar dari Mako Brimob sejak pukul 7:30.

Jay, yang semula masih tertawa-tawa, kelu seketika. Ia melihat ke arahmu. Ia mengatakan sesuatu padamu, tapi kau tak mendengarnya karena terlalu ramai. Kau lantas mendekati Jay.

“Ahok sudah keluar katanya jam setengah delapan tadi. Itu tadi jam segitu kita masih di sana, ya?”

“Kita sih enggak masalah Ahok sudah pulang. Kita tetep seneng Ahok sudah bebas,” katanya lagi dengan suara berat. Kau melihat mata Jay berkaca-kaca.

Kau menepuk pundaknya.

Jay mengusap matanya. Para Ahoker lain pun terdiam. Mereka bahagia BTP telah bebas, tapi juga mereka tak bisa menutupi kesedihan karena tak bisa melihat BTP secara langsung keluar dari penjara.

Itu jadi momen berat buat para Ahoker. Kau merasakannya.

Baca juga artikel terkait BASUKI TJAHAJA PURNAMA atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan