Bacaan Niat Salat Idul Adha untuk Makmum & Imam, Serta Tata Cara

Oleh: Abdul Hadi - 30 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Tata Cara Salat dan Bacaan Niat Salat Iduladha untuk Imam dan Makmum
tirto.id - Hari raya Iduladha 1441 hijriah jatuh pada Jumat, 31 Juli 2020. Pelaksanaan salat hari raya berjamaah diimbau dilaksanakan di rumah, menurut Muhammadiyah.

Sementara itu, Kementerian Agama RI memberi aturan terperinci jika salat Ied tetap ingin didirikan di masjid atau lapangan.

Salat Iduladha hukumnya adalah sunah muakkadah, artinya pengerjaannya amat dianjurkan atau sunah yang ditekankan pengerjaannya. Karena hanya bisa dilakukan setahun sekali, ibadah salat Iduladha amat sayang dilewatkan.

"Salat dua hari raya [Idulfitri dan Iduladha] adalah sunah muakkadah bagi orang yang ada di rumah maupun di perjalanan, merdeka maupun hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan," (Ibnu Qosim Al Ghazi dalam Fathul Qorib, terbitan Santri Salaf Press, 2017).


Bacaan Niat Salat Iduladha untuk Imam dan Makmum

Niat ibadah merupakan salah satu rukun penting dari salat Iduladha. Tanpa adanya niat, ibadahnya tidak diterima di sisi Allah SWT. Namun, terkait pelafalan niat secara zahir, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dalam uraian "Melafalkan Niat dalam Salat" yang ditulis Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa'il PBNU, H.M. Cholil Nafis di NU Online, dinyatakan bahwa mazhab Maliki dan pengikut Imam Abu Hanifah (mazhab Hanafi) berpendapat bahwa melafalkan niat salat sebelum takbiratul ihram tidak disyariatkan, kecuali bagi orang yang was-was atau ragu terhadap niatnya sendiri.

Sementara itu, menurut mazhab Syafi’i dan pengikut mazhab Hanbali, melafalkan niat hukumnya sunnah, karena mengucapkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengokohkan hati. Tujuannya, agar seseorang lebih khusyuk dalam melaksanakan salat.

Jika merujuk pada pendapat kesunahan mengucapkan niat secara zahir, maka berikut lafaz niat salat Iduladha.

Pertama, lafaz niat salat Iduladha untuk imam:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلهِ تَعَــــــــالَى

"Ushallii sunnatan liidil adha rok'ataini imaaman lillahi ta'alaa."

Artinya: "Aku berniat salat Iduladha dua rakaat sebagai imam karena Allah ta'ala."

Kedua, lafaz niat salat Iduladha untuk makmum:


أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَــــــــالَى

"Ushallii sunnatan liidil adha rok'ataini makmuman lillahi ta'alaa."

Artinya: "Aku berniat salat Iduladha dua rakaat sebagai makmum karena Allah ta'ala."



Tata Cara Salat Iduladha

Mengingat hari raya Iduladha merupakan hari penyembelihan kurban, maka disunahkan untuk mendirikan salat Ied di awal waktu. Tujuannya, agar waktu penyembelihan kurban bisa maksimal. Salat Iduladha dapat dimulai ketika matahari terbit hingga masuk waktu salat Zuhur.

Sebagaimana salat Idulfitri, tidak perlu azan dan iqamat sebelum mendirikan salat Iduladha. Sebagai gantinya, lafaz takbir dapat dilantunkan untuk mengagungkan nama Allah SWT.

Salat Iduladha dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid atau tanah lapang, dan jumlah rakaatnya sebanyak dua rakaat. Selepas salat, diisi dengan khutbah Idulfitri.

Kesunahan pengerjaan salat Id berjamaah di masjid atau tanah lapang itu berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri RA, ia berkata:

“Rasulullah SAW biasa keluar pada hari raya Idulfitri dan Iduladha menuju tanah lapang,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Namun, dalam keadaan pandemi COVID-19, kendati sudah diterapkan kebijakan kelaziman baru atau new normal, kewaspadaan terhadap virus tidak boleh diabaikan.

Muhammadiyah menyarankan agar salat Iduladha dikerjakan di rumah masing-masing bersama keluarga untuk mencegah transmisi corona SARS-CoV-2.

Untuk mengerjakan salat Iduladha, berikut tata caranya sebagaimana dilansir NU Online:

1. Salat Iduladha diawali dengan pelafalan niat sebagiamana disebutkan di atas.
2. Takbiratul ihram
3. Membaca doa iftitah
4. Takbir tujuh kali untuk rakaat pertama


Bunyi takbirnya dianjurkan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Bacaan latinnya: "Allahu akbar kabiiroo, walhamdulillahi katsiroo, wa subhanallahi bukrata wa'ashiilaa."

Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Atau boleh juga membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Bacaan latinnya: "Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah wallahu akbar."

Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

5. Membaca surah Al-Fatihah
6. Membaca salah satu surah atau ayat dalam Al-Qur'an, dianjurkan untuk membaca surah al-A'lâ.
7. Rukuk
8. Iktidal
9. Sujud pertama
10. Duduk di antara dua sujud
11. Sujud kedua
12. Duduk sejenak sebelum bangkit mengerjakan rakaat kedua
13. Takbir lima kali untuk rakaat kedua
14. Membaca surah Al-Fatihah
15. Membaca salah satu surah atau ayat dalam Al-Qur'an, dianjurkan untuk membaca surah Al-Ghasyiyah.
16. Rukuk
17. Iktidal
18. Sujud pertama
19. Duduk di antara dua sujud
20. Sujud kedua
21. Duduk tasyahud akhir
22. Salam



Jika salat Iduladha akan dilaksanakan di masjid atau tanah lapang, Kemenag RI sudah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2020 yang mengatur tentang tata pelaksanaan salat Iduladha selama pandemi COVID-19.

Beberapa poin penting yang disebutkan di SE pasal E di atas bahwa penyelenggaraan salat Iduladha 1441 H dibolehkan, menurut ketentuan Kemenag RI, untuk dilakukan di lapangan, masjid, atau ruangan dengan persyaratan sebagai berikut:
  • Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan.
  • Melakukan pembersihan dan disinfeksi di area tempat pelaksanaan.
  • Membatasi jumlah pintu atau jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.
  • Menyediakan fasilitas cuci tangan atau sabun atau hand sanitizer di pintu atau jalur masuk dan keluar.
  • Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu atau jalur masuk. Jika ditemukan jamaah dengan suhu >37,5'C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area tempat pelaksanaan.
  • Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak satu meter.
  • Mempersingkat pelaksanaan salat dan khutbah Iduladha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya.
  • Tidak mewadahi sumbangan atau sedekah jamaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan terhadap penularan penyakit.
  • Penyelenggara atau panitia hari raya Iduladha sebaiknya memberikan himbauan kepada masyarakat tentang protokol kesehatan pelaksanaan salat Iduladha.

Protokol kesehatan yang diimbau meliputi:
  • Jemaah dalam kondisi sehat.
  • Membawa sajadah atau alas salat masing-masing.
  • Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat pelaksanaan.
  • Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau sanitasi tangan (hand sanitizer).
  • Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan.
  • Menjaga jarak antar jamaah minimal satu meter.
  • Menghimbau untuk tidak mengikuti salat Iduladha bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap COVID-19.


Baca juga artikel terkait IDUL ADHA atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight