Menuju konten utama

AS Klaim Hancurkan 16 Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz

Hegseth menegaskan bahwa konflik Iran-AS tidak akan menjadi pengulangan keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di Timur Tengah pada masa lalu.

AS Klaim Hancurkan 16 Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara selama konferensi pers di markas Komando Pusat AS (CENTCOM) di Pangkalan Angkatan Udara MacDill di Tampa, Florida, pada 5 Maret 2026. AFP/Octavio JONES
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menyerang sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia.

Komando Pusat AS atau US Central Command mengunggah video di platform media sosial X yang disebut menunjukkan sejumlah serangan tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak global melonjak di tengah kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi melalui selat strategis itu.

Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer AS di Iran pada Selasa waktu setempat. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa hari itu akan menjadi ‘hari paling intens’ dalam rangkaian serangan sejauh ini.

Seorang pejabat tinggi keamanan Iran menyatakan negaranya tidak gentar menghadapi apa yang ia sebut sebagai ‘ancaman tidak berarti’ dari Presiden AS, Donald Trump. Dalam pembaruan operasi militer di Departemen Pertahanan AS pada Selasa pagi, Hegseth menjelaskan bahwa tujuan Washington meliputi penghancuran persediaan rudal Iran, peluncur rudal, serta basis industri pertahanan negara tersebut. Selain itu, AS juga menargetkan penghancuran kekuatan angkatan laut Iran serta memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Ia juga mengatakan bahwa dalam 24 jam terakhir Iran menembakkan jumlah rudal paling sedikit sejak perang dimulai. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menambahkan bahwa serangan rudal balistik Iran terus menurun.

“Jumlahnya kini sekitar 90 persen lebih rendah dibandingkan saat awal konflik, dan serangan drone satu arah telah berkurang 83 persen sejak operasi dimulai,” ujarnya sebagaimana melansir dari BBC, Rabu (11/3/2026).

Hegseth tidak memberikan garis waktu kapan konflik akan berakhir. Ia hanya mengatakan bahwa pihaknya memiliki tekad yang tak terbatas, namun lamanya operasi akan ditentukan oleh presiden.

Ia juga menegaskan bahwa konflik ini tidak akan menjadi pengulangan keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di Timur Tengah pada masa lalu.

“Ini bukan tahun 2003,” kata Hegseth. “Ini bukan pembangunan negara tanpa akhir seperti yang pernah terjadi di bawah pemerintahan Bush atau Obama. Bahkan tidak mendekati itu. Generasi tentara kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, begitu pula presiden ini yang jelas-jelas berkampanye menentang misi militer tanpa batas seperti itu,” tambahnya.

Pentagon pada Selasa menyebut sekitar 140 personel militer AS terluka sejak perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari. Sebagian besar luka disebut tergolong ringan. Sebanyak 108 personel telah kembali bertugas, sementara delapan lainnya mengalami luka berat.

Tujuh prajurit AS dilaporkan tewas.

Di sisi lain, pejabat Iran menyatakan akan tetap melawan operasi militer tersebut. Pada Senin, Trump menulis di Truth Social bahwa Iran akan menghadapi serangan keras jika mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Pejabat keamanan senior Iran, Larijani, menanggapi ancaman itu dengan menyebutnya sebagai ancaman tidak berarti. Ia juga mengatakan bahwa bahkan pihak yang lebih kuat dari Trump tidak akan mampu menghapus bangsa Iran.

“Hati-hati, jangan sampai Anda yang terhapus,” kata Larijani.

Trump pun kembali melontarkan serangkaian peringatan melalui media sosial pada Selasa. Ia mengancam konsekuensi militer berat jika Iran menempatkan ranjau laut di jalur pelayaran tersebut, meski ia mengakui AS belum menerima laporan bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Namun, laporan CBS News menyebutkan bahwa aset intelijen AS meyakini Iran kemungkinan sedang mempersiapkan penempatan ranjau laut di Selat Hormuz. Trump kemudian mengatakan bahwa militer AS telah menyerang dan sepenuhnya menghancurkan sejumlah kapal penebar ranjau yang tidak aktif.

Di tengah eskalasi tersebut, Badan Energi Internasional menggelar pertemuan kedua dengan negara-negara G7 untuk membahas langkah menstabilkan pasar minyak global. Salah satu opsi yang dibicarakan adalah pelepasan jutaan barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggota.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan militer AS juga sedang membahas rencana untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal tanker minyak.

Sementara itu, di Iran, warga sipil dilaporkan diliputi kecemasan dan ketidakpastian mengenai perkembangan konflik. Organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran menyebut setidaknya 1.230 orang tewas di seluruh negeri sejak konflik dimulai.

“Saya berada dalam kegelapan total tadi malam,” kata seorang pria berusia 30-an dari Teheran, seraya menambahkan bahwa pemadaman listrik sementara dan gangguan daya terjadi di sejumlah wilayah.

Seorang pria berusia 20-an di ibu kota Iran juga mengaku rumahnya berada dekat lokasi serangan. “Saya merasa sangat buruk. Mereka menyerang jalan dekat rumah kami hari ini. Saya hanya ingin bisa tidur malam ini,” ujarnya.

Seorang warga lain bernama Amir, nama samaran untuk melindungi identitasnya, mengatakan kepada BBC Persian bahwa suara ledakan bom terdengar sangat keras hingga menggema di seluruh kota Teheran.

“Kami merasa kewalahan, cemas, dan kelelahan. Bayangan bahwa masa depan tidak jelas terasa semakin nyata,” katanya.

Di wilayah perbatasan Iran dengan Turki bagian timur, sejumlah warga yang melarikan diri dari zona konflik juga menceritakan ketakutan mereka menghadapi serangan rudal yang terus meningkat.

“Saat saya membuka pintu balkon, ledakannya begitu kuat sampai membuat saya terpental ke belakang,” kata seorang perempuan kepada BBC.

Pada hari-hari awal perang, ia mengatakan serangan terjadi sesekali. Kini, menurutnya, serangan datang dalam gelombang bertubi-tubi.

Baca juga artikel terkait KONFLIK IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher