Menuju konten utama

Apa Itu Pecah Pembuluh Darah Otak yang Dialami Indra Bekti?

Mengenal apa itu kondisi pecah pembuluh darah otak seperti yang dialami presenter Indra Bekti, mulai dari gejala hingga penyebab.

Apa Itu Pecah Pembuluh Darah Otak yang Dialami Indra Bekti?
Indra Bekti. instagram/indrabekti

tirto.id - Presenter sekaligus penyiar radio Indra Bekti dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi pada Rabu (28/12/2022).

Berdasarkan keterangan dari sahabat Bekti, Fitri Tropica atau Fitrop, presenter berusia 45 tahun itu diduga mengalami pecah pembuluh darah otak.

"Di kamar mandi tempat siaran tadi pagi pingsan dalam kondisi terduduk menyandar ke dinding. Penyebabnya diduga pecah pembuluh darah di area otak," tulis Fitri Tropica melalui Instagram pribadinya @Fitrop pada Rabu.

Akibat kondisi tersebut, Indra Bekti harus menjalani dua kali operasi di hari yang sama. Masih menurut keterangan dari Fitrop, dua operasi yang dilakukan Indra berjalan lancar dan dirinya saat ini sedang dalam masa pemulihan di ruang ICU RS Abdi Waluyo.

Kabar terbaru, Fitrop mengungkapkan bahwa kondisi Bekti saat ini stabil. Dokter bahkan sudah melepas alat bantu pernapasan atau ventilator yang Bekti gunakan.

"Info terkini dari Mas @Roymanella (manajer kak @Indrabekti) kondisi stabil. Ventilator sudah dilepas. Jam 10 para dokter ahli akan datang. Bismillah semoga dilancarkan. Aamiin," tulis Fitrop di Instagram Story hari ini, Kamis (29/12/2022).

Banyak orang yang khawatir dengan kondisi Indra Bekti, termasuk para penggemar dan masyarakat. Hal ini karena dirinya mengalami kondisi berbahaya parah yang disebut sebagai pecah pembuluh darah otak.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud kondisi pecah pembuluh darah otak?

Mengenal Kondisi Pecah Pembuluh Darah Otak

Pecah pembuluh darah otak dalam dunia medis dikenal juga sebagai aneurisma otak pecah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan bahwa setidaknya ada 500.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini.

Aneurisma otak merupakan kondisi di mana dinding pembuluh darah otak melebar atau menggelembung (ballooning). Hal ini bisa terjadi karena lemahnya dinding pembuluh darah tersebut.

Aneurisma berisiko bocor atau pecah yang mengakibatkan pendarahan ke otak. Kondisi pecahnya aneurisma disebut sebagai stroke hemoragik yang merupakan penyebab pendarahan subarachnoid.

Aneurisma yang pecah dapat berakibat fatal dan cepat mengancam jiwa sehingga membutuhkan perawatan medis segera.

Gejala Pecah Pembuluh Darah Otak atau Aneurisma Otak

Menurut Mayo Clinic, aneurisma pecah bisa dialami siapa saja, baik tua, muda, pria maupun wanita. Berikut gejala yang dapat dialami oleh orang-orang yang mengalami aneurisma pecah:

  • mengalami sakit kepala parah;
  • mual dan muntah;
  • leher kaku;
  • penglihatan kabur atau ganda;
  • kepekaan terhadap cahaya;
  • kejang-kejang;
  • kelopak mata yang terkulai;
  • penurunan kesadaran;
  • kebingungan.

Tidak semua aneurisma otak pecah dan menyebabkan masalah kesehatan. Kendati demikian, aneurisma yang diderita tanpa gejala tetap bisa pecah sewaktu-waktu bahkan tanpa peringatan.

Oleh karena itu penting untuk selalu melakukan pemeriksaan rutin agar dapat mendeteksi dini aneurisma otak. Selain itu, penting juga untuk mengenali tanda bahwa seseorang menderita aneurisma yang tidak pecah, termasuk:

  • nyeri di atas dan di belakang satu mata;
  • pupil melebar;
  • perubahan penglihatan atau penglihatan ganda;
  • mati rasa pada satu sisi wajah.

Penyebab Pecah Pembuluh Darah Otak atau Aneurisma Otak

Tidak ada penyebab pasti dari pecahnya pembuluh darah atau aneurisma otak. Namun, setidaknya ada beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi kondisi ini, termasuk:

  • berusia lebih tua;
  • kebiasaan merokok;
  • memiliki tekanan darah tinggi;
  • penyalahgunaan narkoba, khususnya kokain;
  • sering mengonsumsi alkohol;
  • pernah mengalami cedera kepala atau mengalami infeksi darah.

Selain faktor-faktor risiko di atas, aneurisma otak juga dapat terjadi akibat faktor bawaan lahir, termasuk:

  • kelainan jaringan ikat yang menyebabkan pembuluh darah penderitanya lemah;
  • mengalami penyakit ginjal polikistik, yaitu penyakit ginjal bawaan yang menyebabkan tekanan darah meningkat;
  • memiliki aorta sempit yang mengganggu sirkulasi darah dan oksigen;
  • malformasi arteriovenosa otak (AVM), yaitu kondisi di mana arteri dan vena di otak kusut sehingga mengganggu aliran darah;
  • memiliki keluarga yang memiliki riwayat aneurisma otak, misalnya orang tua, saudara kandung, atau anak kandung.

Baca juga artikel terkait INDRA BEKTI atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora