13 Juli 678

Aisyah binti Abu Bakar: Rawi Hadis dan Perpecahan Suni-Syiah

Ilustrasi Aisyah R.A. tirto.id/Rangga
Oleh: Muhammad Iqbal - 13 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Aisyah adalah istri Nabi Muhammad yang paling banyak meriwayatkan hadis. Ia mengobarkan perlawanan terhadap Ali bin Abu Thalib setelah Nabi Muhammad wafat.
Aisyah wafat pada Senin malam, 17 Ramadan 58 Hijriyah atau 13 Juli 678 Masehi, tepat hari ini 1342 tahun silam, saat melaksanakan salat sunah witir. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 57 H dalam usia 63 tahun dan sekian bulan.

Para sahabat Ansar berdatangan, bahkan tidak pernah ditemukan satu hari pun yang lebih banyak orang bertakziah daripada hari itu, sampai-sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan. Aisyah dikuburkan di permakaman Baqi’. Salat jenazahnya diimami Abu Hurairah dan Marwan bin Hakam yang saat itu adalah Gubernur Madinah.

Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satu istri Nabi Muhammad. Ia putri Abu Bakar (khalifah pertama), hasil dari pernikahan dengan isteri keduanya, yakni Ummi Ruman. Dalam tradisi Islam, Aisyah kerap dijuluki sebagai ummu al-mu'minin (ibu orang-orang Mukmin). Ia dikutip sebagai sumber otoritatif dari banyak hadis yang membicarakan kehidupan pribadi Nabi Muhammad.

Ia adalah satu-satunya istri Nabi Muhammad yang saat dinikahi berstatus perawan. Sedangkan istri-istri Nabi Muhammad yang lain adalah janda.

Aisyah dilahirkan empat atau lima tahun setelah Muhammad diutus menjadi Rasulullah. Ketika Abu Bakar merasa putrinya sudah cukup umur untuk dinikahkan, ia memilih Jubayr bin Mut’im. Tapi pernikahan tersebut batal. Ayah Jubair, Mut‘im bin ‘Adi, menolak Aisyah lantaran Abu Bakar telah memeluk Islam. Istri Mut’im bin Adi mengatakan tidak mau keluarganya mempunyai hubungan dengan kaum Muslim yang dapat menyebabkan Jubair berpindah ke agama baru itu.


Ditentang Kaum Syiah

Menurut Kecia Ali dalam The Lives of Muhammad (2014)—dengan mengutip pendapat ulama Tabari (juga menurut Hisham ibn ‘Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad)—Aisyah dipinang Rasulullah SAW pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada umur 9 tahun. Aisyah menjadi istri ketiga Nabi Muhammad setelah Khadijah dan Saudah binti Zam’ah.

Terdapat pelbagai silang pendapat mengenai pada umur berapa sebenarnya Nabi Muhammad menikahi Aisyah. Sebagian besar referensi (termasuk sahih Bukhari dan sahih Muslim) menyatakan bahwa upacara perkawinan tersebut terjadi ketika Aisyah berusia 6, dan ia diantarkan memasuki rumah tangga Nabi Muhammad sejak umur 9. Adapula pendapat pakar yang menyebut setidaknya Aisyah berumur 19 saat menikah dengan Nabi (hlm. 180-181).

Dalam bukunya, Women’s Rebellion & Islamic Memory (1996), Fatima Mernissi meneroka bahwa Aisyah menghasilkan hadis lebih banyak ketimbang Ali bin Abu Thalib. Ia mengutip pendapat Ibn Hajar, pengarang tujuh belas jilid Fath al-Bari, bahwa Ali hanya meriwayatkan 29 hadis, sementara Aisyah menyumbang 242 hadis.

Menurut Ibn Hajar pula, Fatimah tidak menyumbangkan apa-apa, meski ia adalah putri Nabi Muhammad dan istri Ali (hlm. 166).


infografik kronik ramadan aisyah

Kaum Syiah memberikan dukungan tanpa syarat kepada Ali dan karenanya mereka cenderung menentang Aisyah. Bahkan di era modern, ideolog Syiah termasyhur, Ali Syariati dari Iran berpendapat bahwa perempuan Muslim yang ideal adalah Fatimah, putri Rasulullah, yang tidak memainkan peranan politik yang nyata dalam Islam.

Bagi kaum Syiah, Aisyah adalah antimodel. Ia dicitrakan sebagai perempuan yang menyeramkan. Kaum perempuan, bagi kaum Syiah, harus berpuas diri seperti Fatimah, dengan menjadi ibu yang baik, anak perempuan yang baik, dan istri yang baik (hlm. 165-166).


Di Mesir, Sa’id al-Afghani menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk menulis biografi Aisyah. Dalam bab pendahuluan dan simpulannya, al-Afghani mengatakan bahwa dia melakukan hal itu untuk membuktikan bahwa kaum perempuan harus dihalangi dari kancah politik. Bukunya, Aisha and Politics (1971), merupakan suatu susunan yang sistematis dari seluruh karya konservatif mengenai kaum perempuan.

Aisyah menganjurkan pembangkangan, sementara dirinya sendiri memimpin pasukan ke medan perang sebagai penentang Khalifah Ali bin Abu Thalib pada 4 Desember 656 Masehi (36 Hijriah). Dengan tindakannya itu, menurut Charis Waddy dalam Wanita dalam Sejarah Islam (1987), Aisyah ikut membantu jatuhnya sang khalifah. Salah satu akibat pertentangan Ali-Aisyah adalah terpecahnya kaum Mukmin menjadi Syiah dan Sunni.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 1 Juni 2018 sebagai bagian dari rubrik "Kronik Ramadan". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ISLAM atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight