Ahok Versus Petugas Partai

Oleh: Arbi Sumandoyo - 3 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan belum memberi sinyal bakal mendukung Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Memang sudah ada satu nama yang disiapkan. Namun, hanya Megawati yang tahu siapa dia.
tirto.id - Ada Risma dan Ganjar, Calon Penantang Ahok

Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan belum memberi sinyal bakal mendukung Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Memang sudah ada satu nama yang disiapkan. Namun, hanya Megawati yang tahu siapa dia.

Bertepatan dengan hari meletupnya Kerusuhan 27 Juli atau Kudatuli, ada kesibukan di markas PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Pada hari itu, Megawati Soekarnoputri memimpin jajaran dewan pimpinan pusat membahas pelaksanaan Pilkada serentak yang bakal digelar pada Februari 2017.

Ada 101 daerah yang menjadi topik pembahasan. Namun, menurut Andreas Hugo Pariera, Ketua DPP PDIP, satu-satunya Pilkada yang tak dibahas oleh Megawati adalah Pilkada DKI Jakarta.

"Memang bukan agenda untuk membahas DKI. Ada 101 Pilkada di Indonesia. Yang sudah lengkap dengan materi pendukungnya, dibahas dan diputuskan. Kalau yang infonya belum cukup, ya ditunda," ujar Andreas kepada tirto.id, pada Sabtu (30/7/2016).

Sementara untuk Pilkada DKI Jakarta, menurut Andreas, partainya masih melakukan pemetaan dan penyaringan kandidat. Oleh sebab itu, PDIP sama sekali tak terpengaruh dengan keputusan Ahok yang memilih jalur dukungan partai politik. "Partai jalan dengan mekanisme dan proses yang berjalan. Tidak harus menunggu siapa-siapa. Kalau Pak Ahok mau ikut, ikutilah prosedur yang ada di partai," ujarnya.

Mengikuti prosedur dan mekanisme partai, sebenarnya juga sudah disampaikan Megawati secara langsung kepada Ahok saat semobil dalam perjalanan menuju perhelatan Partai Golkar, pada Kamis malam (28/7/2016). Persoalannya, Ahok sejauh ini memang belum bersedia mengikuti prosedur tersebut. “Tidak ada istilah minta daftar cagub ya,” kata Ahok.

Muncul Empat Nama

Kekuatan PDIP sebagai partai pemenang Pemilu 2014, termasuk untuk wilayah DKI Jakarta, tampaknya memang sangat penting bagi siapa saja bakal calon gubernur yang bakal maju dalam Pilkada 2017.

Berkekuatan 28 kursi di DPRD DKI Jakarta, PDIP memang bisa melenggang bebas buat mencalonkan jagonya tanpa harus berkoalisi dengan partai manapun. Maklum, syarat minimal agar lolos pencalonan hanyalah 21 kursi. Bandingkan dengan kekuatan tiga parpol pendukung Ahok yang hanya berkekuatan 24 kursi, yakni Golkar 9 kursi, Nasdem 5 kursi dan Hanura 10 kursi.

Pertanyaannya kemudian, siapa kandidat yang bakal diusung partainya wong cilik ini?

Menurut Andreas, ada empat nama kader potensial PDIP yang berpotesi dijagokan maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Yakni Djarot Saiful Hidayat (Wakil Gubernur DKI Jakarta), Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Boy Bernardi Sadikin (Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta).

Nama Djarot memang sudah hangat bakal dijagokan bakal diusung oleh PDIP. Awalnya, Djarot bakal disandingkan dengan Ahok. Namun, karena PDIP tak segera bersikap, Ahok pun memilih lewat jalur independen. Sebenarnya Ahok sempat mengajak Djarot untuk keluar dari PDIP untuk kemudian maju pencalonan. Sayangnya, Djarot menolak ajakan Ahok.

Selanjutnya ada Risma, yang belakangan muncul dan dinilai sebagai kader PDIP yang paling pas buat menantang Ahok. Namun beberapa kali, Wali Kota Surabaya itu menolak.

Terkait penolakan Risma, Eva Kusuma Sundari memiliki pendapat tersendiri. Jika memang nantinya PDIP memutuskan mengusung Risma menjadi calon gubernur DKI, dia harus siap. "Risma dan semua kader kandidat harus siap ditugaskan. Kan petugas partai," katanya.

Ada beberapa analisa yang membuka peluang Risma pada akhirnya bisa menerima instruksi Megawati untuk maju melawan Ahok. Pertama, Risma sudah dua periode menjabat Wali Kota Surabaya. Jika memang Risma berambisi untuk jabatan yang lebih tinggi, peluang menjadi Gubernur DKI Jakarta bisa sangat menggiurkan.

Sementara analisa kedua, majunya Risma bisa sangat menguntungkan bagi PDIP. Jika Risma maju ke Jakarta, maka Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana yang juga Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, bakal mengisi jabatan Wali Kota Surabaya. Seandainya Risma menang melawan Ahok dan menjadi gubernur, maka secara otomatis PDIP 'menguasai' Surabaya dan Jakarta, dua kota terbesar di negeri ini.



Ganjar Pranowo yang kini duduk sebagai Gubernur Jawa Tengah juga sempat disebut-sebut sebagai jago PDIP untuk Pilkada DKI Jakarta. Namun memang, namanya tak begitu kuat terdengar jika dibandingkan dengan Tri Rismaharini. Bahkan tak ada gerakan mendukung Ganjar, seperti munculnya dukungan untuk memboyong Risma ke Jakarta.

Satu nama lainnya yang muncul adalah Boy Sadikin, putera mantan mendiang Gubernur Ali Sadikin. Nama Boy memang sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat. Bahkan Boy sempat dicalonkan untuk melawan Fauzi Bowo dalam Pilkada 2012. Namun, dia mundur karena memilih menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Jokowi-Ahok.

Munculnya empat nama itu merupakan hasil penjaringan partai dari dukungan masyarakat. "Itu nama-nama yang muncul di masyarakat. Nanti DPP yang mempertimbangkan," ujar Hugo.

Sebenarnya, saat ini sudah ada satu nama yang sudah disodorkan kepada Ketua Umum Megawati. Namun nama itu masih akan tetap disimpan. "Pada waktunya diumumkan," katanya.

Jadi bagaimana peluang Ahok untuk mendapat dukungan PDIP? Eva Kusuma Sundari tak nenampik jika di internal partainya ada pihak-pihak yang mendukung Ahok, juga pihak-pihak yang berpandangan lain.

“Plus dan minus, sifatnya individual. Mesin partai menunggu nakhoda,” tegas Eva.

Maksudnya, kata kunci penentu siapa calon gubernur DKI Jakarta tetap berada di tangan Megawati Soekarnoputri, ketua umum sekaligus penentu mutlak setiap keputusan partai banteng.

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Kukuh Bhimo Nugroho
Artikel Lanjutan
DarkLight