Ada Apa di Balik Piyama Mahal?

Ilustrasi Piyama. foto/istockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 26 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Piyama jadi busana sehari-hari. Ini adalah dampak dari gaya hidup slow living.
“Istirahat itu sebuah kemewahan,” kata Christine Lafian, 33 tahun, pemilik SUKU Home yang menjual busana tidur dan perlengkapan (bedding set). Pendapat itu muncul pertama kali saat Christine masih jadi pekerja industri retail fesyen kala dirinya berusia awal 20-an.

“Karena kerjanya di toko jadi mesti berdiri dari jam 9 pagi sampai jam 8 atau 9 malam. Setelah itu nggak mau langsung pulang karena sebagai anak muda rasa fear of missing out masih tinggi banget. Akhirnya selesai kerja ya hangout sama teman-teman. Baru sampai rumah jam 2 pagi tidur, dan harus bangun dan siap-siap kerja lagi jam 6 pagi,” lanjut Christine.

Lama-lama perempuan yang merupakan perantau dari Makassar ini merasa lelah dengan rutinitas yang dijalani bertahun tahun dan lantas mencari ritme hidup yang lebih tenang juga sehat.

“Awalnya cuma mikir aku butuh ruang nyaman untuk diriku sendiri. Ruang untuk istirahat yang proper dengan perlengkapan yang nyaman. Maka dari itu aku bikin bedding set. Produksi di small workshop di Bali, karena diberitahu family friends kalau ada tempat produksi yang baik di sana,”

Bedding set kemudian menjadi barang dagangan Christine yang memutuskan untuk berhenti jadi pekerja retail dan membuka usaha seperti orangtuanya.


“Kurasa brand ini survive juga karena orang-orang di sini (Melbourne) tahun 2014 mulai aware dengan pola konsumsinya. Mereka mau tahu bagaimana barang itu dibuat dan dampaknya. Kita memang gak mungkin 100% sustainable karena the whole idea of consuming is not sustainable at all jadi yang kita bisa cuma meminimalisir dampak. Dalam kasus kami dengan produksi handmade (mulai dari pewarnaan kain, pembuatan motif), pakai material bambu rayon, dan memastikan tidak ada kain yang terbuang,” kata perempuan dengan latar belakang pendidikan desain grafis.

Tadinya sisa kain dijahit busana tidur, kemudian dijual dan jadi laris. Salah satunya karena tidak hanya bisa dipakai tidur tetapi bisa juga cocok dipakai beraktivitas di luar rumah lantaran motifnya menarik.

Busana tidur pun resmi jadi ekspansi usaha Christine. Pada 2016 Christine menjual busana tidur secara offline di Jakarta dan Bali dan mendapat respons positif lantaran melakukan pendekatan pemasaran yang personal : mendekati penggerak komunitas dan menyuarakan kisah mereka melalui jurnal.

“So finding comfort becomes the way of living.”

Serba Serbi Piyama Versatile

Seiring waktu produk busana tidur yang lebih versatile semakin mudah ditemui di pasaran. Terutama lewat media sosial.

Setidaknya ada dua fenomena besar yang melatari berkembangnya jenis busana tersebut pada beberapa tahun belakangan ini.

Pertama, maraknya piyama bisa dilihat sebagai salah satu dampak dari permasalahan manusia dengan kualitas tidurnya. Dalam The Sleep Revolution (2016), Arianna Huffington, menjabarkan bahwa berkurangnya kualitas tidur adalah permasalahan global yang semakin marak dialami sekitar 10 tahun terakhir. Huffington menampilkan hasil studi yang menyebut bahwa di Tokyo, Dubai, Singapura, Hong Kong, dan Las Vegas, rata-rata durasi tidur individu adalah enam jam per malam (seharusnya minimal tujuh jam).

Aktivitas tersebut kemudian berdampak pada industri retail kopi yang semakin marak, industri obat tidur yang menambah jumlah produksi, maupun industri minuman berenergi.



Penyebab menurunnya kualitas tidur ini beragam. Kondisi finansial yang memaksa orang lebih banyak bekerja, kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang kondusif, dan keinginan orang untuk selalu terkoneksi di dunia maya adalah beberapa penyebab.

Para pekerja keras kerap mengorbankan waktu tidur kerap kali demi kegiatan rekreasional lain seperti maraton film atau main media sosial. Pada satu sisi hal tersebut memang menghibur, namun sisi lainnya memberi efek yang kurang begitu baik bagi tubuh.

Fenomena burnout--yang dialami milenial di seluruh dunia--juga berperansini. Milenial yang merasa tertekan akibat adanya berbagai ekspektasi lingkungan sosial, lingkungan kerja, lingkungan lembaga pendidikan, serta tanggung jawab besar yang terasa sebagai beban bisa membuat seseorang merasa penat, mengalami gangguan kecemasan atau gangguan mental lain yang juga berefek pada permasalahan tidur.

Ini kemudian yang jadi penyebab munculnya kampanye untuk memperlambat ritme hidup (slow living) dan istilah joy of missing out. Kampanye-kampanye ini berharap orang tidak terlalu larut dalam ritme hidup yang begitu cepat dan bisa mengurangi rasa tertekan akibat ritme yang cepat itu. Wujudnya mulai dari detoks media sosial, makan makanan yang dimasak sendiri atau yang bahannya diambil dari tanaman hasil berkebun sendiri, melakukan yoga dan meditasi, menciptakan ruang untuk bersantai di rumah, hingga mengubah pola konsumsi.

Keberadaan busana tidur yang nyaman--yang diharapkan bisa membantu meningkatkan kualitas tidur--juga hadir dalam konteks tersebut. Pada abad ke-17 busana tidur dibuat dengan material katun, namun pada masa sekarang material tersebut berkembang dan berganti jadi bambu rayon atau rayon yang lebih lembut dan adem di kulit.


Kedua, masa pandemi memaksa hampir setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup slow living yang diharapkan bisa menghindarkan dari stres. Di sini keberadaan piyama yang tadinya sebetulnya hanya ditujukan untuk busana tidur, berubah jadi busana sehari-hari. Kasarnya, piyama pun mesti mampu membuat seseorang tampil gaya kala melakukan Zoom meeting di rumah.

Faktor kedua ini adalah alasan berkembangnya UKM yang fokus menjual busana tidur gaya di dalam negeri. Para pebisnis busana independen yang tadinya tidak membuat piyama pun jadi turut memproduksi sleepwear atau loungewear.

Hal itu juga disadari Cempaka Asriani dan Putri Andamdewi, pendiri Sare Studio yang dirintis pada 2015. Pada tahun itu, milenial di Indonesia belum menyadari konsep piyama sebagai busana sehari-hari. Inspirasi Cempaka muncul setelah ia pulang dari studi di London.



Di Inggris ia melihat orang-orang bisa melakukan aktivitas dengan piyama yang nyaman dikenakan sementara di Jakarta tidak demikian. “Waktu itu yang ada hanya piyama satin atau piyama bermotif kartun yang tidak nyaman dikenakan. Harganya sangat terjangkau. Atau ya piyama dari brand besar seperti Marks & Spencer,” ujarnya.

Ia berangkat dari kebutuhan itu dan merasa yakin milenial seusianya (30-an awal) bisa menerima konsep ini lantaran sebagian dari mereka juga orang-orang yang pernah studi di luar Indonesia dan mampu menangkap gaya hidup terkait piyama di negara barat.

“Yang jadi fokus utama adalah bahan. Dan memang pada perjalanannya, ada begitu banyak waktu yang kita habiskan untuk memastikan kualitas bahan. Ketebalan kain, kualitasnya ketika dicuci berkali-kali, durabilitasnya. Pastikan kalau benar-benar sleep proof,” ungkap Cempaka.


Jakarta adalah tempat di mana orang biasa tidur dan bermobilitas dengan kaus oblong dan daster. Butuh waktu agar publik bisa menerima produk piyama yang dijual dengan harga Rp300-400 ribu. Salah satu cara ‘edukasi’ yang cukup efektif adalah keikutsertaan dalam Brightspot Market--bazaar UKM lokal independen yang terkurasi.

“Karena pada dasarnya kami bukan menjual benda fesyen tapi lifestyle untuk supporting good life. Jadi yang kami lakukan adalah bikin acara misal kelas melukis atau kelas tentang pengetahuan tidur. Seperti itu.”

Selama masa pandemi Cempaka dan Andam bercerita bahwa pendapatan bisnis mereka naik 300% per bulan. Para pendiri Sare menganggap hal itu bisa juga terjadi karena semakin banyak orang yang ingin mencoba atau sudah merasakan pentingnya gaya hidup slow living.

Kini mereka sedang mematangkan konsep Sare di rumah shop di mana nantinya situs Sare juga akan memuat berbagai perangkat penunjang keseharian di rumah seperti peralatan memasak, perangkat minum teh, hingga permainan anak.

“Kita emang pasti tetap mengalami pace yang cepat seperti deadline, pressure kerjaan itu udah konsekuensi lah tapi kita cuma berusaha biar nggak tergulung dan terlalu menyatu dengan itu. Ya berusaha seimbangin,” tutur cempaka.

Baca juga artikel terkait FESYEN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight