200 Mutasi Genetik Berulang pada Virus Corona: Saatnya Berdamai?

Petugas membersihkan area terminal penumpang Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2020). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/aww.
Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ke depan, dunia akan menghadapi ancaman ganda gelombang dua pandemi COVID-19 dan epidemi flu.
Setiap orang memakai masker dan menjaga jarak. Di saku mereka selalu terselip sabun atau minimal hand sanitizer. Kafe dan pusat perbelanjaan beralih ke sistem daring, kita tak lagi bisa menjajal baju di butik atau sekadar ngopi di kedai favorit.

Bayangkan sebuah kehidupan baru yang akan kita jalani ke depan. Mungkin narasi di atas adalah gambarannya. Buang jauh-jauh rutinitas lalu ketika kita bisa beraktivitas bebas tanpa khawatir sakit. COVID-19 mungkin tak akan pernah lenyap dari dunia.

Cina sebagai negara pertama kasus COVID-19 sempat optimistis ketika mengumumkan nol kasus baru setelah tiga bulan bertarung melawan transmisi virus di negara mereka. Provinsi Hubei mengakhiri pembatasan pada 25 Maret, menyusul Wuhan yang akhirnya ikut mencabut kuncitara pada 8 April.

Rakyat Cina dalam beragam rekam gambar yang tersiar di media sosial nampak bersuka cita. Pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata pun mulai dibuka. Harapan bahwa pandemi segera berakhir nampaknya sudah di depan mata. Seluruh media mengabarkan bahwa negara tersebut telah berhasil mengendalikan wabah.

Sampai kemudian kasus baru kembali terdeteksi di wilayah timur laut Cina, dan lagi-lagi di pusat kota Wuhan. Kekhawatiran terhadap gelombang wabah kedua muncul dari kasus impor. Provinsi Heilongjiang jadi gerbang masuk para pelancong dari perbatasan Rusia yang ternyata menjadi pusat penyebaran kasus baru tanpa gejala.

“Mayoritas ... Orang Cina masih rentan terhadap infeksi COVID-19, karena kurangnya kekebalan,” ujar Zhong Nanshan, penasihat medis senior pemerintah Cina.


Dengan alasan itulah Zhong memperkirakan risiko wabah gelombang dua di masa depan. Orang-orang tanpa gejala--yang baru masuk ke Cina--sangat mungkin menjadi penular di lingkungan sekitar. Pola serupa Cina ditemukan juga di negara lain seperti Korea Selatan dan Singapura, tak lama pasca-pelonggaran kuncitara.

Korsel mencatat 35 kasus baru pada 10 Mei kemarin, angka tertinggi sejak 9 April. The Korea Herald mewartakan belasan orang terinfeksi dari satu orang yang pergi ke lima klub dan bar di Itaewon. Sementara Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit Korea Selatan mengonfirmasi 27 kasus terlacak dari pengunjung di klub daerah tersebut.

Kemudian Singapura pada 20 April lalu menemukan sekitar 1.400-an kasus baru. Jumlah tersebut menjadi angka harian tertinggi sejak kasus pertama Singapura dilaporkan pada 23 Januari. Kluster ini muncul di wilayah asrama pekerja asing di bidang konstruksi yang sebagian berasal dari Bangladesh dan India.

Bersiap Menghadapi Gelombang Kedua

Dengan hilangnya ratusan ribu nyawa dan jutaan orang terinfeksi di dunia, apakah gambaran pandemi COVID-19 saat ini sudah cukup mengerikan bagi kalian?

Bukannya menebar ketakutan, tapi kita memang perlu bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk nantinya. Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) sudah memprediksi datangnya gelombang kedua wabah yang lebih berbahaya dan sulit dihadapi.

“Kita akan menghadapi epidemi flu dan corona dalam satu waktu karena gelombang kedua COVID-19 berbarengan dengan musim flu di seluruh dunia,” ungkap Direktur CDC Robert Redfield dalam wawancara bersama CNN.

Sebagai gambaran, Flu Spanyol yang terjadi pada periode 1918-1920 menciptakan gelombang dua yang lebih dahsyat pada musim gugur dan musim dingin. Lebih dari 50 juta nyawa melayang gara-gara pandemi ini. Kemudian pandemi influenza H1N1 (2009) juga meningkat menjelang musim dingin atau pasca-musim kemarau negara tropis.


Sejauh ini transmisi COVID-19 di dunia masih dikatakan tinggi. Virus ini rata-rata memiliki reproduksi R mencapai tiga. “R” adalah acuan angka penular, semakin tinggi “R” maka semakin banyak orang yang bisa tertular. Satu orang terinfeksi COVID-19 bisa mentransmisi virus ke 2-3 orang. Untuk perbandingan, flu biasa menginfeksi sekitar 1,3 orang saja.

Tingkat penularan penyakit baru dianggap terkendali jika angka reproduksinya berada di bawah satu. Jakarta pada Maret 2020 memiliki angka reproduksi mencapai empat. Per 17 Mei, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengumumkan angka tersebut turun di kisaran 1,11 akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).



Tapi tetap saja transmisi COVID-19 di Jakarta belum bisa dibilang terkendali. Itu gambaran singkat Jakarta sebagai zona merah yang memiliki kajian algoritma COVID-19 secara memadai, entah wilayah lain. Di negara kita data fluktuasi COVID-19 antar-pemerintah daerah dengan pusat saja bisa berbeda.

Ditambah belakangan ada pergerakan besar-besaran pemudik serta serbuan masyarakat di mal dan pusat perbelanjaan. Layaknya negara lain, Indonesia mungkin akan menghadapi gelombang kedua wabah COVID-19. Apalagi sebentar lagi PSBB akan dilonggarkan dan aktivitas perekonomian mulai berjalan sebagaimana hari biasa.

Bedanya jika kurva infeksi baru negara lain seperti Cina, Korea Selatan, dan Singapura sempat melandai, Indonesia masih merangkak naik. Ketika negara-negara tersebut memiliki fasilitas kesehatan memadai, Indonesia masih kelimpungan melakukan tes COVID-19 secara menyeluruh.

Jangan lupa, pemerintah kita juga berbeda, tak cuma soal data, tapi juga kebijakan yang tidak selaras. Maka tak perlu kaget ketika nanti Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus baru yang lebih dahsyat dari yang sudah-sudah.


Berdamai dengan COVID-19?

Alih-alih berharap pandemi COVID-19 segera berakhir, COVID-19 menjelma sebagai kenormalan anyar. Meski saat ini sudah ada delapan calon vaksin yang masuk uji coba pada manusia, dan seratusan lainnya di tahap uji hewan coba, namun peneliti menghadapi banyak rintangan. Studi UCL Genetics Institute terbitan jurnal Infection, Genetics, and Evolution mengidentifikasi hampir 200 mutasi genetik berulang pada SARS-CoV-2.

Virus corona baru terus beradaptasi, dan vaksin penawar harus dibuat agar mampu mengatasi perubahan virus. Jika pada akhirnya vaksin berhasil diciptakan, Direktur Kedaruratan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan berujar dunia tetap butuh upaya serius mencegah penularan. Vaksin tidak menjamin seluruh penduduk bumi terlindung dari COVID-19.

“Virus ini mungkin akan jadi penyakit endemik pada komunitas manusia seperti HIV yang tidak pernah hilang,” katanya seperti dilansir dari Guardian.

Layaknya campak, meski vaksinnya sudah ada masih banyak anak di dunia terkena penyakit ini akibat tidak mendapat vaksinasi. Karenanya untuk mengontrol COVID-19 dalam jangka panjang, vaksin harus didistribusikan merata ke seluruh dunia.

“Saya tidak membandingkan kedua penyakit itu, ... Saya kira, siapa pun tidak bisa memprediksi kapan penyakit ini hilang,” lanjut Ryan.

Baca juga artikel terkait NEW NORMAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight