23 April 2003

Yoga Sugama, Raja Intel Jebolan Akmil Jepang

Ilustrasi Yoga Sugama (1925-2003). tirto.id/Gery
Oleh: Petrik Matanasi - 23 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Mata-mata yang
digdaya. Rahasia
langgeng kuasa.
Setelah latihan lapangan, taruna di Rikugun Shikan Gakko (Akademi Militer) Tokyo diperintahkan kembali ke asrama mereka. Saat itu pertengahan Agustus 1945, Nagasaki dan Hiroshima telah luluh lantak oleh bom atom.

“Mereka [para taruna] diharuskan mengganti seragam khusus, menggosok sepatu hingga mengkilap. Perintah yang mereka terima adalah, segera mengenakan seragam nomor 3 (yang hanya dikenakan di pada upacara penting) dan berbaris,” tulis buku Memoar Jenderal Yoga (1990). “Tak ada yang berani bertanya-tanya.”

Ada yang mengira Tenno Heika (Kaisar Jepang) akan berkunjung. Namun rupanya mereka hanya disuruh mendengar pidato Sang Kaisar.

Beberapa kota di Jepang masih mendapat serangan udara. Tinggal di Jepang di masa itu, bagi para taruna yang berasal dari Indonesia, bukanlah hal menyenangkan. Yoga Sugama adalah salah satunya. Ia berangkat belajar di Akademi Militer Jepang setelah lolos seleksi pada 1942. Yoga termasuk 20 orang yang lulus untuk sekolah ke Jepang. Semua yang lolos itu dibebaskan memilih akan sekolah di mana.

Yoga memilih Akademi Militer setelah dari sekolah pertanian. Sebelum berangkat, mereka dikumpulkan di asrama yang kini merupakan Asrama Polisi Militer Guntur, Jakarta, dan tak boleh bertemu siapapun di sana. “Mereka mengikuti latihan dasar selama beberapa bulan sebelum berangkat. Selain itu, pengetahuan bahasa Jepang juga menjadi pelajaran wajib.” Latihan fisik itu berupa baris-berbaris, lari, dan hal dasar militer lainnya.

Baca:

Hidup mereka selama menjadi taruna di sana sangat ketat. Tak bisa sembarangan bertandang dan macam-macam. Polisi Militer Jepang mengawasi mereka. Pada 1943, taruna asal Indonesia pernah didatangi Sukarno dan Hatta. “Bagus. Teruskan pendidikan kalian, sebab nanti akan berguna bagi perjuangan bangsa,” pesan Sukarno seperti diingat Yoga.


Jelang masuknya pasukan sekutu, kehidupan di Tokyo makin sulit. Yoga pun memilih bekerja seperti kawan-kawannya. Karena sedikit tentara sekutu yang bisa berbahasa Jepang, ada lowongan menjadi penerjemah militer. Yoga diterima dan ditempatkan di Departemen Penyelidikan urusan Kriminal Perang.

Mengenai jalannya Perang Pasifik, Yoga tak punya gambaran jelas karena sensor pemerintah militer bekerja menangkal berita yang tidak diinginkan. Termasuk warta soal kekalahan Jepang. Setelah tak mendapat pelajaran lagi dari Akademi Militer yang mengaturnya untuk tahu banyak soal yang terjadi pada Jepang di akhir perang itu, Yoga akhirnya menyaksikan reruntuhan kota Hiroshima.

Seorang kawan Yoga Sugama yang bernama Suroso, asal Jakarta, terluka dan meninggal dunia di tengah serangan-serangan udara ketika pesawat pemburu sekutu, Cocor Merah, menembaki kota.

Yoga kembali ke Indonesia dengan kapal Johan van Olden Barneveld milik Java China Japan Lijn, sekitar 1946-1947. Setelah kembali, ia bekerja di Kementerian Pertahanan bagian intelijen, Bagian V. Pangkat pertamanya adalah letnan.


Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD? (1989), Yoga pernah bertugas di sekitar Banyumas, di satuan Brigade Gunung Jati.

“Yoga menghabiskan sebagian besar waktunya selama 1950-an dan awal 1960-an sebagai perwira intelijen yang bertanggungjawab kepada Suharto sebagai Panglima di Komando Daerah Militer Jawa Tengah,” tulis Ken Conboy dalam Intel: Menguak Takbir Dunia Intelijen Indonesia (2007)

Menurut Joyce Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1989), selain Yoga, ada nama Umar Tusin. “Sejak perang telah meninggalkan kemiliterannya dan menjadi tokoh masyarakat yang utama dan pedagang yang berdagang dengan Jepang,” Joyce menulis soal Tusin.

O.G. Roeder dalam Who's Who in Indonesia: Biographies of Prominent Indonesia Personalities in all Field (1971) mencatat Omar Tusin sebagai anggota partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan konsultan teknik di Jakarta. Selain sedikit buku itu, Omar Tusin tak banyak dicatat .




Pemuda lain yang ikut dikirim ke Akademi Militer Tokyo yang kesohor adalah Hassan Shadily. Menurut catatan majalah bulanan Intisari (April-1987), Hassan sebenarnya ingin belajar ilmu-ilmu sosial. Namun, nyatanya dia belajar di Akademi Militer. Dia datang tahun 1944, setahun setelah Yoga. Mereka sama-sama tak sempat lulus di Akademi Militer karena perang keburu selesai dan militer Jepang dikebiri sekutu setelahnya.

Mereka juga sama-sama pernah jadi penerjemah pasukan sekutu dan pulang ke Indonesia sekitar 1946-1947. Setelah kembali ke Indonesia, dia jadi pengajar dan pegawai. Setelah sekolah lagi di Cornell, dia bertemu Profesor John Echols dan menjadi penyusun kamus bahasa Inggris-Indonesia yang kesohor itu.


Meski terbilang prestisius daripada pusat pelatihan perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, jebolan Akademi Militer Tokyo bisa dibilang tak secemerlang bekas perwira PETA yang dididik di Bogor. Contoh-contoh jebolan PETA adalah Soedirman, Ahmad Yani, dan tentu saja Soeharto.

Dari belasan orang Indonesia yang dikirim untuk menjadi taruna, hanya Yoga Sugama yang karirnya cemerlang sebagai perwira tinggi. Dia jadi mayor jenderal yang mengepalai Badan Kordinasi Intelijen (Bakin) di masa Orde Baru.

Yoga Sugama meninggal pada 23 April 2003, tepat hari ini 15 tahun lalu. Sebelum Benny Moerdani muncul sebagai orang paling kuat di dunia intelijen, Yoga lah yang paling layak disemati julukan "raja intel".

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight